Malia

“Hai,” sapaku ragu. Gadis kurus berambut panjang itu seperti tidak mendengar sapaanku. Matanya yang selalu terlihat sedih tetap lurus menatap lautan luas di depan kami, rambutnya menari lembut berdansa dengan angin senja.

“Kenapa kau selalu mengikutiku?” Hatiku mencelos. Jadi selama ini dia tahu?

“Maaf, aku tidak bermaksud….”

“Pergilah!” potongnya cepat, masih tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Aku bergeming. Aku tidak akan pergi, meski dia meneriakiku sebagai pencopet atau apapun, tidak setelah apa yang kulihat hendak dilakukannya kemarin malam.

“Tidak, aku tidak akan pergi.”

“Kenapa?”

“Apakah pistol kecil itu masih ada di dalam tasmu?”

“Memangnya siapa kamu? Apa pedulimu?” cecarnya bertubi-tubi, terusik. Kali ini matanya menantang mataku, kedua bola mata bening itu menatapku beberapa detik tanpa berkedip, berkali-kali kulihat mata itu menangis tanpa ratapan, padahal matanya begitu indah, seharusnya pelangi yang ada di sana, bukan air mata. Tangan kirinya menggenggam tas selempang bermotif batik bali kecil di pinggangnya erat-erat. Pistol itu masih ada di sana rupanya.

“Kau bisa memanggilku Gun.”

“Aku tidak peduli namamu siapa?!” bentak gadis itu kasar, kakiku reflek melangkah mundur saat mendengarnya. Matanya menyipit menatapku penuh kebencian, rahangnya mengeras, napasnya cepat dan tangan kanannya terkepal. Gadis cantik di depanku ini sepertinya menjelang gila.

“Oke, tenang dulu, Nona.”

“Namaku Malia, dan aku tidak gila.” Oh? Gadis kurus bermata bening ini semakin menarik saja di mataku. Apakah dia bisa membaca pikiranku?

“Kau pernah datang ke The Bay Bali sebelumnya, Malia?” tanyaku santai. Maksudku, aku berupaya sekuat tenaga untuk terlihat santai. Bagaimanapun, di tasnya ada sebuah pistol berpeluru. Jika kemarin malam gadis itu batal menembak dirinya sendiri, siapa yang bisa menjamin sore ini peluru itu akan bersarang di tubuhku atau tidak?

“Kenapa kau ingin tahu?” jawabnya ketus, lantas duduk di atas pasir, mencopot sandal jepitnya, lalu menyelonjorkan kakinya yang panjang. Tangan kirinya masih memegang si tas selempang –berisi pistol- yang kini berada di pangkuannya, sementara tangan kanannya diletakkan begitu saja di atas pasir. Saat itulah aku melihat sebuah cincin bermata berlian di jari manisnya. Ternyata Malia adalah seorang perempuan, di mana lelakinya?

Ragu, aku ikut duduk di sampingnya diam-diam.

“Aku cukup sering ke sini.”

So?” Gadis itu, ralat, perempuan itu menanggapiku ogah-ogahan, tak peduli.

“Nusa Dua memiliki pantai yang indah, dan The Bay Bali melengkapi keindahan itu dengan nyaris sempurna, membuatku ingin datang lagi dan lagi,” kataku panjang lebar, entah Malia menyimak perkataanku atau tidak.

Aku melanjutkan ocehanku meski dia diam saja.

“Aku mencintai Ocean Walk dengan dinding-dinding batu menakjubkan itu, tak mungkin bosan berjalan kaki menikmatinya. Kau juga suka berjalan di lorong itu, kan? Aku pernah melihatmu berjalan di sana berlama-lama.”

Malia tetap geming.

“Kau pernah mencoba bebek bengil dengan sambal matahnya yang maknyus, Malia? Atau seafood super yummy di Pirates Bay? Aku juga suka sekali makan di Hong Xing dengan panorama pantai yang bisa langsung terlihat saat kita makan di sana.” Malia menoleh ke arahku, mata beningnya berkata apa-yang-sedang-kau-bicarakan itu menatapku dalam diam.

Ya, apa yang sedang aku bicarakan? Sudah jelas kehadiranku tidak dia harapkan, Malia sudah mengusirku sejak tadi, dan aku malah mengajaknya mengobrol tentang kuliner? Aku merasa konyol. Sedikit salah tingkah dan akhirnya ikut terdiam.

“Kau pernah mencintai seseorang, Gun?” Nah, aku terselamatkan oleh pertanyaan Malia yang tak terduga.

“Mmm…well…” aku enggan menjawab, aku menyukai perempuan tentu saja, tapi aku merasa tidak perlu berkomitmen terlalu jauh untuk hanya mencintai satu perempuan dan menjadikannya sebagai kekasih, apalagi istri. Tak perlulah hal semacam itu aku ceritakan pada Malia. Maka sepertinya aku belum punya kapasitas menjawab pertanyaan Malia.

Dan jeda yang canggung datang. Tak ada yang berkata-kata di antara kami berdua, hanya deburan lembut ombak dan suara senja semata.

Malia memang perempuan yang menarik, di detik pertama aku melihatnya, dia seperti memiliki magnet rahasia yang membuatku terus tertarik ke arahnya. Mungkin rambut hitam lurusnya, mungkin kaki indahnya yang jenjang, mungkin karena mata bening sendunya yang seringkali kulihat menangis, entahlah. Apapun itu, sesuatu dalam diri Malia sanggup membuatku nekat mengikuti semua gerak geraknya dari jauh sejak dia datang tiga hari lalu, bahkan memberanikan diri menyapanya sore ini hanya karena penasaran kenapa dia ingin mengakhiri hidupnya sendiri.

“Kau benar, Gun, kemarin malam aku ingin mati,” katanya lagi, lantas mengeluarkan pistol kecil itu dari dalam tasnya. Membuatku menelan ludah dengan susah payah, apalagi saat Malia memasukkan moncong pistol ke dalam mulutnya, jari telunjuknya sudah siap menarik pelatuk, membuatku begidik ngeri. Semua manusia di muka bumi pasti mati, kenapa harus membuatnya terjadi lebih cepat segala? Sangat tidak masuk akal.

Untunglah Malia mengeluarkannya lagi, dan kini menatap si pistol yang dia letakkan di telapak tangan kanannya yang berpasir, mengamati setiap detilnya dengan cermat, seolah pistol itu adalah benda asing yang baru saja menarik minatnya.

Aku menunggu Malia melanjutkan kalimatnya dalam diam. Meski aku ragu Malia akan bercerita lebih jauh, bagaimana pun, aku adalah orang yang sangat asing baginya, dia tidak mengenalku sama seperti aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Tapi mungkin itu justru bagus, orang-orang terdekat kita terkadang terlalu menghakimi karena merasa sudah mengenal kita selama hidupnya. Pada seseorang asing yang baru kau temui, kau bisa bercerita apapun tanpa khawatir dihakimi ini itu, toh kau mungkin saja tak akan pernah bertemu dengannya lagi.

“Apakah kau bahagia, Gun?” Ah, kenapa dia bertanya padaku lagi? Seharusnya dia bercerita saja, tentang seseorang yang dicintainya, atau tentang kenapa dia ingin mengakhiri hidup, atau tentang cincin yang melingkar di jari manisnya, mungkin?

“Aku pikir aku bahagia saat lelaki itu berkata dia mencintaiku dan ingin menikahiku, Gun.” Malia menjawab pertanyaannya sendiri. “Tapi rupanya mencintai, dan kemudian dicintai orang yang mencintaimu, tidak selalu bisa membuatmu bahagia.”

Selingkuh? Apakah lelaki Malia memilih perempuan lain selain dirinya dan membatalkan pernikahan mereka? Kurang ajar! Sebentar, kenapa aku harus merasa begitu marah?

“Aku seperti bukan Malia, bukan diriku yang dulu, bukan Malia yang aku hormati dan aku cintai, saat bersamanya, Gun.”

“Maksudmu?” Aku tidak mengerti. Perselingkuhan atau cinta yang terbagi masih lebih mudah aku pahami. Tapi yang barusan dikatakan Malia, terdengar absurd bagi telingaku. Bagaimana seseorang bisa mengubah seseorang yang lain menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri atas nama cinta? Bah!

“Aku mencintainya, Gun. Tapi sepertinya dia mencintai Malia yang bukan aku.” Errrr…membingungkan.

“Tapi aku juga ingin bahagia, aku ingin lebih mencintai diriku sendiri.”

“Jadi?” tanyaku masih tak mengerti. Bisa disimpulkan Malia kecewa terhadap kekasihnya, atau suaminya? (Aku harus mengkonfirmasi soal kekasih versus suami ini padanya nanti). Lantas dia memilih pergi dari lelaki itu, yang walaupun mencintai Malia dan Malia mencintainya, tidak membuat Malia bahagia karena dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri saat bersamanya. Tapi kenapa Malia ingin mengakhiri hidup?

“Aku tahu, Gun, ini adalah kesalahan bodoh,” ujarnya seraya menunjuk si pistol yang masih betah berada di telapak tangan kanannya. “Buanglah pistol ini untukku, dan ini juga,” pintanya seraya menarik tangan kiriku dan meletakkan pistol itu tanpa persetujuanku. Lantas mengeluarkan cincin dari jari manisnya dan meletakkan benda itu juga di tanganku, bersebelahan dengan si pistol yang sudah ada di sana lebih dulu.

Aku belum pernah memegang pistol semacam ini, benda kecil dingin itu membuatku merasa entah. Antara lega sekaligus khawatir si pistol bisa meletus sendiri. Tapi ternyata cincin itu yang membuatku lebih takut, seolah semua gadis yang pernah aku pacari bersatu berkumpul pada benda kecil berkilau itu, menuntutku untuk memilih satu di antara mereka dan bersumpah mencintainya hingga penghujung usia. Haha, paranoid yang konyol. Aku meletakkan pistol dan cincin di atas pasir dengan hati-hati. Lantas menatap Malia yang kini terlihat damai, memandang senja yang perlahan menjingga dengan senyuman.

 “Jadi? Kau tidak akan membunuh dirimu sendiri?”

 “Tidak, Gun. Tidak hari ini, atau kapanpun. Aku akan mati sendiri, dengan cara apapun yang sudah Tuhan putuskan untukku.” Jawaban yang sangat memuaskan, begitulah seharusnya, perempuan secantik Malia seharusnya mati dalam damai.

“Apakah kau masih akan mencintai seseorang?”

“Nanti, mungkin suatu hari nanti, Gun. Mencintai dan dicintai itu rumit, kau tahu? Tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik dan benar.” Aku tertawa tanpa suara mendengarnya. Aneh sekali menerima petuah semacam itu dari seorang perempuan yang nyaris menghabisi nyawanya sendiri karena cinta. Tapi mungkin aku pantas dinasehati demikian, karena selama ini aku tidak –atau belum (?)- bisa mencintai dan dicintai dengan baik dan benar.

“Bagaimana dengan bahagia? Apakah kau bahagia, Malia?” tanyaku lagi.

“Ya, aku bahagia, Gun. Walaupun apapun, seharusnya memang tidak diperlukan syarat apapun untuk bahagia, bukan? Maka aku bahagia, Gun. Period.” Malia tersenyum, manis sekali, seolah semesta ikut merayakan kebahagiaan yang baru saja diputuskannya. Seseorang yang bahagia menjadi dirinya sendiri akan selalu bahagia dalam keadaan apapun. Pertanyaanku tentang kekasih atau suami itu rasanya tidak penting lagi. Aku ikut tersenyum bersamanya.

Tapi, ada perasaan asing yang aneh menyelusup ke dalam hatiku, menjalar hangat ke setiap sel di seluruh tubuhku saat kulihat senyum Malia yang masih sehangat matahari senja di sampingku.

Hei, apakah aku jatuh cinta pada seorang Malia?

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

About these ads

13 thoughts on “Malia

  1. Tumbenan cerpennya panjang Mbak.. gak papa tapi bagus kok, biar panjang sukses kubaca sampai tamat hehe..
    Sayang, andai saja ‘suatu hari’nya Malia bisa diubah sekarang, pasti mereka sudah bahagia.. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s