[Berani Cerita #38] Doa Pagi

December 3, 2013 § 11 Comments

“Kak, kok tumben kita ke pasar?”

Si Adik menatap hiruk pikuk di depannya. Penjual dan pembeli. Barang dagangan beraneka rupa. Keramaian yang berbeda. Dia belum terbiasa.

“Mengamen di lampu merah sekarang lebih sulit, Dik.”

“Iya juga sih, Kak.”

“Hari ini kita coba ngamen di pasar ya, Dik. Mudah-mudahan bisa lumayan hasilnya.”

“Kenapa orang-orang akhir-akhir ini enggan memberikan recehannya pada kita, Kak?”

“Mungkin, karena ada pengemis yang penghasilannya 25 juta sebulan, Dik.”

“25 juta itu segimana, Kak?”

Si Kakak tersenyum, menggelengkan kepala dan mengedikkan bahu, tidak tahu dan tidak bisa membayangkan uang sebanyak itu.

“Pokoknya banyak, Dik.”

“Terus?”

“Yaa… jadi orang-orang tidak mau lagi memberi kita recehan.”

“Karena menganggap pengemis sudah kaya?”

“Iya.”

“Tapi kan kita pengamen, Kak, bukan pengemis.”

“Iya, Dik. Tapi mungkin dianggap sama.”

“Kita juga betul-betul miskin, ngga punya orang tua, susah…”

“Sudah, Dik, tidak baik mengeluh begitu.”

Si adik terdiam, murung. Si Kakak tersenyum, pedih. Perlahan, diusapnya kepala sang adik dalam diam. Untuk beberapa saat, keduanya bergeming di pintu masuk pasar.

“Jadi sekarang kita ngamen di pasar nih, Kak?”

“Iya, Dik, itung-itung ganti suasana.”

Si Kakak tergelak, si Adik ikutan terbahak.

“Tapi Kak, yakin bisa dapet banyak?”

“Belum tahu, Dik. Tapi yang penting kita coba dulu.”

“Tapi sepertinya aku ngga kuat ngamen di pasar, Kak.”

Si Kakak menghentikan langkahnya, kembali pada si Adik yang tengah berdiri mematung di depan penjual martabak.

“Dik? Mau martabak?” tanya si Kakak pelan-pelan.

“Maaf ya, Kak, belum apa-apa sudah tergoda,” bisik si Adik samar, merasa bersalah.

Lantas keduanya cekikikan, menatap sang martabak hangat nan semerbak, untuk kemudian beranjak dari sana dengan kecrekan dan bungkus bekas permen di tangan. Sebaris doa pagi teruntai ke langit, berharap di pasar ini bisa membuat mereka bertahan sehari lagi. Atau setidaknya, sang martabak hangat nan semerbak bisa terbeli siang nanti.

Note : 292 kata, sila klik bannernya untuk ikutan Berani Cerita yaa ;)

About these ads

Tagged: ,

§ 11 Responses to [Berani Cerita #38] Doa Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [Berani Cerita #38] Doa Pagi at Rindrianie's Blog.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,144 other followers

%d bloggers like this: