[BeraniCerita #2] Jalan Berkabut
February 9, 2013 § 30 Comments
Anisa
Suara klakson bertubi-tubi menghentikan lamunanku seketika. Halte itu kosong, hanya aku yang duduk di sana satu jam terakhir, mengabaikan kopaja-metromini-angkot-taksi yang berseliweran. Maka saat Juke putih itu mengklakson, aku tak menyangka ternyata dialamatkan untukku.
“Nis…” kaca jendela mobil terbuka sepenuhnya, ternyata Joshua. “Cepeten naik.” Klakson-klakson lain mulai menyalak, aku tak punya pilihan lain.
“Ganti mobil lagi Jo?”
“He-eh.” Jawabnya pendek, khas seorang Joshua.
Jeda yang canggung. Bagi Jo, berganti mobil semudah berganti kaos kaki. Sementara aku? Seharusnya tadi aku tak perlu naik..
-o-
Joshua
“Lo kenapa?”
“Kenapa apanya Jo?”
“Lagi ada masalah?”
“Gue seperti buku terbuka yang mudah dibaca buat lo ya?” Pertanyaan retorik yang tak perlu jawaban. Aku hanya diam menunggu, menanti lampu merah berkedip hijau, menanti Anisa bercerita. “Gue dipecat Jo…”
Detik berikutnya Anisa terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, sekuat tenaga menahan diri hingga tubuhnya terguncang. Tak ada yang bisa aku lakukan, selain menyodorkan berlembar-lembar tissue ke arahnya.
-o-
Anisa
Entah kali ke berapa aku menangis seperti ini di depan Jo.
“Lo pasti bisa dapet kerjaan lain Nis.”
“Lo ngga kepengen tau kenapa gue dipecat Jo?”
“Gue yakin itu bukan salah lo.” Hanya Jo yang mempercayaiku seperti itu.
Kami berhenti di lampu merah ke sekian, Jo kini menatapku yang sedang memandangnya, “Lo harus yakin lo pasti bisa dapet kerja lagi, lo masih bisa ngirimin uang ke nyokap buat biaya sekolah adek-adek lo, lo masih bisa nabung buat nerusin kuliah kayak impian lo. Lo pasti bisa Nis!”
Aku tahu, mungkin itu nasehat klise, tapi Jo tulus, dia selalu ada saat aku membutuhkannya, dia seperti tiang tempatku bersandar, dia adalah bahu untuk aku tangisi. Seandainya saja dia…
-0-
Joshua
“Tengkyu Jo…” ucapnya setelah sekian detik berlalu dalam sunyi.
Aku tersenyum sekilas, lega rasanya bisa membuat gadis ini kembali sedikit ceria, seperti seharusnya. “Stel radio ya…” ucapnya riang, musik selalu membuatnya gembira. Aku hanya mengangguk. Aku akan mengizinkan dia melakukan apapun yang dia inginkan.
“Lo ga pulang ke Surabaya?” di antara suara Buble melagukan ‘Home’, dia bertanya.
“Ngapain?”
“Besok kan imlek..” Ah, pertanyaan retorik berikutnya. Maka aku hanya terdiam. Aku ingin pulang padamu Nis, rasanya ingin aku mengucap kalimat itu. Aku tahu dia pun merasakan hal yang sama denganku, aku yakin dia pun bersedia menjadi rumah bagiku, aku…
-o-
Anisa
“Males…” ucap Jo akhirnya. Seperti yang sudah kuduga.
“Sampai kapan lo begitu Jo?” Lelaki itu hanya mengedikkan bahu, tak peduli. “Seenggaknya lo masih punya ayah Jo…” ucapku hati-hati.
“Dia udah mati bagi gue, persis saat nyokap gue kehilangan nyawa karena perbuatannya Nis.” Jo mengulang cerita yang telah aku hafal, suaranya bergetar, tatapan matanya murka. Detik-detik seperti itu selalu membuatku ingin memeluknya, membelai rambutnya, menenangkan jiwanya, me…
“Udah maghrib Nis, kita berhenti di mesjid depan ya?” ucap Jo kembali, datar. Aku hanya bisa mengangguk, seraya mengenyahkan anganku tentang Jo.
Selanjutnya adalah hening yang janggal, sang waktu berlarian mencuri kata-kata. Jalan terlalu berkabut bagiku dan Jo. Mungkin kami tetap bisa bersisian, tapi tak bisa berada di satu jalan yang sama.
***
Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.
Note : 485 kata
Aduh, diksinya bagus2 mbak :3
___
makasih Lung^^
lah, eta kang Buble malah nyanyi didieu..
tadi mak mau pasang home-nya buble di LJ.. tapi kerasa tll melow swallow.
seperti kmrn juga, fiksi yang bagus.. lanjutkan Orin..!
___
Iyah Mak, lg Home memang slow melow swallow pisaaan, jd pengen bobo #eh? qiqiqiqi
manis Rin ceritanya meskipun getir
___
heuheu…tengkyu Dan^^
knapa sih pada gak mau ngaku???
geregetan………….
___
karena mereka… (isi sendiri titik2nya) hehehe, tengkyu ya Jiah
[...] teh Orin, yang cerita-cerita serta flash fictionnya memukau. (curhatannya juga.. [...]
rin lu kok ide bikin fiksinya selalu ada ya… hebat dah!
___
kadang kan cuma mengada-ada mas qiqiqiqi
aahh.,, been there. sama2 suka tp ga jadian, akirnya jd temen deket aja.. qiqiiiqqiiq :p
___
begitulah…jadi sahabat aj kali yaa
hanya bersisian ….,
suka pilihan kata ini Rin
___
Makacih BunMon^^
Bagus…….
Kira2 mereka bakal bersatu ga ya? Beda agama, ya?
___
Yup, beda agama, mba Sus bisa tau nih hohoho
Doooh, saya mah nggak berani komentar kalo Orin udah nulis fiksi…kereeeen!
Dan tentang cinta di jalan yang berbeda, tapi tetap bersisian…susah pasti, karena seharusnya cinta itu berada di satu jalan
___
Iya Bu ir, kalo jalannya sendiri2 mendingan jd sahabat aj ya hehehehe
Tapi… sampai kapan bersisiannya?
Hehe…
___
smp masing2 dapet gebetan baru Ka #eh? qiqiqiqi
Bertahan di friend zone ya jadinya.
___
Gpp lah Teh friend zone ajah mereka mah he he
bagus banget… ditunggu kelanjutannya…
___
Terima kasih^^
Waaaahh surprise lg nih, Teh Orin ide fiksinya selalu keren dan pilihan kata2 itu loh nyastra banget…
tengkyu eniwey yaa^^
___
nyastra?? eyampung yg bener aja Dang
janagn dipendam gitu dong
___
dipeuyeum heula Teh hihihihi
kasian banget ya beda keyakinan. seandainya ajaaaaaaaaa……..
___
met berandai2 yaa hihihihi
Aih.. gak bisa komen apa-apa.. ini ciamik sangat Rin.. Keren..
___
terima kasih uda^^
artikel buat kontes ya kak, menarik sekali, semoga bisa menang ya kak
___
Tengkyuu^^
Smoga menang makk.. ceritanya d lanjut dong hahahaha
___
dilanjut kemana Ye? qiqiqiqi
aiih… *berharap ff ini ada serial lanjutannya…* hehe…
___
terlalu berkabut auntie…ga bisa dilanjut hihihihi
kewreeeen.. dijadiin novel aja sekalian teh..
___
Susah ternyata Nin nulis novel hihihihi
jadi gemes..
___
hehehe
Bersisian, tapi tak mengambil jalan yang sama.
Bagus sekali ceritanya, Mbak. Sungguh saya suka.
Makasih ya….
emmm… friend forever ?
Semoga menang GA nya ya
“Detik-detik seperti itu selalu membuatku ingin memeluknya, membelai rambutnya, menenangkan jiwanya, me…”
ingin me.. apaaa? Hihi.. Udah ah jadian ajah jgn ttm.. *pembaca yg gampang bgt gregetan :p
___
mihihihi…met gregetan ya mba *nyengir*
Keren Orin. …. Terlihat ‘jalan berkabut’ sedang menuju ke Jalan Menikung (Umar Kayam). Maju terus.
___
Umar Kayam? Aaaaa ibuuuuu *speechless*
sedih sekali.. cinta yang belum bisa bersanding
Selamat ya mbak utk kemenangan flash fiction ini
setuju ama mak mira gregetttt .. kayaknya beda agama ya??