Bangunkan Aku Pukul 7

January 22, 2013 § 23 Comments

“Bangunkan aku pukul 7″

Aku baca berulang kali sebaris kalimat sederhana di atas stick note berwarna biru itu dengan hati merona. Detik berikutnya aku mencabut stick note itu dari cermin washtafel dan menyimpannya di buku diaryku seperti biasanya. Menempel si kertas kotak kecil itu dengan ekstra hati-hati, dan menandainya dengan tanggal hari ini.

Alangkah bahagianya merasa dibutuhkan seperti ini. Mendadak hariku berpelangi walaupun di luar masih hujan dengan halilintar menyambar. Tanpa aku sadari, aku bersenandung sebuah lagu yang aku sendiri tak tahu apa. Pantas saja para pujangga bisa mencipta puisi mempesona saat jatuh cinta ya. Walaupun aku hanya manusia biasa, aku ingin mencoba membuat puisi cintaku sendiri.

Duhai kekasih hatiku / dalam tidur lelapmu / aku lihat bibirmu menyungging senyum / adakah kau bertemu diriku di mimpimu itu?

Aku terkikik membaca puisiku yang super ngaco itu. Lantas menutup mulut rapat-rapat takut si ‘kekasih hati’ku ini terbangun. Kulirik jam tanganku sekilas, masih ada waktu 2 jam sebelum dia harus aku bangunkan.

Sekali lagi aku menatap lelaki yang tengah terlelap di depanku. Wajah lelahnya terlihat damai dengan dengkuran halus yang teratur. Alis matanya yang tebal terkadang ikut bergerak-gerak. Matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya, rambutnya… seandainya saja aku bisa mengelus wajah tampan di depanku ini, sebentar saja, rasanya aku sanggup…

“Ros…” Sial, si Lulu yang tiba-tiba masuk memotong lamunanku.

“Apaan sih Lu?” Tanyaku sewot, tapi tetap berbisik. Dan berharap lelaki di depanku tak terganggu tidurnya.

“Ada pasien gawat darurat, bangunkan dokter Alvin.” Bisik Lulu panik, “Cepetaaaan… mesti dioperasi kayaknya.”

Hedeeehhh… terpaksa aku guncang perlahan bahu si lelaki tampan yang masih berada di alam mimpi. Tak berapa lama dia telah terjaga dengan sempurna. Mencuci mukanya di washtafel, dan bercermin sebentar sesaat sebelum bergegas mengikuti Lulu ke luar ruangan. Dan itu artinya lamunanku akan tertunda, setidaknya sampai operasi selesai. Sisa hari ini sepertinya kelabu untukku.

Tapi kemudian dia berbalik, membuatku kembali tersenyum menyambut kedatangannya. Setitik air jatuh dari ujung rambutnya. Lelaki ini memang tampan. Aku menahan nafas menunggunya berbicara.

“Suster Rosi, tolong telepon istri saya ya. Malam ini sepertinya saya menginap di Rumah Sakit.” Arrghhh… sial kuadrat.

“Baik dok.” Jawabku dengan lunglai.

*Note : 342 kata

**Selalu sulit menjaga konsistensi ya :P Dan saat memaksakan diri -seperti kali ini- pun, ya hasilnya semakin bertambah geje mihihihihihi

About these ads

Tagged: ,

§ 23 Responses to Bangunkan Aku Pukul 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bangunkan Aku Pukul 7 at Rindrianie's Blog.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 673 other followers

%d bloggers like this: