Cuti Sakit Hati

January 16, 2013 § 24 Comments

Dari kejauhan, aku sudah bisa melihat ibu melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Senyumnya sehangat mentari seperti biasanya. Pulang padanya, bagiku memang seperti meminum vitamin penyegar jiwa. Cuti beberapa hari dan berlibur di rumah masa kecilku selalu bisa menjadi obat mujarab pengusir penat.

“Padahal tadi ada Bapak, sayang Bapak harus tahlilan di rumah Pak Arif, jadi tidak bisa menunggu kamu.” Oh? Jadi rupanya tadi Ibu berdiri di halaman untuk mengantar Bapak pergi? Bukan menungguku datang? Aku mendudukkan diriku di kursi dengan tangan terkepal.

“Bu…kenapa sih Ibu tidak cerai saja dengan Bapak?” Tanyaku spontan. Aku tidak membenci Bapak, tapi sikapnya yang-menurutku- menyakiti Ibu membuatku murka.

“Hush…ngomong apa kamu. Pamali ah cerai-cerai begitu.” Ibu ikut duduk di sampingku, tetap tersenyum walaupun sambil mencubit lenganku, seolah-olah aku masih anak kecil yang lupa cuci tangan sebelum makan.

“Ibu memangnya tidak sakit hati Bapak nikah lagi?” Ibu diam saja, melangkah meninggalkanku menuju dapur. Tentu saja aku merasa bersalah, dan sangat tahu kalau ibu marah. Tapi rasa penasaranku lebih besar, entah sudah berapa kali aku bertanya, dan selalu menerima diam yang sama. Aku bertekad kali ini ini Ibu akan bercerita.

“Bapak kan sangat tidak adil Bu. Istri mudanya dibuatkan rumah yang lebih besar. Rumah Ibu masih begini saja dari aku kecil. Bapak ke sini kalau lagi sakit, lagi susah, lagi perlu dihibur. Coba kalau lagi gembira, lagi dapet rezeki, pernah gitu inget sama ibu?” Tatapan ibu membuatku segera berhenti.

“Makanya, segera menikah. Udah hampir 30 kok masih lajang saja.” Kini aku yang diam. Seandainya menikah itu bisa sendirian, sudah sejak lama aku menjadi istri bagi diriku sendiri, ingin aku ucapkan itu pada Ibu.

“Bu… Maaf…” Lagi, aku menyerah. Aku mengusap-ucap punggung ibu pelan. Lantas memeluknya dari belakang. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar, mungkin menahan tangis.

“Namanya juga manusia, ya pastilah ibu juga sakit hati.” Aku memilih diam, menunggu Ibu bercerita. “Tapi kan bercerai itu sebaiknya dihindari, tidak disukai Tuhan. Ibu cuma ingin jadi hamba yang baik, apa itu salah?”

“Menurutku Tuhan lebih tidak suka lagi Ibu tersakiti oleh Bapak.” Aku kaget dengan yang aku dengar dari mulutku sendiri. Detik berikutnya aku berharap Ibu tidak tersinggung dengan ucapanku, dan memeluknya lebih erat.

“Kamu pulang ke Jakarta lagi kapan?” Pertanyaan Ibu yang tiba-tiba berbelok mengagetkanku.

“Lusa Bu, cutiku tinggal sedikit.”

“Ibu nanti ikut kamu ke Jakarta ya. Ibu mau cuti juga ah, biar ngga sakit hati terus sama Bapak.” Hah? Aku hanya memeluk Ibu yang mendekapku dengan senyumnya yang masih sehangat mentari.

*Note : 400 kata

PS : Hedeeehhh… teu pararuguh pisan ceritanya :P

About these ads

Tagged: ,

§ 24 Responses to Cuti Sakit Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cuti Sakit Hati at Rindrianie's Blog.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 616 other followers

%d bloggers like this: