Episode Kelabu

Beberapa tahun yang lalu, aku lupa tanggalnya, tapi aku ingat betul itu adalah bulan lahirku, mungkin itu yang membuatku selalu mengingatnya, karena apa yang terjadi saat itu seolah menjadi kado terburuk bagiku. Di usiaku yang ke-27, usia yang kuangankan saat remaja dulu untuk menikah, kau –lelaki yang aku kira Tuhan pilihkan untukku- meninggalkanku tanpa sebab yang bisa aku mengerti dengan logikaku.

Email itu kau kirimkan padaku di sebuah Senin yang tak jauh berbeda dari hari-hari lainnya. Tapi bagiku saat itu, sanggup mengubah segalanya. Ya, kau memutuskanku hanya dengan sebuah email. Maka izinkan aku menganggapmu pengecut karena tidak bisa (atau tidak mau?) menemuiku langsung, tapi setidaknya, pernyataan itu tidak kau tulis dalam secarik post it yang kau tempelkan di salah satu tepi laptopku. Baiklah, anggap saja aku lebih beruntung kalau begitu ya.

Email itu cukup panjang. Seingatku prolognya bertele-tele dan penuh kalimat-kalimat ambigu, intinya adalah : klise. Kau katakan kau tak bisa lagi meneruskan hubungan kita, kau bilang kau bukanlah lelaki yang baik untukku, kau minta aku mencari lelaki lain yang lebih pantas bagiku bla…bla…bla… Membuatku berpikir sebodoh itukah aku dulu memilih lelaki sepertimu? Baiklah, itu bohong. Kenyataannya, pada saat itu, aku sungguh terluka, sangat. Aku berangan itu adalah mimpi buruk, yang menguap begitu saja saat aku terbangun.

Aku mati rasa. Aku tidak membalas email itu. Aku tidak meneleponmu. Aku menolak mempercayai keputusanmu itu.  Kepala dan hatiku sibuk bertanya tentang kenapa dan bagaimana entah pada siapa.

Akhirnya aku putuskan menelepon ibumu sore harinya. Ibumu yang selalu bilang sangat menyayangiku, ibumu yang seringkali menyuruh kita cepat-cepat menikah, ibumu yang selalu membuatku percaya kelak aku akan menjadi menantunya. Tapi dia menolak berbicara padaku, ayahmu yang mengangkat telepon mengatakan ibumu sedang pergi. Tentu saja aku mempercayainya jika tak kudengar suara batuk yang aku yakin adalah ibumu. Dan itu semakin menyakitkan membuatku. Apa salahku?

Harga diriku yang sudah tercabik masih bisa menahanku untuk tidak meneleponmu. Aku mengirim sms untuk memintamu berbincang lewat YM, yang ternyata kau setujui. Aku tak bisa lagi mengingat detailnya, yang aku mengerti dari percakapan itu adalah, alasanmu yang tidak bisa kupahami. Bahkan kau sempat bilang kau masih menyayangiku, tapi tidak bisa lagi bersamaku? Apa maksudnya? Mungkin, jika alasanmu adalah karena kau mencintai gadis lain, atau karena aku melakukan sebuah kesalahan besar yang tak bisa kau maafkan, atau karena orang tuamu tidak merestui kita, perpisahan itu akan lebih mudah bagiku.

Aku perlu beberapa hari untuk berdamai dengan diriku sendiri dan kenyataan itu. Tapi hal yang paling sulit –dan membuatku membencimu pada akhirnya- adalah mengabari kedua orang tuaku bahwa pernikahan yang sedang mereka siapkan untuk kita tidak akan pernah terjadi. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada menghancurkan harapan ayah dan ibumu terhadapmu, bukan? Mendengar suara isak tertahan ibuku di ujung telepon saat itu, sungguh membuatku menyesal telah mengenalmu, menyesal telah membawamu ke keluargaku, menyesal membiarkan orang tuamu datang ke rumah orang tuaku, menyesali semua dan segala yang pernah terjadi antara kita.

Satu minggu itu adalah episode ter-kelabu dalam hidupku. Tak perlulah aku ceritakan bagaimana dukaku saat itu, aku melakukan semua hal yang dilakukan setiap orang patah hati pada umumnya. Menghabiskan berkotak-kotak tissue, lupa makan lupa minum, dan sebagainya dan seterusnya. Saat wiken tiba, aku pergi ke Bandung, menemui sahabat-sahabatku di sana, mencoba berlari dari segala hal yang mengingatkanku akanmu di sini.

Saat aku kembali, si mbak kostan mengatakan padaku, bahwa ibuku datang saat aku pergi.  Tapi aku tahu, dari ciri-ciri yang disebutkan si mba, yang datang itu adalah ibumu. Entah untuk apa. Aku terlanjur sakit hati untuk mencari tahu, lagipula ibumu selalu bisa meneleponku –ataupun datang lagi- jika dia menginginkannya, bukan? Entahlah…

Aku tahu, apapun yang terjadi padaku adalah atas izinNYA, dan seburuk apapun yang kualami, itu adalah untuk kebaikanku. Aku tahu aku bisa melewati rasa sakit itu, walaupun saat itu, tak hanya sekali aku sungguh berharap endingnya bisa berubah seperti yang aku inginkan. Aku tidak tahu –dan mungkin tidak akan pernah tahu- apa alasanmu sebenarnya waktu itu. Pada akhirnya aku merasa terselamatkan, karena episode kelabu itu membawaku pada episode-episode gemintang bersama matahariku, walaupun tak selalu gemerlap, tapi aku cemerlang bersamanya.

***

Episode itu pernah betul-betul terjadi temans, karena si ‘aku’ yang adalah saya-lah yang mengalaminya. Tidak sedramatis fiksi saat dituliskan ternyata, tapi mengingatnya masih seringkali membuat saya menangis (terutama di bagian saya harus menelepon mamah saya itu…ihiks…sekarang pun mewek :p). Tapi tetap saja, saya mensyukurinya, karena dengannya saya menjadi seorang ‘saya’ yang seperti sekarang ini. Dan dengannya, saya pun punya kisah untuk diikutkan saweran emak-emak cebong. Alhamdulillah yaa, sesuatu ;)

“Orin berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia, disponsori oleh Jeng Anggie, Desa Boneka, dan Kios108”.
About these ads

12 thoughts on “Episode Kelabu

  1. sukses kontesnyaa
    berasa banget sedihnya..
    aku pikir fiksi,,,tapi bener banget ya mbak,,
    pada akhirnya,,,
    setelah sekian lama dari cerita itu..kita akan mengerti bahwa
    pada akhirnya kita akan mendapatkan yang terbaik,,
    lebih baik dari dia yang meninggalkan..

  2. Mak Cebong 3 dataaannngg :-)

    Hiks, bener2 pengecut yah doski! Masa cuma lewat telepon mutusinnya!! Esmosi dah ekye!!

    Tapi yang penting dikau udah hepin bersama si Aa sekarang. Hidup Aa!! :-)

    Thanks yah jeng udah berpartisisapi 2x di Saweran mak Cebong. Yangs ebiji lagi dihajar ajah Cyiiinnn :-)

    Orin : Ralat Jeng, bukan lewat tilpun, pake email doang qeqeqeqeq :P
    Yg sebiji lg msh dalam proses Jeng, ditunggu yaaa ;)

  3. ngai justru lega ateu terbebas dari lelaki pengecut macam begitu.. tentu saja omnya ngai yang sekarang teramat sangat jauh lebih menawan. :P

    Orin : ci Om memang menawan bagaikan kang Jhonny Depp Ngai *dalam khayalanku* hihihi… makacih Ngaaai ^^

  4. Saat itu aku juga berumur 27 tahun, saat itu aku juga memutuskan untuk putus karena kelakuannya yang garing, tapi saat itu aku justru menelpon papaku (bukan mama) dan mengatakan; “pa, jika kubatalkan pernikahan ini, apakah papa akan merasa malu pada sanak saudara?” Dengan tenang papaku menjawab; “tidak, bagiku yang penting adalah kebahagiaanmu” *kangan papa..hiks..*

    Taukah, Orin? Saat itu tinggal 5 hari lagi tanggal pernikahanku. Betapa pedihnya, betapa sedihnya, betapa kelabunya hari-hariku..

    Tapi kini aku bersyukur tidak jadi menikah dengannya :) Allah selalu tau yang terbaik untuk kita, bukan?

    Terima kasih atas partisipasinya, Jeunk manis.. Maaf kalo susah ndaftar yah? Entah apa yang salah pada blog kami..hiks..hiks..

    Dengan ini kukatakan, sudah kucatat dikau sebagai peserta..

  5. aku belum 27 tahun.. hehe

    aduuhh, smoga saya tidak menjadi ke dalam golongan laki2 yang seperti itu. :D
    sudah lah, yang lalu biarkanlah, cukup jadikan pelajaran, yang penting sekarang sudah bisa menikmati hari2 dengan cerah bersama matahari.. :D

    sukses kontesnya

  6. peluk orinn….meskipun kejadian itu sdh berlalu, tapi tetap yach ngga akan hilang dr ingatan……dan ternyata Allah menggantinya dgn yg lebih baik…hiks terharu baca postingan ini…

    terimakasih orin atas partisipasinya…sdh tercatat sbg peserta…

  7. Ah Orin, laki-laki itu pasti bukan laki-laki terbaik buat Orin…biarkan perempuan di luar sana aja yang memilikinya sebagai belahan jiwa…
    Sekarang?
    Ah, ah…pasti suami Orin adalah laki-laki terbaik yang disediakan Tuhan buat Orin…
    Buktikan deh! ;)

  8. saya juga pernah mengalami hal seperti ini mba Orin… tau banget bagaimana rasanya…. hiks..hiks…

    dan bener banget mba… dia bukan yang terbaik, hanya senoktah noda yang membuat kelabu sebuah masa dalam hidupmu kan? gemerlap kehidupan dan mentari ternyata masih bersinar cerah di hari-hari ke depannya toh?

    sukses untuk kontesnya ya mba….

    Orin : Yup, hanya sebuah episode pendek ya kak :)
    Terima kasih sudah berkenan mampir ke rumah sederhana saya kak Al^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s