Merindu Hutan

June 6, 2011 § 29 Comments

Rumah orang tua saya terletak di sebuah desa, Leuwikujang namanya, salah satu desa yang ada di Kecamatan Leuwimunding. Masih belum bisa menemukannya dalam peta?? Baiklah, Leuwimunding adalah satu dari sekian kecamatan di Kabupaten Majalengka. Majalengka dimana? yaoloooohhh… masih daerah Jawa Barat, kalau dari bandung kurang lebih 3-4 jam perjalanan menuju Cirebon, bersinggungan dengan Sumedang, Indramayu dan Kuningan. Tidak terbayang juga? Sungguh t.e.r.l.a.l.u *sigh*

Kampung saya itu cukup dekat dengan hutan. Saya ingat saat kelas 6 SD, saya dan serombongan teman-teman bersepeda masuk hutan antah berantah (maksudnya kami belum pernah ke hutan itu sebelumnya), dan membuat salah satu teman saya kesurupan karena -katanya- kemasukan entah apa dari hutan tersebut.

Masuk SMP, saya menjadi anak Pramuka yang sering sekali keluar masuk hutan untuk kemping atau sekedar mencari jejak dalam acara Jambore. Saat SMU, saya pernah berpetualang di hutan belantara saat mendaki gunung Ciremai. Kuliah di Jatinangor? kampus saya sendiri bisa dikatakan bagian dari hutan yang gersang *ups*. Bekerja di Jakarta lah yang membuat saya sulit dan jarang sekali bersentuhan dengan hutan. Terlalu bvanyak mall, terlalu banyak apartemen, terlalu banyak pertokoan, terlalu banyak perumahan mewah.Phew.

Sebagai seorang yang sangat akrab dengan hutan, saya tidak bisa terlalu lama terpisahkan oleh aroma hutan. Maka seringkali saya menyengajakan diri berkunjung ke ‘hutan’ ini. Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda, berlokasi di Dago Atas Bandung, sehingga sering juga disebut “Dago Pakar” yang bisa saya datangi hanya dalam (kurang lebih) 3 jam perjalanan dari Jakarta. Pernah saya sengaja bertemu teman-teman di Bandung di sana, bahkan pernah juga saya mengajak seorang teman kantor berhiking ria di sana. Hutan ini tidak pernah membuat saya bosan.

This slideshow requires JavaScript.

Ya, itu adalah hutan buatan, yang membuat saya berharap dalam diam mungkinkah hutan serupa diciptakan di Jakarta yang sudah panas dan gersang ini? Melihat pohon-pohon reklame tergantikan dengan pohon rimbun nan hijau itu? (mungkin) hanyalah sebuah mimpi belaka. Bahkan, kawasan Dago atas dan sekitarnya pun kini banyak bermunculan villa-villa dan restoran yang menjanjikan view indah di sana. Membuat pohon semakin sedikit, menjadikan hutan bertambah sempit :(

Wahai kawan, tengoklah pohon menjulang yang menawan itu, pandangilah daun hijau mempesona itu, dengarkanlah orkestra khas hewan-hewan hutan itu, resapilah gemericik air sungai itu, tidakkan itu memabukkan? Saya merindu hutan-hutan hijau yang demikian.

Saya ingin sekali anak cucu saya kelak masih bisa menikmati hutan dan semua perangkatnya itu. Hutan yang sama seperti hutan tempat saya bermain saat kecil dulu. Semoga…

***

Tulisan sederhana ini semoga bisa menjawab tantangan Mas Alamendah, dan bisa dianggap sebagai partisipasi dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup tanggal 5 Juni kemarin :)

About these ads

§ 29 Responses to Merindu Hutan

  • Mama Cal-Vin says:

    asyik ya masih bisa lihat hutan, sejuk.
    kalau disini seringnya lihat hutan beton :)

    Orin : Iya mba Lid, suka Orin mah main ke hutan, di sini susaaah :(

  • hutan antah berantah bun?? hihih,, seperti dalam backsound saya.. :D

    Iya semoga saja makin banyak hutan2 yg tumbuh di kota2 besar, biar bisa merasakan kesejukan dan kesegaran….

    Orin : Iya Mab, lumayan banyak hutan antah berantah kalo di kampung saya mah :D

  • lozz akbar says:

    Leuwi itu artinya goa ya mbak Orin? sebenarnya semua orang bisa menciptakan hutan, meski hanya menanam pohon di sekitar pekarangan rumah, setidaknya bisa menjadi habitat buat sekawanan spesies satwa. yah meskipun hanya sekumpulan burung..
    apik artikelnya mbak, ai lophe dis

    Orin : Bukan mas, Leuwi itu lebih tepat kalo diartikan sebagai “telaga” :)
    Yup, di belakang rumah ortu saya ada juga kebun berisi pisang, talas, kelapa, sirsak dan semacamnya, lumayan ‘ramai’ oleh satwa kebun ^^

  • tunsa says:

    ajak saya ke sana donk bu…hehehe…rame2 hiking pasti seru!
    jadi inget masa lalu, hehe

    Orin : hayuuuu…waktu itu saya udah jalan kaki mulai Simpang Dago, rajin pisan heuheu

  • bundamahes says:

    Teteeeeeeeeeh…saya diajak (baca : ditraktir) kesana doooooonk!

    Orin : Yuk kita kopdaran di sana yuuuk ;)

  • nia/mama ina says:

    kalo saya dr kecil udah tinggal di jakarta, jadi jarang lihat hutan…palingan lihat hutan kalo ke rumah saudara2 di tasikmalaya atau di jasinga

    Orin : dan hutan-hutan itu ngangenin kan mba Nia? ;)

  • melly says:

    klo rumahku jauh dr Hutan, lagian keknya sekarang hutan2 yg sering kudatangi dulu sudah berubah jadi ladang jagung semua.

    Orin : Waduh? sayang jg ya hutannya berubah jadi ladang jagung :(

  • Mechta says:

    Artikelnya apik & pic-nya keren2… :) Selamat hari lingkungan, Orin… Semoga impian kita utk hidup bersanding dg pepohonan nan hijau…bisa kesampaian…

    Orin : Aamiin, semoga ya Auntie ^^

  • hilsya says:

    sayah kamari ka sangiang.. rada kapok ah…bdg – mazlenk muacettt!

    Orin : hah? ih…meni ga mampir *manyun mode : ON*

  • Arif Bayu says:

    Wah foto slidenya bagus banget mbak

    Orin : makasih Bay ;)

  • Lyliana Thia says:

    Sama Rin… ingin anak cucu mengenal hutan juga… akankah terwujud…? mungkin kuncinya di gaya hidup kita sekarang ya… supaya anak cucu kita nggak tersesat di hutan belantara Mall… Selamat Hari Lingkungan Hidup…

    Nice post, Rin… :-D *jadi pengen hiking*

    Orin : Aamiin…semoga ya mba.
    Yuk…yuuuk, kita hiking yuk *semangat ’45*

  • joe says:

    mari kita jaga hutan kita, paru-paru dunia ….

    Orin : Yuk mariiii… ;)

  • alamendah says:

    Terima kasih akhirnya ikut menjawab “Tantangan untuk Para Blogger”.

    Kerap kali saat mengalami kejenuhan dengan rutinitas sayapun ‘menyepi’ ke hutan dan gunung.

    Orin : Toss dulu ah sama mas Alam kalo menyepi di hutan :D :D

  • arman says:

    dipikir2.. gua rasanya gak pernah ke hutan.
    padahal kalo ngeliat2 gambarnya kayaknya bagus ya… :)

    Orin : hah?? serius nih mas Arman? *takjub*

  • Cahya says:

    Sepertinya kita memang mesti mulai membuat hutan sendiri, karena dengan laju kerusakan yang terjadi, akan cukup lama membuat hutan bisa pulih dengan sendirinya.

    Orin : Sepakat Bli…

  • Hutan di Jakarta? Ide yang bagus…tapi letaknya di mana ya?

    Salam,
    Keluarga Harestya

    Orin : Letaknya? menggantikan mall2 besar yang ada di mana-mana itu :D

  • akhnayzz says:

    keren banget itu idenya>>>
    semoga saja bisa terlaksana…

    Orin : Tengkyu mas. Semoga ya ^^

  • choirul says:

    rumah saya juga dekat dengan hutan lho, dulu waktu SD saya juga diajak ibu saya nyari kayu di hutan… tapi kayu bakar….

  • sedjatee says:

    tolong dijaga ya hutan yg dekat kampungnya
    insyaAllah itu adalah kebaikan yang bernilai ibadah..

    sedj

    Orin : InsyaALLAH mas Sedj ;)

  • isnuansa says:

    Saya taunya Leuwigajah. *disepak*

    Itu airnya meuni bening pisan…

    Orin : Leuwipanjang juga tau kan mba Is? heuheu

  • dmilano says:

    Saleum,
    Panorama hutan memang bagus bagus ya, mudah2an saja hutan kita bisa terselamatkan demi masa depan generasi selanjutnya
    saleum dmilano

    Orin : Aamiin, mudah2an ya Bang :)

  • kangto says:

    Walaupun susah, tapi jika ada usaha InsyaAllah bisa juga ada hutan kecil di tengah Ibukota Jakarta.

    Orin : Semoga ya kang, akan sangat menggembirakan jika Jakarta punya hutan kota..

  • bintangtimur says:

    Hutan juga selalu bikin saya rindu, Orin!

    Mungkin itu juga yang membuat saya nyambung dengan suami, kami ini sesama pencinta alam, bukan pencinta mall… :D

  • Fonega says:

    jaga hutan sampai mati bila perlu :)

  • dewifatma says:

    Desaku juga nggak kliatan di peta..hihihi… Padahal sebelahnya gunung merapi, tempat mamaku dulu nyari kayu bakar. Bah, serunya!

    Jadi home sick, ane….

  • dey says:

    sampai saat ini, setiap hari saya masih bisa melihat gunung & hutan pinusnya, juga kebun teh. Yuk sekali2 kalo ke Bandung mampir kesini …

  • Saya sangat senag ketika bermain bersama teman di dalam hutan kecil di dekat rumah kami. Waktu itu yang menjadi favorit kami adalah berburu “honje”, sambil ngaliwet selepas pulang sekolah..

    Salam kenal teh.

    Lukman, urang cianjur

    Orin : Hai urang Cianjur, saya pernah jg nyasar ke sana heuheu…

  • Imelda says:

    mau tanya dong leuwi itu ada artinya ngga? Seperti Ci = air. Sering dengar Leuwixxxx tapi tidak bisa menarik garis merahnya.

    Hutan Dago ya? Ntar kalo mudik mau ke sana ah
    Di tempat tinggalku, meskipun Tokyo banyak sekali taman besar kecil, ada yang menyerupai hutan. Dengan bersepeda 20 menit sudah sampai di Shakujii Kouen (silakan cari di index TE kalau mau lihat fotonya)

    Well, akan ke mana Indonesia tanpa hutan ya?

    EM

    Orin : Leuwi itu artinya kurleb telaga/danau mba.
    Mgkn itu yg membedakan negara maju ya mba, mereka lebih concern soal lingkungan hidup begini :(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Merindu Hutan at Rindrianie's Blog.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,150 other followers

%d bloggers like this: