Kisah Cinderella

2 orang sahabat saya menghadiahkan 2 seri buku berjudul Kokology. Kata ini berasal dari kata ‘kokoro’ (bahasa jepang), yang berarti semangat, perasaan, hati. Dan kata ‘logy’ (bahasa Yunani) yang berarti ilmu. Istilah ini dirancang oleh seorang professor Psikologi Jepang bernama Isamu Saito, beliau memfungsikan kokology ini sebagai sebuah permainan psikologi yang dirancang untuk menyingkap emosi dan sifat tingkah laku seseorang.

Karena memang merupakan sebuah permainan, buku tersebut sangat menarik. Konsepnya, setiap bab berisi sebuah kisah imajinatif yang menjadi symbol sesuatu, yang akan diikuti oleh pertanyaan (terkadang ada pilihannya, jawaban berupa angka atau harus digambarkan), dan jawaban yang kita pilih itu-lah yang mencerminkan karakter pribadi kita.

Misalnya saja, sebuah taman strawberry ternyata adalah sebuah analogi dari seberapa menariknya perselingkuhan bagi Anda. Atau bayangan mengenai pemandangan yang mampu membuat Anda santai –apakah dataran penuh salju putih, lautan biru, gunung yang hijau, atau padang bunga berwarna kuning- ternyata melambangkan bakat terpendam Anda. Bahkan, pikiran yang terlintas di benak Anda saat melihat angkasa yang berwarna gelap, sementara Anda harus segera mencuci, ternyata menggambarkan ukuran stress kita terhadap kehidupan !

Mari kita coba bermain.

Tentunya kita semua tahu dongeng Cinderella bukan ? Dari semua adegan dalam dongeng yang dapat diingat, adegan mana yang paling berkesan dalam pikiran Anda? Silahkan pilih satu dari empat opsi berikut :

  1. Cinderella menderita di bawah tekanan ibu tiri.
  2. Cinderella diubah menjadi putri yang cantik oleh ibu peri.
  3. Cinderella ketinggalan sepatunya di tangga istana ketika jam dua belas malam
  4. adegan dimana akhirnya sang pangeran menemukannya dan memakaikan sepatu kaca di kaki Cinderella.

Apakah Anda sudah putuskan jawaban Anda?

Menurut buku tersebut, pilihan Anda berhubungan dengan kelemahan atau kekurangan terkuat Anda. Saya tuliskan sesuai dengan yang dijelaskan di buku yaa.

Jawaban nomor 1.

Bayangan Cinderela yang malang membersihkan lantai selagi ibu tiri dan kakak tiri menyiramnya dengan perlakuan kejam menimbulkan rasa kasihan. Tapi di balik rasa kasihan itu ada rasa kebanggaan dan kesombongan. Anda mengingat adegan ini karena membuat Anda merasa lebih mulia dari seseorang. Adalah baik bisa memandang remeh orang lain dengan lembut. Tetapi berhati-hatilah terhadap kecenderungan Anda yang selalu meremehkan mereka.

Jawaban nomor 2.

Dengan tongkat ajaib, ibu peri yang baik hati mengubah Cinderela menjadi putri mempesona dan mengubah dunianya selamanya. Tapi di dunia nyata, segalanya tidak begitu mudah dilakukan. Kesalahan terbesar adalah kebutaan Anda terhadap pertanyaan mudah dalam hidup dan kurangnya perhatian terhadap perencanaan dan akibatnya, Anda nampak lupa bahwa tidak ada ibu peri yang menanti menyelamatkan Anda dari masalah yang Anda ciptakan sendiri.

Jawaban nomor 3.

Adegan ini meninggalkan kesan yang kuat kepada Anda karena mempengaruhi perasaan ketergantungan kepada orang lain. Sangat mudah membayangkan diri Anda melarikan diri pada tengah malam, meninggalkan masalah dan pertanyaan yang belum terjawab di belakang Anda. Dalam jangka pendek, bergantung kepada orang lain untuk menyelesaikan masalah mungkin terlihat seperti cara yang mudah dalam hidup, tapi suatu hari Anda harus menghadapinya sendiri.

Jawaban nomor 4.

Hampir semua orang menyukai akhir kisah bahagia. Anda menganggap diri Anda seperti itu. Disitulah masalah Anda. Anda terlalu mudah puas dengan hal yang sederhana, normal, dan rata-rata. Semua yang Anda harapkan dari hidup adalah pekerjaan yang rata-rata, gaji yang rata-rata, teman yang rata-rata, keluarga yang rata-rata, anak yang rata-rata…. Berusahalah untuk menemukan apa yang membuat Anda unik dan asli. Ingatlah, Anda adalah seorang individu, bahkan ketika Anda tidak merasa demikian.

Bagaimana? Apakah pilihan Anda memang sesuai dengan deskripsi makna yang dijelaskan? Bagaimanapun, itu adalah sebuah permainan psikologi, tak ada jawaban benar atau  jawaban salah. Jawaban tersebut hanyalah mengungkap seperti apa diri Anda -walaupun mungkin Anda sulit untuk mengakuinya :-)

Tetapi, rasanya tidak salah juga jika kita menginginkan hidup seperti Cinderela. Bukankah banyak kita temui dalam keseharian kita, ‘upik abu-upik abu’ yang baik dan tertindas –seperti Cinderella- yang akhirnya bisa hidup berbahagia. Hal tersebut mengajarkan pada kita bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan.

Tetapi juga, karena tidak ada ibu peri -yang akan dengan mudah ‘menyulap’ segala sesuatu- dalam kehidupan nyata kita, maka memang sudah seharusnya-lah, kita selalu memaksimalkan upaya, dan berdoa bagi hasil terbaik atas apa yang kita upayakan tersebut.

Ungkapan ‘hidup adalah pilihan’ mungkin klise, tetapi demikianlah adanya. Kita bisa memilih menjadi ‘upik abu’ selamanya, atau memilih berupaya menjadi seorang ‘Cinderella’ yang berbahagia.

About these ads

4 thoughts on “Kisah Cinderella

  1. Mba Orin milih jawaban nomor 2 yaaa? hehehehe
    Siti milih jawaban yg nomor 3… Emang bener sih deskripsinya, wkwkwk
    Tapi ITU DULU! ITU KEMARIN!
    Hari ini, mulai saat ini.. Siti ga akan menggantungkan “jawaban” ataupun hidup siti pada orang lain. Dan siti setuju banget dengan kalimat “Berusahalah untuk menemukan apa yang membuat Anda unik dan asli.”. Yang paling tau diri siti adalah siti dan yg bertanggungjawab atas diri siti adalah diri siti sendiri ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s