Penyesalan Yang Terlambat

Alvian

“Yang tersisa dari kita berdua hanyalah masa lalu…” ucapku perlahan, entahlah dia mendengar desisanku atau tidak.

“Ya..” jawabnya samar, aneh suara itu terdengar di telingaku. “Kau benar, seperti biasanya” tambahnya pedih. Dan kalimat pendek itu menyayat hatiku yang telah terluka.

“Aku tidak ingin bertengkar lagi Lia.” Kali ini aku mengucapkannya dengan jelas, walaupun tetap dengan perlahan. Dan entah kenapa leherku menoleh padanya, melirik sekilas pada rambut indahnya yang dimainkan angin, dan senyumannya yang ditujukan pada lautan luas dihadapan kami.

Hening yang seolah abadi. Dan aku sungguh menyesal telah mengucapkan kalimat tadi, yang tidak mendapat reaksi apapun, selain senyuman yang tanpa sengaja aku lihat darinya. Terpekur aku menatap kilauan biru air laut dalam pancaran mentari yang agung, hingga dia membalikkan tubuhnya menghadapku. Matanya yang selalu teduh menyejukkan, kini tak mampu aku baca. Aku hanya sanggup terpaku menatapnya dalam diam, menunggu apa yang akan dia katakan, atau lakukan, atau tidak keduanya. Aku tidak siap untuk moment seperti ini, tidak akan pernah siap.

“Seperti yang kau katakan tadi Al, yang kita miliki hanyalah masa lalu.” Kalimat itu diucapkannya perlahan tetapi jelas, dan matanya tak pernah berhenti manatap tajam mataku. “tetapi kau memiliki masa depan.. “kalimatnya belum selesai, aku bisa merasakannya, entah apa yang menahannya. “sedangkan aku tidak Al, …” lanjutnya, masih tertahan, “kau sudah berhasil menghentikan waktu untukku,” aku tak bisa berpikir jernih, “aku akan hidup entah sampai kapan, tapi aku tak pernah lagi memiliki masa depan!” aku harus mengingatkan diriku sendiri untuk tetap bernafas sesaat setelah mendengar kalimatnya. Dan itu belum selesai, “thanks to you Al.” Ucapnya lirih, seakan kalimat itu tak keluar dari bibirnya yang lembut, matanya tetap menatapku tajam beberapa detik berikutnya, lantas dia membalikkan tubuhnya membelakangiku, dan melangkah pergi dengan kecepatan yang anggun. Meninggalkanku dalam rasa yang tak mampu aku namai apa.

Seandainya kau tahu yang sebenarnya Lia..

Dan peristiwa itu begitu jelas terekam detail dalam benakku, bahkan seolah wangi tubuhnya masih bisa kurasakan di depan hidungku. Apakah aku sudah gila?? Ya, aku pikir memang begitu.  Setelah 3 tahun yang panjang dan aku masih belum bisa melupakan rambut halusnya yang tergerai, adalah kegilaan yang sangat gila. Dan aku tak akan membiarkan kegilaan ini membunuhku. Aku akan menemuinya, sekali lagi dan untuk terakhir kali, demi memuaskan rasa –yang masih tak bisa aku namai apa- sebelum aku benar-benar mati.

Dan disanalah dia, duduk anggun ditemani secangkir kopi -atau entah apa, dalam sore yang riang. Kini memakai sebingkai kacamata yang begitu cantik untuk wajahnya, asyik membaca sebuah novel tebal –seperti yang selalu disukainya- dan seolah masuk dalam dunia yang sedang dibacanya. Tak peduli dan tak ingin peduli sekelilingnya, termasuk diriku yang terpaku di luar pagar, bimbang antara melangkah masuk, atau melenggang pergi.

Dan entah apa yang membuatnya mengangkat kepala dan kemudian menatapku, mengucapkan sesuatu karena kulihat bibirnya bergerak, lantas tanpa kusadari datang dari mana, seorang lelaki tua –mungkin supir atau tukang kebun- membukakanku pintu pagar dan membimbingku masuk.

Seolah terhipnotis oleh tatapan matanya yang selalu mengikuti setiap gerakku, perlahan aku mendekatinya, dan berakhir dengan duduk tepat dihadapannya, di sebuah kursi kosong yang seolah ditujukan memang untukku.

Hening yang sunyi, diam yang senyap. Apakah bumi masih berputar? Aku merasa hilang.

“Apa yang kau inginkan dariku Al?” Pertanyaan sederhana yang seharusnya mudah aku jawab. Tapi aku hanya terdiam bak patung, tak mampu menggerakkan lidahku untuk menjawabnya, tak sanggup berpikir kenapa aku bisa berada disana.

“Al…??” panggilnya lagi. Namaku terdengar asing ditelingaku sendiri. Aku hanya semakin tertunduk, membisu kaku.

“Aku sungguh tidak punya waktu untuk berbasa basi yang tidak penting, Al. “ jeda yang membingungkan sebelum akhirnya dia kembali berkata, “Lagipula suamiku sedang tidak ada di rumah, dan aku ragu apa tanggapan istrimu kau berkunjung ke rumah mantan kekasih seperti ini.”

Usiran halus yang menyakitkan. Suami? Istri? Ah…dua kata itu seolah memiliki makna beracun di otakku. Ingin aku lantang katakan padanya “Dahlia, aku selalu dan hanya mencintaimu seorang..” Tapi apakah dia masih percaya? Setelah aku tinggalkan dia tanpa alasan jelas seperti 3 tahun lalu itu? Rasanya tidak.

Lunglai aku beranjak, aku tahu apa yang ingin aku sampaikan padanya tidak akan pernah terucap. Bisa kulihat kebingungan kuat terpancar dimatanya melihatku berdiri tanpa sepatah kata pun. Aku tersenyum padanya. Senyuman perpisahan yang begitu perih untukku. “Hanya Tuhan yang tahu betapa aku mencintaimu sungguh, Lia” desisku, entah dia bisa mendengarnya atau tidak. Aku melangkah pergi tanpa mampu menoleh kembali.

Dahlia

Terpaku aku menatap nisannya yang baru, tanah merah basah, taburan bunga yang masih segar, aroma kematian yang sendu. Kulihat Tante Rika dengan mata merah tanpa air mata duduk bersimpuh termangu disana, sendiri, seolah dirinya telah menjadi patung yang menghiasi makam anaknya.

Perlahan aku mendekat, kugenggam tangan Mas Bayu erat, berharap kekuatan kasihnya akan membuatku tenang, seperti biasanya. “It’s Okay Honey, I am here” begitu bisiknya ditelingaku, dan mengecup belakang kepalaku lembut. Itu lebih dari cukup untukku melakukan hal-hal yang aku pikir tidak mampu aku lakukan.

“Tante, kami ikut berduka cita untuk kehilangan Tante. Doa kami untuk Alvian disana” Ucapku nyaris tak terdengar. Entah kenapa perasaan tak bernama menyeruak. 2 hari yang lalu aku masih melihat Al mematung di depan rumah, bertamu sekejap, lantas pergi tanpa kata, kecuali desisan yang tak bisa kudengar. Dan kini dia dihadapanku, tertimbun sekian meter di kedalaman tanah.

“Terima kasih Lia… Tante sungguh menghargai kamu mau datang kesini.” Ujarnya lirih, tetap menatap nisan didepannya, “Tante minta maaf, jika Al pernah..”kalimatnya terpotong oleh isakan tangis perih menyedihkan seorang ibu yang begitu mencintai anak yang telah pulang mendahuluinya.

Tanpa kata Mas Bayu menyuruhku mendekati Tante Rika untuk menenangkannya. Lantas pergi meninggalkan kami, “kutunggu kau dimobil, Sayang” begitu kalimat matanya kuartikan. Ragu kudekati Tante Rika yang masih tersedu, siapapun yang melihatnya menangis seperti itu, akan tahu betapa kasih seorang Ibu begitu besar.

“Tante…” sapaku lembut, ku sentuh bahunya perlahan, dan ikut duduk disampingnya. “yang tabah ya Tan, pada akhirnya kita semua akan kembali,” ucapku hati-hati. Aku tahu kalimat itu akan terdengar begitu klise ditelinganya, tapi apa lagi yang bisa aku katakan?

“Al begitu mencintaimu Dahlia..” terkejut aku mendengar kalimat reaksi Tante Rika yang demikian.

“Tante yang menyuruhnya meninggalkanmu saat itu.” Rupanya Tante Rika sadar suamiku tak ada di antara kami, hingga beliau membicarakan hal ini. Sesuatu yang telah berhasil aku jadikan sebagai masa lalu indah, sebuah episode hidupku yang unik, walaupun tak berakhir baik. Kini kilasan itu terbuka lagi.

Kulihat Tante Rika mengambil saputangan dari tasnya, mata merahnya kini kembali tanpa air mata. Beliau siap melanjutkan cerita, sebuah kisah yang akan menjawab semua rasa ingin tahu-ku dulu, sebuah jawaban atas ‘kenapa’-ku yang tak mampu kumengerti, alasan kenapa Alvian meninggalkanku berkeping tanpa sebab. Apakah sekarang –saat aku akan mendengar kejelasannya- aku siap menerima jawabannya?

“Kau tentu tahu Al selalu menuruti semua yang Tante katakan, itulah pertama kalinya dia menentang keinginan Tante. Pertengkaran terhebat antara Ibu dan anak. Al bersikeras ingin menikahimu, tapi Tante pun tetap tidak ingin memiliki seorang menantu yang membawa gen penyakit turunan ditubuhnya.” Berdesir hatiku mendengar kata demi kata Tante Rika. Ternyata riwayat Diabetes keluargaku-lah yang menjadi alasannya. Bagaimanapun, fakta itu tidak berpengaruh apapun kini. Aku tidak akan berandai-andai kembali ke masa lalu saat aku masih mungkin memperjuangkan cinta kami, tetapi aku tahu Tuhan telah menyiapkan Mas Bayu untukku, bukan seorang Alvian.

“Maafkan Tante, Lia…” kali ini beliau menatapku, “Tante tahu, Tante tidak berhak mengatakan ini padamu, terlebih Tante bisa lihat cinta suamimu begitu besar padamu. Tapi izinkan Tante melanjutkan, anggap saja sebuah pengakuan dosa dari seorang Ibu tirani yang telah menganiaya hidup anak tercintanya” Aku terdiam. Wanita ini pernah akan menjadi ibuku, banyak kenangan manis diantara kami, dan kini saat aku tahu bahwa beliau-lah yang… tak perlu aku lanjutkan, hidup memang selalu penuh kejutan.

“Al tidak pernah berhenti mencintaimu, sedetik pun. Engkau adalah mentari dalam hidupnya. Memang dia menikah dengan wanita yang Tante pilihkan untuknya. Dia menerimanya tanpa protes, menjalankan tugasnya sebagai anak dan suami dengan baik, seperti seorang aktor yang sedang berperan Tante rasa” kulihat senyumnya sinis, pedih. “Tante tahu dia selalu memperhatikanmu dari jauh, mencintaimu dalam diam, dan selalu merasa bersalah telah menyakitimu seperti itu, dia terlalu baik untuk menyalahkan Tante yang berpikiran sempit ini. Tante telah meredupkan hidupnya” Kini Tante Rika kembali terisak. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain diam mendengarkan.

“ Jika saja Tante bisa mengulang waktu, betapa Tante akan merestui kalian berdua dan melihatnya bahagia, Lia. Tetapi tentu semuanya terlambat, Tante telah mendzolimi Alvian, anak tersayang Tante meninggal dalam kepedihannya bertahun-tahun karena tak bisa bersamamu, Lia .” Tangisnya kini meledak, penyesalan selalu menyisakan perih yang tak akan terobati.

Dari kejauhan kulihat Mas Bayu menghampiri kami, rupanya bumi terus berputar dan waktu tetap berdetik. Entah berapa menit berlalu hingga Mas Bayu memutuskan kembali kesini. Jawaban atas tanya yang aku ajukan bertahun lalu jelas sudah. Entah apa rasa yang aku punya detik ini. Lega? Kecewa? Pedih? Apapun itu, aku mensyukurinya. “yang tersisa dari kita berdua adalah masa lalu..” begitu yang Alvian katakan. Memang demikianlah adanya.

Perlahan aku berdiri, beranjak pelan menghampiri Mas Bayu, tak tega aku meninggalkan Tante Rika kembali sendiri di pemakaman yang mulai senyap itu, tetapi tak ada lagi yang bisa aku lakukan disini.

Tante Rika menatap kami, lantas berujar pelan sebelum kami benar-benar pergi “semoga hidupmu bahagia, Lia.”

About these ads

One thought on “Penyesalan Yang Terlambat

  1. Kisah yg nyaris mirip, hanya aku blm memiliki suami tetapi kekasih masa lalu kembali hadir dengan seribu sesal tealah meninggalkanku..but it’s too late to apologize

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s