Si Gadis Jerapah

“Kau tahu, dulu Ibu langsing sekali,” ujar Ibu pelan, seolah berbincang pada dirinya sendiri.

“Ya, sudah sering kulihat foto Ibu waktu masih gadis,” jawabku malas.

“Teman-teman seringkali mengejek ibu dengan sebutan Si Gadis Jerapah.” Informasi ini sudah aku dengar untuk yang kelima ratus tujuh puluh sembilan kalinya! Dan tentu saja, aku adalah Si Gadis Jerapah junior, tapi aku menerimanya dengan lapang dada, dengan tidak sering-sering mengungkitnya seperti Ibu.

“Tapi Ayahmu tetap mengejar-ngejar Ibu.” Diam-diam, aku mendesah, sarapanku terasa membosankan.

“Mungkin itu karena Ibu juga terbilang cantik,” Ibu sedikit tergelak atas ucapannya tadi. Aku mengangguk enggan,

“Malah, dia pernah bilang, dia akan mencintai Si Gadis Jerapah ini sampai mati.” Kulihat siluet Ibu yang seperti tersenyum, menatap keluar jendela, seolah Ayah ada di sana.

“Manis sekali, Bu,” komentarku akhirnya. Setidaknya aku harus berterima kasih atas sepiring nasi goreng yang dibuatkan Ibu dengan mendengarkan ocehannya, bukan?

Aku kembali berfokus pada nasi goreng di piringku, kembali menatap layar ponsel di tangan kiriku, mencermati setiap twit, berharap pacarku menuliskan sebuah twit no mention yang akan membuat hariku lebih ceria. Ha ha! Merasa konyol akan pemikiranku sendiri, aku tersenyum, merasa malu.

“Ah,” seru Ibu saat melihatku tersenyum pada si ponsel. “Dulu ayahmu pun sering sekali menelepon Ibu.” Rupanya nostalgia Ibu masih berlanjut.

Aku kembali menyuap sesendok nasi, lantas mengunyah kerupuk dengan suara seberisik mungkin. Entahlah kenapa para orang tua itu selalu suka bernostalgia semacam demikian. Tidakkah mereka tahu masa lalu sudah berlalu dan tidak akan pernah mungkin kembali terulang? Tapi sepertinya kenangan punya keajaiban sendiri, untuk tetap memaksa hidup pada manusia-manusia yang menolak lupa. Seperti Ibu.

“Dulu kami belum memiliki ponsel seperti milikmu, maka Ayahmu akan menelepon ke rumah Ibu, setiap malam minggu, tepat pukul 7.” Lagi-lagi Ibu tersenyum, menatap keluar jendela, seolah Ayah ada di sana.

“Sayang sekali, Nak, Ayahmu….” Bahaya! Selalu ada adegan yang menakutkan setelah Ibu mengucapkan kalimat semacam ini. Aku tergesa meminum teh hangatku, mengakhiri episode sarapanku lebih cepat daripada seharusnya, dan mengendap pergi.

“Ayahmu selingkuh!” Jerit Ibu kesetanan.

Detik berikutnya entah panci entah kuali terpental ke lantai. Disusul gelas atau piring atau mangkuk yang tak berdaya menemui ajal. Bahkan kali ini Ibu melemparkan entah apa pada jendela yang tadi selalu ditatapnya, suara kacanya yang pecah berderai terdengar memilukan di telingaku.

Selanjutnya, hening yang seolah abadi.

Kuintip Ibu dari balik pintu dapur, rupanya perempuan itu kini terduduk tersedu di antara pecahan beling dan kekacauan yang dibuatnya sendiri. Tak bisa tidak, aku menatapnya iba. Dialah Ibuku, yang dulu adalah Si Gadis Jerapah nan jelita, yang terlampau mencintai Ayah dengan cara yang tak biasa.

“Ibu terpaksa mengambil matanya, Nak, agar Ayahmu tak lagi melihat perempuan lain.” Aku mengangguk, mencoba tersenyum, lantas membantunya duduk di kursi.

“Jangan salahkan Ibu jika kemudian dia meninggal karena kebakaran itu, Nak.” Lagi, aku mengangguk. Detik berikutnya Ibu menangis, menangis, dan terus menangis. Mungkinkah itu adalah tangis penyesalan karena Ibu sendiri yang sengaja membuat rumah kami kebakaran waktu itu? Entahlah, aku tidak tahu.

Perempuan yang dulu adalah Si Gadis Jerapah nan jelita itu mungkin gila, tapi walau bagaimanapun, dia ibuku.

***

Note : 499 kata, untuk Prompt Quiz #5: Burning Giraffes and Telephone, lukisan sureal itu milik Salvador Dali

[Semacam] Review : Everlasting – Cinta Tak Akan Pernah Lupa

EVERLASTING DEPAN

Judul Novel : Everlasting – Cinta tak akan pernah lupa

Penulis: Ayu Gabriel

Penerbit: Stiletto Book

Tebal Buku: 323 Halaman

No ISBN: 978-602-7572-25-6

Blurb

Kayla, 22 tahun, jatuh cinta kepada Aidan. Setiap kali Aidan yang punya bokong seksi itu lewat di depannya, Kayla langsung belingsatan. Namun, Kayla tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan perasaannya karena Aidan adalah bos di kantornya -usinya lebih tua 11 tahun. Ia hanya bisa mengamati dari jauh secara diam-diam sambil mencatat semua hal tentang Aidan di sebuah buku rahasia.

Dengan bantuan Pira, sahabat baiknya, Kayla mulai berusaha mendapatkan cinta Aidan. Kayla pun mengubah dirinya menjadi seperti perempuan impian Aidan : mengubah potongan rambutnya, menato tubuhnya, sampai mengubah selera musiknya.

Ketika Kayla sedang berusaha merebut hati bosnya itu, Dylan, cinta pertama Kayla, tiba-tiba muncul. Kayla sebenarnya sudah lupa siapa Dylan karena dia pernah bersumpah untuk tidak mengingatnya lagi semenjak Dylan dan keluarganya pindah dari Jakarta, 10 tahun lalu. Keinginannya terkabul. Ia tidak ingat sama sekali tentang Dylan atau cinta mereka. Dylan pun memutuskan untuk mendapatkan kembali cinta Kayla yang ia yakini masih bersemayam di hati gadis itu kalau saja ia bisa mengingatnya.

Review

Membaca blurb yang demikian, entah bagaimana saya sudah antipati duluan dengan si tokoh utama Kayla. Bukannya apa-apa, saya paling tidak suka seseorang yang tidak menjadi dirinya sendiri hanya karena dia sedang jatuh cinta semacam itu. Tapi si Kayla ini baru 22 tahun sih ya, dan inipun novel, jadi ya terserah yang nulis lah ya karakter si tokoh mau seperti apa qiqiqiqi.

???????????????????????????????

Terbagi dalam dua puluh dua bab (tidak termasuk prolog dan epilog), novel ini terbilang cukup tebal, apalagi font hurufnya lumayan kecil. Di halaman-halaman awal, saya sudah menemukan keunikan novel ini, karena Kayla membuat daftar ‘hal-hal yang bisa membuatnya bahagia’ seperti terlihat dalam foto di atas. Hal-hal sederhana semacam diskon, mendapat taksi kosong di Jum’at malam, atau sekadar melihat Aidan -bos sekaligus gebetannya- tertawa.

Keunikan lainnya ada dalam karakter Kayla, yang tidak seperti kebanyakan gadis pada umumnya, dia mengumpat dengan kalimat “saus kacang” setiap ada sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Lucu saja sih, membuat saya sedikit berpikir apa gerangan yang dilakukan si saus kacang pada Kayla sehingga bisa-bisanya dijadikan frasa mengumpat *abaikan*.

Konflik dalam novel ini seolah ada dua, yaitu upaya Kayla yang mencoba merebut perhatian Aidan, dan bagaimana Dylan -si cinta pertama Kayla yang terlupakan- mencoba merebut kembali cinta Kayla. Semacam cinta segitiga jenis baru gitu sih ya hihihi. Tapi seru kok, dengan diksi yang tidak biasa dan berbagai dialog cenderung kocak, novel ini tidak membosankan meskipun tebal.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk memanjakan mataku lagi. ia memakai kemeja hijau muda dan terlihat begitu tampan. Aku mendesah diam-diam. Ia menggiurkan seperti es teh lemon di tengah hari yang panas di bulan puasa. (hal 28)
 
Dylan tersenyum lembut. Itu senyum yang sangat berbahaya -jenis yang bisa membuat perempuan rela melakukan apa saja demi melihatnya lagi. (hal 239)

 

Dan yang paling saya suka adalah, penulis secara implisit memasukkan pesan moral tanpa menggurui pada pembaca. Misalnya saja perkataan Dylan pada Kayla berikut, yang secara tidak langsung mengingatkan kembali pada pembaca bahwa sudah seharusnya cinta itu memang tidak bersyarat.

“Jadi, laki-laki itu baru bisa menyukai kamu kalau kamu punya tato, begitu?” ejeknya. “Dia nggak bisa menyukai kamu apa adanya?” (hal 153)

Atau, kalimat Pira berikut, bahwa seorang pencinta -yang terlanjur terbutakan cinta- seringkali tidak menyadari bahwa mereka tidak betul-betul mencintai seseorang, katakanlah, mereka cuma merasa ‘terpikat’ :).

“You don’t love him, you just love the idea of loving him” (hal 215)

Jika ada sesuatu yang ‘mengganggu’ dalam novel ini, adalah tentang hilangnya ingatan Kayla atas Dylan. Meskipun saya yakin Mbak Ayu Gabriel sudah melakukan riset tersendiri untuk hal ini, sebagai orang awam saya kurang bisa menerima bahwa seseorang bisa melupakan masa lalunya begitu saja. Satu folder yang berisi Dylan (bahkan keluarganya) seolah ter-delete dan tidak ada lagi di ingatan Kayla. Padahal, bukankah kejadian yang traumatis itu justru susah dilupakan? Kecuali Kayla memang menjalani hypnotherapy atau apalah ya, tapi seingat saya hal ini tidak dijelaskan dalam novel. Kayla hanya tidak ingin mengingat kejadian saat Dylan pergi sepuluh tahun lalu, dan voila, dia pun melupakan semuanya. Bagi saya, hal ini terlampau ajaib.

Tapi ganjalan di atas tidak membuat saya tidak bisa menikmati novel ini secara keseluruhan. Karakter tiap tokoh sangat kuat, bahkan untuk karakter Jessica sebagai ‘pemain figuran’ seksi yang menjadi rival Kayla dalam mencari perhatian Aidan, misalnya. Saya bahkan sangat menyukai karakter Pira, sahabat Kayla yang selalu jujur mengatakan ketidaksetujuannya demi kebaikan Kayla.

Ya sudah, demikianlah [semacam] review ini, Everlasting cocok sebagai bacaan ringan di penghujung hari menemani secangkir teh hangat, bisa membuat Anda tergelak, gemes, sebel, gregetan, dan kemudian tersenyum puas atas endingnya yang menyenangkan :).

PS : Pssstt, mbak Ayu, spesial request nih, novel selanjutnya kisah Pira sama Pras ya hihihihi.

Sarjana

Alhamdulillah, setelah sidang skripsi (Juli) dan wisuda (September) 2011 lalu, saya resmi menjadi seorang sarjana per 21 Agustus 2014, karena Ijazah (berikut transkrip nilainya) baru ada di tangan saya hihihihi.

Maafkan kenorakan (atau kesombongan?) saya ini temans. Tapi boleh ya saya gembira -dan bangga- karena ternyata, IPK saya 3,84 lho. Ini sulit saya percayai karena saya belajar menggunakan sisa-sisa tenaga sepulang ngantor. Seingat saya, nilai-nilai saya pas-pasan meskipun tidak terlampau jelek, tapi rupanya setelah digabungkan dengan nilai-nilai sebelumnya, hasil akhirnya masih tetap bagus :D

Si transkrip nilai dan ijazah ituh!

Si transkrip nilai dan ijazah ituh!

Terkadang saya bisa sangat perfeksionis untuk urusan mengejar target nilai, menghapal materi atau menyerahkan tugas, harus semaksimal dan sebaik mungkin. Tapi saat itu, saya pasrah saja mengerjakan semua hal tersebut dengan standar yang ala kadarnya. Yang penting saya tidak perlu mengulang mata kuliah, yang penting saya bisa menjawab soal seadanya saat ujian, yang penting saya bisa menyerahkan tugas sesuai tenggat waktu, semacam itulah. Maka hasil akhir yang -Alhamdulillah- masih bisa cum laude ini membuat saya bangga pada diri saya sendiri. I am proud of you, Rin *tepuk bahu* :)

Bagi sebagian besar orang, menjadi sarjana mungkin merupakan hal yang biasa-biasa saja, semacam sebuah kewajaran yang pasti terjadi dalam kehidupan seorang manusia. Tapi bagi saya, proses menuju ke sana telah melalui perjuangan tersendiri.

Setelah gagal dua kali mengikuti UMPTN, saya berbesar hati untuk hanya kuliah Diploma 3. Itu pun dengan susah payah, karena Bapak saya sudah pensiun, sementara adik-adik saya masih bersekolah. Maka saya menjadi seorang beasiswa hunter *halah*, Alhamdulillah,  uang semester saya beberapa kali dibayari kampus. Tidak itu saja, selain berbagi kamar kostan untuk berhemat, saya terpaksa puasa senin kamis dan jarang jajan hanya demi menjaga si uang saku (yang tidak seberapa) tidak cepat habis.

Hingga menerima jasa pengetikan bagi teman-teman pun saya lakukan, saat dosen memberikan tugas membuat paper, saya rayu teman-teman supaya menggunakan jasa saya, seribu rupiah per lembarnya. Dengan cara ini (setidaknya) saya bisa mengeprint paper saya sendiri dari hasil menjadi tukang ngetik tersebut. Bahkan saya ingat, beberapa kali saya meminjam komputer di Student Center untuk menghemat uang sewa ke warnet saat menjalani profesi ini hihihi *nyengir*.

2003, Kuliah Diploma 3 selesai, saya tidak punya pilihan lain selain segera mencari pekerjaan. Lupakan saja meneruskan extension S1, apalagi meneruskan kuliah ke Jepang seperti teman-teman, atau menikah *eh? punya pacar pun tidak saat itu hihihihi*. Saya harus menyimpan keinginan untuk menjadi sarjana itu di sudut hati.

Bertahun-tahun kemudian, keinginan itu muncul kembali ke permukaan. Kali ini saya tidak mau tetap menyimpannya sebagai sebuah keinginan belaka, toh saya sudah bisa membiayai hidup saya sendiri. 2009, saya mengambil kuliah malam di sebuah universitas yang cukup dekat dari kantor. Meskipun ‘dekat’ sudah memiliki definisi yang bergeser di Jakarta ini, karena bisa dipastikan saya selalu datang terlambat di kelas pertama karena macet, malah dosen saya akan takjub kalau saya sudah stand by di kelas sebelum beliau masuk, saat ujian, saya terpaksa harus cuti supaya tidak terlambat datang :D.

Begitulah. Meskipun tertatih tersandung, saya bisa menyelesaikannya. Meskipun status saya berubah menjadi seorang istri di tengah-tengah perjalanan, saya bisa tetap menjadi seorang mahasiswa hingga titik akhir. Meskipun saya heran juga kenapa justru setelah selesai saya malah menunda-nunda untuk mengambil ijazah dan transkrip nilai itu ya? hihihihi.

Tapi ya sudahlah, intinya saya sedang gembira temans. Satu impian saya terwujud sudah. Someday, somehow, saya ingin melanjutkan S2, sepertinya akan menyenangkan mempelajari psikologi pendidikan atau filsafat *ups* hahahaha. Untuk sekarang, saya simpan dulu saja keinginan itu di sudut hati, semoga kelak saya bisa juga meraihnya. Aamiin :)

Terakhir, ini dia foto wisuda saya September 2011 lalu, bersama ci Akang Matahari yang kabarnya sekilas mirip Ariel hohoho.

IMG_20140821_162423

Foto yang sudah disimpan di gudang, keberuntungan tersendiri saya masih bisa memilikinya :)

Sepotong Doa Milik Danu

“Apa yang kau inginkan untuk ulang tahunmu, Nak?”

“Danu mau es krim, Pak.”

Permohonan Danu dua hari lalu itu masih jelas terngiang. Di bawah terik matahari siang, dari belakang Danu bisa melihat Bapak mengangguk-angguk mengerti saat itu. Tangan kecilnya mendorong kuat gerobak yang ditarik Bapak dari depan. Isinya tidak seberapa, hanya sebuah kompor gas rusak dan beberapa tumpuk koran bekas. Entah berapa rupiah yang bisa mereka tukarkan untuk barang-barang itu. Danu tahu, bocah sepertinya tidak pantas menginginkan semangkuk es krim mahal. Tapi ulang tahun selalu membawa keajaiban tersendiri, maka Danu berani bermimpi.

Es krim coklat dengan taburan biskuit hitam dan serpihan coklat itu kini telah berada di depan mata, seharusnya Danu bahagia, tapi tak ada yang Danu rasakan selain penyesalan.

“Makanlah, Nak. Dan berdoalah untuk kebaikanmu di masa-masa mendatang.” Parau, sekali lagi Bapak meminta Danu menikmati hadiah ulang tahunnya itu.

Danu mengangguk lantas menunduk, tak mampu lagi melihat bibir Bapak yang berdarah, kening Bapak yang lebam, atau pipi tirus Bapak yang membiru, entah apa yang sudah dilakukan Bapak demi es krim itu. Lirih, dirapalnya sepotong doa, berharap Tuhan sudi melenyapkan seluruh es krim di muka bumi, hingga tak perlu lagi Danu mengingininya, hingga tak perlu lagi Bapak terluka karenanya.

Note : 199 kata, ditulis khusus untuk Monday Flash Fiction Prompt #59: Sundae.

Al Quran Baru

Sepanjang karier kepenulisan saya *tsaaaah, meni gaya pisan :P* baru kali ini lho kegembiraan saya terasa begitu berbeda. Sebentuk hadiah -apapun bentuk dan wujudnya- memang akan selalu menyenangkan saat kita menerimanya, sepakat? Tapi ya itu tadi, hadiah kali ini menimbulkan kebahagiaan ajaib, sebuah kegembiraan asing yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan saat menerima sebuah hadiah dalam sebuah lomba menulis.

Sebelum semakin lebay, ini dia hadiah -yang adalah sebuah Al Quran- yang baru saja saya terima karena Berkah Ramadhan, cerita sederhana yang saya tulis saat Ramadhan lalu, rupanya menjadi salah satu pemenang dalam lomba tersebut.

Al Quran yang terlampau cantik untuk diabaikan begitu saja..

Al Quran yang terlampau cantik untuk diabaikan begitu saja..

Azalia Hishna ini (namanya cantik sekali :)) memang ditujukan untuk kaum muslimah, beruntung (?) juga saya dikirimi yang warna pink begini hihihihi. Maka selain dilengkapi terjemahan Al Quran, Asbabun Nuzul dan Fadhilah Ayat, juga terdapat banyak Hadits-hadits khusus yang menerangkan tentang wanita dan keluarga.

Alhamdulillah yaa :)

Seperti yang sudah saya katakan tadi, hadiah ini sangat berbeda, karena selain gembira-bahagia, saya merasa ‘disentil’, semacam pertanda bahwa saya diminta untuk lebih sering membacanya, mengkaji nilai-nilainya, untuk kemudian mengamalkannya.

Semoga ya :)

PS : Terima kasih banyak untuk Syaamil Quran ^^

 

 

Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Temans, rasanya tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf, betul?

Maka maafkanlah saya, untuk semua pilihan kata yang mungkin kurang berkenan, untuk setiap kalimat yang mungkin menyinggung kalbu, untuk segala gambar yang mungkin melukai jiwa, mohon saya dimaafkan ya temans :)

Baiklah, begitu dulu saja ya, salahkan saja mood ngeblog saya yang sepertinya masih ingin libur lebaran jadi tidak bisa berlama-lama ngeblog *alesyan* hihihi.

Ketupat Lebaran :)

Ketupat Lebaran :)

See you around, Pals ;)