Hari Pertama Qy

Qy terengah. Entah apa yang sudah dilakukannya sebelum ini, tapi Qy merasa lelah luar biasa. Hanya setelah dua langkah, dia ambruk ke tanah. Ralat, di bawahnya bukan tanah coklat seperti seharusnya, tapi butiran-butiran pasir berwarna abu. Bertumpu pada lututnya yang nyaris tak bertenaga, Qy mencoba duduk, tangannya menyentuh pasir abu yang terasa hangat. Menatap ke sekelilingnya yang begitu asing, Qy gentar, lantas memeluk lutut sedikit takut. Dimana aku? Qy bertanya entah pada siapa.

Sejauh mata memandang, yang dilihatnya hanyalah hamparan pasir belaka. Melihat ke arah manapun, pasir berwarna keabuan itulah yang dilihatnya, yang seperti menyatu dengan langit bersemu keunguan di atasnya. Qy mencari-cari jejak kakinya beberapa saat lalu, sudah hilang sempurna. Kini, bahkan dia tidak tahu, dari mana tadi dia datang, dan hendak ke mana lagi kakinya akan diajak melangkah.

Kenyataan ini membuat Qy mulai menduga, bahwa dia sedang berada di sebuah tempat yang dulu sekali bernama samudera. Tapi Qy tidak bisa membayangkan seperti apa rupa samudera jika dia belum pernah melihatnya sama sekali, maka dia menepis dugaannya sendiri. Lagipula, menurut legenda samudera berisi banyak ikan dan binatang-binatang laut lainnya, dan di tempatnya duduk sekarang, tak ada sesuatu yang menyerupai hal semacam itu. Bahkan….

“Lihat, Kak! Sepertinya manusia baru itu bingung.” Sebuah suara memotong lamunan Qy, sayup, suara itu begitu jauh, seperti berasal dari masa lalu. Lantas detik berikutnya derai tawa menggema. Terdengar begitu mengintimidasi Qy, suara itu membuatnya jeri.

Qy berupaya mengingat, apa yang sedang dilakukannya sebelum berada di hamparan pasir berwarna abu ini, tapi nihil, ingatannya seperti kosong, tak ada memori apapun di sana yang bisa Qy temukan.

“Kita adu dengan yang mana? Yang botak ini? Atau yang keriting?” Suara lain terdengar di atas sana, berseru gembira saat tawa-tawa itu mereda. Qy menengadah, berpikir dari mana suara-suara itu berasal.

“Yang botak saja,” jawab Si Suara Pertama. Tak lama langit keunguan di atas Qy bergerak, membawa selarik cahaya yang membuat Qy menunduuk melindungi matanya. Lantas seorang lelaki berkepala botak meluncur jatuh.

Tubuhnya menimbulkan debum kecil saat mendarat di pasir tak jauh dari Qy. Lelaki itu mendengus, seperti kesal, dan langsung berdiri menepis butiran pasir dari bajunya yang berbercak merah kecoklatan. Tangan dan kakinya bertabur luka, bahkan mata kirinya lebam, biru kehijau-hijauan.

“Kau terluka?” tanya Qy pada si lelaki botak. Bercak di bajunya terlihat seperti noda darah yang sudah lama mengering di mata Qy.

“Siapa namamu?” Pertanyaan Qy malah dijawab Si Lelaki Botak dengan pertanyaan lain. Matanya menatap Qy lurus.

“Qy,” jawab Qy pendek. Mengamati lelaki botak penuh luka di depannya. Menduga-duga bagaimana lelaki botak itu muncul seperti jatuh begitu saja dari langit, setelah suara yang tak terlihat itu mengatakan ‘yang botak saja’?

“Aku Xa,” jelas lelaki itu. “Dan sepertinya kau baru saja menetas, Qy.” Lantas Xa menyalami Qy, bahkan tak lama kemudian memeluk Qy erat, ujung matanya berembun, sesungging senyum terbit di bibirnya yang kering.

“Selalu menyenangkan bertemu manusia yang baru menetas,” ujar Xa lagi. Membuat dahi Qy mengernyit. Tidak bisa percaya apa yang baru didengarnya dari Xa barusan. Menetas? Bagaimana mungkin! Xa malah terbahak melihat tampang Qy yang pasti menurutnya sungguh lucu.

“Ma-maksudmu, aku berasal dari…sebutir telur?” tanya Qy sangsi, semuanya masih serba membingungkan, dan Qy akan marah jika Xa hanya sedang menggodanya.

“Begitulah.” Jawaban santai Xa tidak membuat Qy tenang. Qy tahu dia adalah manusia, seperti juga Xa Si Lelaki Botak yang penuh luka di depannya. Tapi sejak kapan manusia bertelur?

“Kita dimana?” Menyerah atas perkara manusia yang berasal dari telur, Qy beralih ke pertanyaan lain.

“Di dalam kotak mainan dua pohon beringin itu,” jawab Xa, dagunya menunjuk ke atas, ke arah langit ungu tempat tadi dia terjatuh. Kotak mainan?! Teka teki ini semakin membingungkan Qy.

“Jadi? Suara-suara yang kudengar tadi…”

“Suara dua batang pohon beringin yang memelihara telur kita hingga menetas.” Xa menyelesaikan kalimat Qy. Seharusnya penjelasan itu membuat Qy paham, tapi nyatanya, Qy semakin tidak mengerti.

Xa menghela napas, tahu bahwa Qy yang baru menetas belum bisa mengerti apa-apa. “Bumi tempat nenek moyang kita dulu hidup sudah musnah, Qy.”

“Hah? Kapan?”

“Entahlah, mungkin ribuan tahun lalu, aku tidak tahu persisnya. Aku pun hanya mendapat cerita-cerita dari petarung-petarung senior sebelum aku.”

Qy masih mengernyitkan keningnya. Merasa aneh mendengar penjelasan Xa yang sangat tidak masuk akal. Tapi dia sendiri tidak memiliki jawaban yang lebih logis untuk pertanyaannya sendiri. Qy tidak punya ingatan apapun, sekaligus tahu bahwa apa yang dikatakan Xa tidaklah seharusnya begitu.

“Leluhur kita terlalu tamak, Qy. Mereka mengeruk bumi tempat berpijak dengan semena-mena, mengotorinya dengan limbah, merusak dan menghancurkan bumi perlahan.”

Qy masih geming, menatap kosong pada Xa yang sedang mondar mandir di depannya menjelaskan.

“Konon, semuanya berakhir saat leluhur kita membakar hutan, bahkan samudera sampai mengering, menjadikan bumi hangus seluruhnya. Hal itu membuat pohon-pohon yang tersisa akhirnya melakukan pembalasan yang mengubah segalanya, mereka pergi dari bumi yang perlahan-lahan mengeropos dan menguap.

Qy menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin bumi bisa menguap di jagat raya hanya karena manusia membakar hutan? Blah! Xa sepertinya sedang mendongeng.

“Dan di sinilah kita berada sekarang, Qy, di negeri para pepohonan, planet yang tidak mungkin kita jelajahi, karena takdir kita di sini adalah sebagai makhluk tak berdaya yang dijadikan sebagai mainan penghibur.”

Dahi Qy kembali mengernyit, cerita Xa terlalu absurd untuk bisa dipercayai.

“Manusia sudah punah, Qy. Para ilmuwan pepohonan hanya mengambil contoh DNA dari leluhur kita, menciptakan telur-telur manusia yang akan menetas setelah beberapa saat, untuk kemudian mati setelah dipaksa bertarung beberapa hari.”

Qy mendongak, “bertarung?” tanyanya terkejut.

“Ya, mereka menjatuhkanku di sini untuk bertarung denganmu, Qy.”

“Tapi aku tidak ingin bertarung denganmu, Xa.”

“Kau tak punya pilihan. Kau boleh saja menolak bertarung denganku, tapi nanti akan ada petarung lain yang datang untukmu. Melihat kita bertarung adalah hiburan yang menyenangkan buat mereka.”

“Tapi…”

“Membunuh sebelum dibunuh, sesederhana itu, Qy.”

Qy menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak setuju meski tidak tahu apa yang harus dilakukannya, selain bertarung melawan Xa yang sudah penuh luka dimana-mana.

“Kak, kenapa mereka diam saja?” Suara tak terlihat itu terdengar lagi. Qy mengenalinya sebagai Si Suara Pertama. Apakah Xa benar? Mereka -suara-suara di atas sana itu- ingin melihat mereka berdua bertarung? Qy ingin protes, kalau leluhurnya yang telah berbuat jahat pada kaum pepohonan di bumi dulu, kenapa dendam mereka diwariskan pada Qy dan Xa yang bahkan menetas dari sebutir telur? Tidak adil!

“Qy, kau pasti bisa membunuhku. Toh kau memang masih muda, tenagaku sudah banyak terpakai bertarung dan akan segera habis, sementara kekuatanmu masih sempurna,” ujar Xa seraya mengepalkan kedua tangannya, kakinya sudah memasang kuda-kuda sempurna.

Qy terpana memandang Xa yang kini telah berubah bak petarung tangguh yang berdiri tegak di depannya. Instingnya menyuruh Qy melakukan hal yang sama, bersiap diri menerima serangan Xa di depannya. Masih banyak yang belum Qy mengerti, maka dia belum bisa mati.

Sayup, kedua suara kasat mata di atas mereka, yang terdengar begitu jauh bagai berasal dari jutaan tahun cahaya, berseru berteriak gembira menonton Xa yang mulai menyerang Qy.

Ini hari pertama Qy, Xa yang akan mati.

***

Note : 1131 kata, untuk #30DaysSaveEarth

Si Mata Hijau

Ia menatapku lurus dengan mata hijaunya. Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan? Seharusnya aku segera angkat kaki dari sini.

“Dari mana?” tanyanya angkuh, tanpa senyum. Membuatku urung untuk mendekat, walaupun sepertinya aku tidak bisa pergi.

“Mmm…” Antara gigil dan khawatir, suaraku gemetar.

“Atau, mau kemana?” tanyanya lagi tak sabar karena gumamanku tak bisa dianggap sebagai jawaban. Suaranya yang dingin terdengar penasaran sekaligus tak peduli, dan buatku, terdengar sangat mengintimidasi, bisa membuatku mati berdiri.

Aku belum sanggup menjawab, mata hijaunya seolah menyihirku untuk tetap membisu. Kalau saja hujan tidak turun, seharusnya aku meneruskan perjalanan, tak perlu berhenti di halte kosong seperti ini, apalagi saat dia sudah berada di sini sebelum aku datang. Tapi aku bisa apa? Aku tak lagi muda, usia memaksaku untuk mengalah dari butiran hujan yang bisa kapan saja membuatku mati kedinginan.

“Bisu kau rupanya, atau hanya malas berbincang denganku?” tanyanya lagi, mata hijaunya melirikku sekilas, lantas kembali menatap hujan di depannya.

Aku masih geming, menelan ludah susah payah, mencoba berpikir mengukur kekuatan. Resikonya terlihat sama, entah oleh hujan entah oleh Si Mata Hijau, dua-duanya bisa membuatku berakhir menjadi sesosok makhluk yang tak bernyawa.

“Tenang saja, aku tidak suka tikus kurus renta sepertimu,” ujar Si Mata Hijau, melirikku sekali lagi, tanpa nafsu apapun. “Kau boleh menemaniku sampai hujan berhenti nanti.”

Ah, ternyata Si Mata Hijau ini hanyalah kucing tua, pasti giginya sudah banyak yang tanggal hingga tak bisa mengunyahku di mulutnya, dan mungkin perlu teman bicara untuk bernostalgia. Ha ha! Tak apalah, setidaknya, aku bisa bernapas lega menunggu hujan reda bersamanya.

***

Note : 252 kata, geje banget ini ceritanya hahaha :P. Well, jika ingin ikut bercerita sila klik aja ya ~> Prompt #63: Si Mata Hijau

Pernah Kecil

_DSC0676

Itu adalah saat saya berpakaian khas…apa ya, lupa (ha ha :P) untuk pesta kelulusan TK. Zaman itu mah belum ada wisuda bertoga dan segala macam itu, paling kami tampil menari bernyanyi dan apalah itu. Seingat saya, kami masing-masing berpakaian daerah yang berbeda, lantas memasuki panggung berurutan sambil membawa bendera merah putih dari kertas sambil menyanyi entah Indonesia Raya entah Garuda Pancasila, intinya sih menunjukkan ke-Bhineka Tunggal Ika-an Indonesia begitulah. Ada yang kangen masa-masa jadi anak kecil unyu-unyu juga ngga? :)

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 49

Reviewer of The Month (2)

Masih tentang Reviewer of The Month nih temans, maaf ya kalau bosan hihihihi.

Jadi, rupanya Stiletto juga mengadakan Free Talk pada si reviewer, semacam interview gitu lah ya. Free talk ini dilaksanakan tanggal 19 September kemarin, pas wedding anniversary saya *tsaaaah* :P. Kami melakukan si free talk ini di fan page-nya Stilo, barangkali ada yang penasaran seperti apa obrolan saya dengan mereka, sila cek link berikut ya : Free  Talk bersama Stiletto

Padahal, saya cukup sering diwawancara oleh media online ataupun radio saat Little Stories baru launching dulu, tapi Free talk ini lumayan membuat saya deg-degan juga ternyata hahaha. Kalau dulu kan pasti beramai-ramai dengan teman-teman ya, nah kemarin ini saya cuma sendirian, ya jadi berasa horror aja gituh qiqiqiqi. Tapi Alhamdulillah Free talk-nya lancar-lancar aja sih, meskipun sebelumnya saya sempat ‘tersesat’, tidak bisa menemukan fan page Stiletto Book *nyengir*.

Dan besoknya, hari sabtu siang, hadiah dari Stilo pun datang. Ini dia penampakannya :).

Stilo

Tukang baca dikasih buku tuh ya pastinya seneng buanget dong ya, walaupun PR buku yang mesti dibaca jadi semakin bertambah, kecepatannya tidak berbanding lurus karena waktu membaca tidak bisa ditambah. Padahal ada 3 buku lain yang mau saya beli, gimana dunk ya hihihihi.

Ya sudahlah ya, mari kita sudahi saja. Sepertinya saya harus segera mematikan laptop dan mulai membaca agar tumpukan buku saya tidak semakin menggunung :D. Terima kasih ya Stilo, untuk Free Talk dan hadiahnya :).

Happy day, Pals ;)

Bring Home The Colours of The World

Asyik ya tagline Dulux Pentalite untuk palet warna terbaru mereka ini? Jadi penasaran ‘world’ bagian mana saja nih yang bisa dibawa ke rumah hohohoho.

Alhamdulillah, rasa penasaran saya bisa terobati saat tanggal 16 September lalu, karena saya berkesempatan hadir dalam acara press conference Dulux di The Foundry 8 level II, SCBD Jakarta.

Begitu memasuki lantai 2, saya langsung melihat booth-booth kecil dengan background warna warni dengan gradasi warna senada. Dari booth ini rasa penasaran saya mulai terjawab, setiap warna mewakili negara yang menjadi inspirasi Dulux untuk warna terbaru mereka. Semuanya ada 9 palet warna, dengan masing-masing warna memiliki 6 gradasi yang indah. Warna-warna tersebut adalah sebagai berikut:

Dulux

Sudah terbayang kan ya gradasi warna-warna cantik dari tiap negara inspirasi itu? Kalau penasaran, sila segera klik situs www.coloursoftheworld.co.id untuk lebih detailnya. Sejujurnya, saya tidak bosan melihat warna-warna di sana, seraya berimajinasi bagaimana jika warna tersebut menjadi cat di dinding rumah saya. Mungkin karena saya juga bernarsis ria di beberapa booth yang sudah disediakan ya hihihihi.

Tadinya sih mau berfoto di tiap booth, tapi ya kalau begitu kok saya seperti tidak tahu malu ya hahahaha :P.

Nah, sebelum acara inti dimulai, saya beserta tamu undangan lain dipersilakan untuk makan siang terlebih dulu, ditemani live music dari band yang membawakan lagu-lagu asyik, menikmati hidangan yang ada sambil ngobrol ngalor ngidul dengan mbak Wulan dan mbak Dinda -markom dari Dulux- tentang banyak hal. Saya baru tahu, bahwa AkzoNobel (perusahaan cat dan pelapis yang salah satu produknya adalah Dulux), berkantor pusat di Amsterdam, Belanda. Beroperasi di 80 negara dengan 50.000 staff, Dulux Pentalite juga memberikan hasil pengecatan terbaik berkat ProCover Technology yang memberikan hasil akhir lebih halus, daya sebar lebih luas, dan warna tahan lama, tidak heran lah ya kalau mereka menjadi salah satu perusahaan terpercaya di dunia.

Selesai bersantap siang, para undangan diajak ke tempat press conference akan segera berlangsung. Ini semacam before-after panggung. Foto kiri waktu masih sepi, maklum, saya sengaja datang lebih cepat khawatir nyasar-nyasar dulu he he. Foto kanan adalah akhir acara, sebelum media bisa mewawacarai in personal  setiap nara sumber.

Sebelum mbak MC membuka acara, ada semacam drama singkat, yang bercerita tentang sebuah keluarga (ayah, ibu, putra dan putri) yang sedang bosan di rumah, saling cuek dan sibuk sendiri-sendiri, pokoknya nggak hepi lah ya. Lantas mereka pun (ceritanya) berlibur, main samurai di Jepang, atau sok-sokan mencoba bermatador ria di spanyol. Dan mereka pun akhirnya membawa pulang kebahagiaan saat berlibur itu ke rumah.

Dalam sebuah riset yang dilakukan Dulux di Indonesia, ternyata 1 dari 3 keluarga merasa hubungan antar individu kurang dekat, sehingga 98% responden menyatakan, liburan atau berwisata bersama keluarga bisa mendekatkan kembali hubungan yang nyaris renggang itu. Tidak bisa disangkal, liburan mampu merekatkan sebuah keluarga, mempererat kembali hubungan dari setiap individunya, dan menciptakan suasana hangat dan atmosfir penuh cinta. Tapi liburan pun tidak bisa dengan mudah dilakukan oleh setiap keluarga, bukan? Mencari waktu yang tepat bagi semua anggota keluarga, hingga biaya yang terkadang belum memungkinkan, membuat wacana liburan keluarga semacam ini pun sulit dilakukan.

Maka dari inspirasi dan hasil riset tersebut, Dulux Pentalite meluncurkan kampanye baru bertema “Dulux Pentalite Colours of The World” ini. Harapannya, dengan palet warna yang terinspirasi dari 9 negara tujuan wisata favorit yang dikeluarkan Dulux, tempat wisata impian itu bisa ‘dibawa’ ke rumah, dan bisa dinikmati seluruh keluarga. Demikian yang dijelaskan oleh Bapak Mediko Azwar, perwakilan dari Dulux. Konsep yang sangat luar biasa ya.

Sementara pasangan selebritis Adrian Maulana dan Dessy Ilsanty yang sengaja mengecat dinding rumah mereka dengan warna-warna palet Zen Jepang untuk terus mengingatkan momen kebersamaan mereka saat berlibur di sana. “Rasanya seperti berlibur setiap hari, dan kami jadi lebih betah di rumah,” ungkap mereka. Bahkan, Adrian bercanda, bahwa pasca rumah direnovasi dan menggunakan cat dinding Dulux, istrinya hamil lagi setelah putri mereka berusia 12 tahun karena mereka jadi lebih sering berada di rumah bersama-sama.

*Errr…apa saya ganti cat rumah juga ya biar bisa hamil #eh? qiqiqiqi. Abaikan!*

Dessy, yang juga merupakan seorang psikolog, menegaskan bahwa pilihan warna bisa berpengaruh secara psikologis pada setiap individu di rumah tersebut. Warna bisa menciptakan energi positif di dalam lingkungan keluarga yang pada perannya mampu membina dan menciptakan kembali hubungan erat di dalam keluarga. “Dengan hadirnya ’Dulux Pentalite Colours of the World’, suasana rumah terasa semakin nyaman dan proses bonding untuk menjaga keakraban keluarga kami jadi lebih mudah,” ungkapnya.

Lebih jauh, Dessy menjelaskan bahwa proses memilih warna itu sendiri bisa mengaktifkan kembali fungsi komunikasi dalam keluarga, bahkan untuk melatih beropini dan bertanggung jawab, anak bisa diberi kebebasan untuk memilih warna kamarnya sendiri, misalnya.

Lain lagi yang dialami Amalla Vesta Widaranti, seorang travel writer, yang selalu membayangkan betapa serunya bila suasana tempat liburan favoritnya bisa hadir di dalam rumah. “Saya sangat menyukai momen-momen saat travelling baik sebagai travel consultant, maupun saat bersama keluarga dan saya sangat ingin bisa mengulang kembali pengalaman dan spirit of adventure ini saat berada di rumah. Kini, dengan ‘Dulux Pentalite Colours of The World’, setiap kali di rumah, saya selalu memiliki mood positif yang biasanya hanya saya dapatkan saat travelling,” kata Vesta.

Duh, jadi tambah mupeng deh mengubah interior rumah saya dengan warna-warna dari Dulux Pentalite Colours of The World deh *mulai nabung*.

Oh iya, berhubung saya ke sana karena undangan KEB (Kumpulan Emak-emak Blogger), tidak sah kalau tidak saya pasang juga foto-foto heboh kami selama di sana kan ya? hehehe.

Ada yang mau ganti cat rumah juga kah? :)

4th Anniversary

Di antara banyak sekali PR menulis yang membuat saya bingung mana yang harus saya kerjakan, mari kita merayakan kebahagiaan hari ini terlebih dulu. Bukan, bukan karena hari ini sudah Jum’at, TGIF buat saya tidak terlalu berpengaruh, walaupun hari Jum’at tetap menyenangkan sih ya, secara besok kan sudah weekend he he.

Kebahagiaan yang saya maksud adalah bahwa hari ini, 19 September 2014, adalah 4th anniversary pernikahan saya dengan Akang Matahari. Alhamdulillah :)). Mohon doanya ya temans, supaya kami berdua bisa saling membaikkan satu sama lain, dan happy terus hingga ke surgaNya kelak, Aamiin.

???????????????????????????????

4 tahun lalu, sesaat setelah resmi menjadi suami istri :)

Ya sudah begitu dulu, temans, saya harus mengerjakan PR lagi hihihi. Have a great weekend, Pals ;)

Weekly Photo Challenge : Humanity

Berhubung sudah lama sekali saya melewatkan WPC, jadi untuk tema kali ini bukan silent post seperti biasanya, mohon dimaklumi :D.

Tema kali ini sangat menarik, karena saya punya hobi yang -katakanlah- sedikit aneh yang (mungkin) sedikit bersinggungan dengan hal ini. Saya tidak ingat kapan tepatnya saya memulai ‘kebiasaan’ ini, saya seringkali memerhatikan orang-orang di sekitar saya, lantas meng-capture mereka dalam sebuah frame  yang ada di kepala saya. Setelah itu, saya akan membiarkan imajinasi saya beterbangan liar karena ‘potret’ tersebut, mencari sebuah kisah yang bercerita dari sebuah gambar yang berbicara tanpa kata. Nah, kalau temans mulai berpikir saya sedikit gila yaa…tidak bisa saya salahkan sih hihihihihi.

Jadi begitulah, jauh sebelum saya memiliki ketertarikan akan fotografi, bahkan jauh sebelum saya memiliki sebuah kamera (atau ponsel berkamera), saya sudah sering sekali memerhatikan orang-orang di sekeliling saya. Seolah banyak dari mereka memang  memiliki kisah istimewa tersendiri yang menunggu untuk ditemukan *tsaaah*.

Ah, sudahlah ya, mari kita hentikan saja omong kosong itu :P. Karena ternyata foto-foto bertema humanity yang saya miliki sudah lumayan banyak yang saya tampilkan di sini, hingga (sepertinya) hanya tersisa foto berikut yang belum pernah saya pajang.

@Kasongan-Yogyakarta

@Kasongan-Yogyakarta

Monks at Grand Palace

Monks at Grand Palace

The Old Man Biker :)

The Old Man Biker :)

Tapi barangkali penasaran, berikut foto-foto bertema sama yang pernah saya tampilkan, semoga tidak bosan, dan bisa menyampaikan sebuah kisah pada teman-teman he he.

Well, happy day, Pals ;)