Melangkah

May 20, 2013 § 5 Comments

 

_DSC0257

Aku tak punya tujuan, katamu sendu.

Tak mengapa, selama kau selalu melangkah, maka kelak kau akan tiba di sebuah tempat, ucapku ragu.

Tapi kemana? Tiba di mana? tanyamu lagi mendesak.

Jalanan ini pasti akan berhenti di suatu titik bukan? Jawabku pelan, lebih ragu.

Bagaimana jika aku tidak mau ke sana? Atau aku tidak suka tempat itu? tanyamu lagi lebih gencar.

Kau selalu bisa berhenti sejenak, berbelok ke arah lain, atau berbalik menuju tempat kau memulai segalanya kalau perlu. Yang penting adalah kau terus bergerak, tetap melangkah, karena diam di tempat selalu bermakna sia-sia belaka.

Dia tersenyum. Aku tersenyum. Mereka tersenyum. Kami akan melangkah bersama-sama, kemana pun sang kaki melangkahkan dirinya.

*Note : Foto di ambil di pulau Onrust – Kepulauan Seribu , untuk Turnamen Foto Perjalanan Ronde-21.

[Berani Cerita #12] Taruhan

May 17, 2013 § 12 Comments

Lapangan basket mulai sepi, tapi beberapa anak masih berlatih memasukkan bola. Padahal latihan sudah aku hentikan sejam lalu. Ah, anak muda, energi mereka seolah tak bisa habis. Aku tersenyum sendiri melihat mereka, bernostalgia ke zaman berseragam putih biru bertahun lalu.

Dado dan Faisal rupanya sudah hendak pulang, mereka sedang membereskan tas sambil mengobrol. Iseng, aku dengarkan percakapan mereka tanpa menoleh dari tempatku berdiri.

“Do, lo serius ngga punya sepatu lain?”

“Ngga. Emangnya kenapa? Masalah buat lo?”

“Iya lah, lo bakalan malu-maluin tim kita dengan sepatu butut itu.”

“Selama ini gue pake sepatu ini, Sal. Kenapa tiba-tiba sekarang lo rese?”

“Karena besok pertandingan gede, Do. Pak walikota mau nonton lho.”

“Yang penting tim kita nanti menang, Sal. Iya kan?”

“Ngga bisa! Pokoknya di pertandingan besok lo harus pake sepatu basket ‘beneran’, sepatu yang enggak kucel bolong-bolong kayak gitu.”

“Atau apa?”

“Atau lo ngga usah ikut main!”

Coach aja ngga pernah ngelarang gue pake sepatu ini, Sal. Lo jangan sok deh!”

“Tapi gue kapten tim kita, Do. Dan lo harus nurutin apa kata gue! Lagian kaki lo pasti sakit kan maen basket ga pake sepatu basket?”

“Heh, Faisal, gue tantang lo nge-shoot 3 point sekarang juga.”

“Hah? Apa maksud lo nantangin gue?”

“Kalo lo bisa lima kali berturut-turut masukin bola, gue setuju besok enggak ikut main.”

“Oke. Siapa takut?”

“Tapi kalo lo kalah, lo harus nurutin apa mau gue.”

Deal.” Kulihat Dado dan Faisal saling menjabat tangan. Semua anak lain menyingkir saat mereka mendekati ring di ujung sebelah sana, aku pun ikut bergabung dengan mereka, menyaksikan Dado dan Faisal bertanding 3 point shoots.

Kemampuan Dado dan Faisal sebetulnya sama, tapi karakter Faisal yang cenderung temperamental bisa menjadi kelemahannya dalam pertarungan kali ini. Dan aku memang berharap Dado yang menang tantangan kali ini, penasaran apa permintaannya yang harus dikabulkan Faisal?

Pertarungan berlangsung seru, keduanya adalah 3 point shooter yang tangguh. Masing-masing sudah melempar 4 kali, dan semuanya masuk dengan sempurna. Aku bisa lihat Faisal mulai tegang, menatap Dado yang tengah bersiap-siap membidik si ring dengan bola di tangannya dengan cemas, menahan nafas saat si bola melambung mendekati ring, untuk kemudian meluncur masuk melewati jaring nyaris tanpa suara. Aku, dan anak-anak yang lain di pinggir lapangan, bertepuk tangan gempita.

Sorak sorai kami rupanya membuat Faisal yang sedang menyiapkan lemparan terakhirnya semakin tegang. Dia terlihat sangat kesal sekaligus berambisi untuk menyamakan kedudukan. Semua penonton -tak terkecuali Dado- terdiam saat bola yang dilempar Faisal melambung sempurna, memantul sebentar di papan lantas bergulir menuju bibir ring, detik berikutnya sang bola tergelincir jatuh, di luar ring.

Dado menang!

Walaupun gontai, Faisal menyalami Dado yang tersenyum menatap sang kapten tim yang berhasil dikalahkannya. Kami para penonton, aku khususnya, menanti dengan tidak sabar apa yang Dado minta dari Faisal.

“Gue mesti ngapain nih, Do?”

“Di pertandingan besok kita tukeran sepatu ya Sal.”

Aku tersenyum menatap Faisal yang bertambah lunglai dan Dado yang terpingkal-pingkal. Tak berapa lama teman-temannya mengalungkan sepatu butut Dado di leher Faisal yang kini bisa ikut tergelak menertawakan dirinya sendiri.

Semoga saja mereka bisa bersikap sportif seperti itu hingga dewasa kelak.

Note : 499 kata. Klik banner-nya untuk ikutan bercerita yaa ;)

Perempuanku

May 16, 2013 § 11 Comments

Namanya Sekar. Dia adalah perempuanku, sebilah sayap yang memungkinkanku untuk terbang, sesosok Hawa jelmaan tulang rusukku yang hilang, makhluk terindah yang pernah ada. Seandainya saja peristiwa malam itu tak pernah terjadi, dia akan tetap menjadi Sekar-ku seperti seharusnya, tapi bedebah itu telah mengubahnya menjadi manusia yang berbeda.

Sekali lagi, aku menatap siluet Sekar yang seolah ikut menjingga. Sejak aku mengenalnya, senja dan dirinya seperti sepasang kekasih yang ditakdirkan untuk selalu beriringan, indah dan mempesona dalam waktu yang sama. Perlahan, aku mendekatinya, berharap kali ini dia tak lagi menganggapku gila.

“Senja yang indah ya.” ucapku hati-hati, seraya duduk di sisinya. Pasir yang menggelitik telapak kakiku masih terasa hangat, angin sore menghembuskan aroma laut yang pas. Dan di seberang sana, mentari yang sedang berpamitan betul-betul seperti tenggelam ke dasar lautan.

“Iya.” singkat saja dia menjawab, suaranya  yang tersenyum melegakan hatiku. Perempuanku sedang menikmati senja di depannya dengan gembira. Pertanda baik. Semoga senja ini akan baik-baik saja.

Saat senja seperti ini adalah momen kesukaan kami berdua, aku dan perempuanku akan betah berlama-lama duduk diam hingga malam menggelap sempurna, berdialog dalam sunyi menikmati teater semesta. Jika pun kehidupan berhenti berdetak di detik ini, sepertinya tak mengapa buatku, selama ada perempuan ini di sisiku, maka apapun yang terjadi aku akan menerimanya dengan suka cita.

“Kapan kau akan pulang, Dik?” tanyaku setelah jeda di antara kami berdua, “aku dan anak-anak merindukanmu di rumah.” Perempuan di sisiku mendesah.

Aku bisa tahu kini rahangnya mengeras dan tangannya terkepal menggenggam pasir. Aku bisa tahu dia ingin lari dan bersembunyi entah dimana asalkan bukan di sini bersamaku sekarang. Aku tahu sebentar lagi mungkin saja dia akan kembali meneriakiku gila, seperti kemarin, atau sehari sebelumnya, atau seminggu yang lalu, atau kapanpun setelah peristiwa itu terjadi padanya.

Aku mengerti dia marah, tapi aku juga berharap dia akhirnya tahu, aku tidak akan pernah menyerah. Tidak akan pernah! Aku tetap lelaki yang sama yang dulu memujanya, tetap demikian hingga selamanya saat kami harus terpisahkan alam kasat mata, hingga kemudian kelak kami dipertemukan kembali di surga.

“Kapan kau akan berhenti bertanya?”

“Setelah kau menjawab pertanyaanku.” jawabku sambil menoleh padanya yang tengah mengatupkan bibirnya kuat-kuat, memandang tanpa fokus ke semua arah, “dengan jawaban yang sebetulnya, bukan dengan pertanyaan lain seperti itu.”

“Mas sudah gila,” ucapnya datar, “Aku perempuan kotor, Mas.” Duh…kalimat itu lagi. Kini aku yang harus berupaya mengisi oksigen ke paru-paruku untuk tetap bisa bernafas, menelan ludah dengan susah payah seraya mencoba menata kata dikepala untuk aku ucapkan padanya.

Bohong belaka kalau aku katakan padanya aku mengerti yang dia rasakan, karena faktanya aku tak pernah berada dalam posisi dirinya, bahkan sepertinya tak mungkin untuk sekedar membayangkannya sekalipun. Terseret ke lorong gelap dengan mulut tersumpal, menangis berteriak meronta sia-sia, untuk kemudian dipaksa melayani nafsu binatang dari makhluk bejat yang tak lagi pantas disebut manusia.

Aku mengerti dia terluka, bahkan trauma, tapi kenapa aku tak bisa menjadi penyembuh bagi sakitnya itu? Bagaimana aku bisa meyakinkan Sekar bahwa dia tetaplah perempuan yang sama bagiku, perempuan yang akan selalu aku puja, meski dia -mengutip pernyataannya- perempuan kotor sekalipun.

“Kau tetap istriku, Sekar.” ujarku akhirnya, mencoba menyentuh tangannya, yang segera ditepis cepat perempuanku itu, “aku tetap mencintaimu, seperti dulu.” Perempuanku mulai histeris, kedua tangannya erat memeluk lutut, kepalanya menunduk seolah ingin bersembunyi, detik berikutnya dia berteriak menjerit.

Melihatnya seperti itu selalu membuatku pilu, aku hanya terdiam saat suster berusaha menenangkannya dan kemudian membawanya menjauh, kembali ke rumah terapisnya di ujung sana, meninggalkan aku yang tak punya pilihan lain selain termenung. Apakah aku memang gila seperti yang selalu dikatakannya? Tidak, aku tidak gila, aku hanya mencintainya. Itu saja.

Maka besok aku akan kembali lagi ke sini, mengajaknya pulang, memintanya kembali. Jika saat itu belum berhasil, aku akan mencobanya lagi lusa, kemudian esok harinya lagi, kemudian minggu depan, bulan depan, selamanya jika diperlukan. Karena dia adalah perempuanku.

2013-05-16 12.31.00

Dibuat khusus untuk tantangan menulis “Kliping” @JiaEffendi

** Tantangan kali ini cukup susah bagi saya, karena saya jarang sekali membaca berita di koran! *ups* hihihihi. Berita di atas (Kompas, kamis 16 Mei 2013) saya pilih secara random, alasannya sederhana saja : tidak terlalu panjang :P .

Que Sera Sera

May 15, 2013 § 12 Comments

Beberapa hari lalu saya melihat iklan ini di salah satu TV kita, sebuah iklan yang sangat sangat sangat menyentuh. Setelah saya tanya ke mbah Gugel, ternyata itu adalah iklan di Thailand (untuk produk H*lcim kalau tidak salah).

Sila dinikmati, dan semoga menambah rasa syukur teman-teman ya :)

 

Weekly Photo Challenge : Pattern

May 15, 2013 § 10 Comments

Another silent post, about pattern.

009

Happy Wednesday, Pals ;)

[Berani Cerita #11] Kembalinya Cincin Ibu

May 14, 2013 § 13 Comments

Mbak… cincin ibu hilang.” Si Menul langsung laporan begitu aku membuka pintu dan saling mengucap salam.

“Hah?”

“Semalam ibu simpan di laci nakas seperti biasa, tapi pagi-pagi udah enggak ada.”

“Yakin? Sudah dicari belum?”

“Sudah, malah jadinya Menul harus bantuin Ibu pindah-pindahin lemari dan tempat tidur, khawatir si cincin jatuh dan tergelincir masuk ke kolong.” Menul manyun, membuatku tergelak.

“Kok bisa ya? Paling juga Ibu lupa nyimpen, Nul”

“Ngga mbak. Kata Ibu cincinnya diambil tuyul.”

“Halah…” aku cepat mengesah, sebal karena ibu sepertinya selalu percaya yang ‘begituan’. Menul tahu aku tidak suka, dan langsung menyingkir melihat mukaku yang sudah berangsur kesal.

Tempo hari adikku itu panas, Ibu langsung berasumsi si Menul dicubit genderuwo. Aku masih belum nikah di usia hampir tiga puluh begini, Ibu bilang ada Jin yang suka sama aku. Lah sekarang cincin hilang biang keladinya si tuyul? Duh, Ibu nih. Aku gemas sendiri.

“Ibu tahu kamu nggak percaya, Nik. Tapi Ibu yakin ini pelakunya pasti tuyul.” Menul bersembunyi di belakang ibu, dasar pengadu! “Kemarin liontin Bu Broto juga hilang.” Aih…dasar ibu Broto, sebelas dua belas sama Ibu, “pokoknya cincin itu ngga boleh hilang, itu cincin mahar dari Bapakmu, Nik.” Aku mencoba sabar walaupun sudah sebal luar biasa, kalau aku ikut emosi, bisa-bisa ibu malah pergi ke dukun demi si cincin.

“Ibu sudah tanya Bapak?”

“Lah? Apa hubungannya sama Bapakmu? Justru Bapakmu jangan sampai tahu urusan ini. Nanti Ibu bisa diomelin”

“Menik pikir, mungkin Bapak tahu dimana cincin Ibu.”

 

“Ndak mungkin itu. Sudah, nanti sore kamu anter ibu ke Mbah Suryo ya, Nik.” Tuh kan?!

“Dicari dulu, Bu. Mungkin keselip.”

“Tadi udah dicari, Mbak. Menul juga bantuin Ibu cari. Mbah Suryo kan orang pinter, pasti bisa bantuin nangkep tuyul yang nyuri cincin Ibu, Mbak.” Aku langsung mendelik, membuat si Menul kembali ngumpet di belakang Ibu. Apa-apaan sih anak kecil itu? Malah sepakat sama Ibu.

“Assalamu’alaikum.” Bapak pulang, kalau Ibu didukung Menul, aku yakin Bapak pasti sependapat denganku. Kami bertiga kompak menjawab salam Bapak. “Bu, nih Bapak kasih hadiah.” Bapak tersenyum seraya menyerahkan sebuah cepuk berwarna hitam.

“Apa ini, Pak?”

“Dibuka saja.” Aku dan Menul saling pandang, kami yakin isi cepuk itu cincin ibu yang hilang.

“Hoalaaahh… ini cincin Ibu. Ta’ pikir hilang, nggak tahunya Bapak yang ngambil toh?”

“Iya Bu, maaf. Tadinya Bapak mau beliin cincin baru yang lebih besar, ternyata uangnya belum cukup. Ya sudah Bapak belikan cepuknya saja dulu ya, besok-besok cincin barunya menyusul.” Ibu tertawa, Bapak juga tertawa, aku dan Menul ikut-ikutan tertawa.

Kali ini si tuyul terbebas dari segala tuduhan.

Note : 415 kata.

Rapid Fire Question

May 13, 2013 § 18 Comments

Eyampun, setelah sekian lama ngeblog dengan aman damai sentausa sejahtera, kok ya tiba-tiba saja mbakyu Carra memberi saya sebuah PR, sepertinya beliau belum tahu, waktu jadi pelajar/mahasiswa pun saya paling sering tidak mengerjakan PR *ups* hihihihi. Tapi berhubung PRnya seru, mari kita kerjakan *sigh*.

Pertanyaan Wajib:
1. Nambah atau ngurangin timbunan buku?
Nambaaaaah, tapi kadang buku yang tidak terlalu saya suka, dan atau tidak selesai saya baca (karena tidak menarik bagi saya), saya hibahkan :D

2. Pinjam atau beli buku?
Dua-duanya. Dalam banyak kasus *halah :P *, buku yang saya pinjam dan ternyata bagus (dan saya suka) akhirnya saya beli he he

3. Baca buku atau nonton film?
Dua-duanya. Keduanya bisa menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran *gaya lo Rin :P * qiqiqiqi

4. Beli buku online atau offline?
Akhir-akhir ini seringnya online, karena bisa beli langsung 5 buku sekaligus (Pssstt…kalo ke toko buku kan pasti bareng ci akang matahari tuh, beli 2 aja langsung diinterogasi : ini mau dibacanya kapan?? *melipir* qiqiqiqi).

5. Buku bajakan atau ori?
Errrr…ada ya buku bajakan? *balik nanya*

6. Gratisan atau diskonan?
Duh, pertanyaan macam apa ini? Emak-emak mana sih yang ngga suka gratisan atau diskonan??? *sigh*

7. Beli pre-order atau menanti dengan sabar?
Sepertinya baru sekali beli pre-order, jadi so far cuma menanti dengan sabar :P

8. Buku asing (terjemahan) atau lokal?
Dua-duanya suka. Tapi kalau buku terjemahan dan terjemahannya kurang bagus biasanya si buku tidak saya baca sampai tamat (atau selesai tapi lamaaaaaaaaaaaa sekali).

9. Pembatas buku penting atau biasa saja?
Penting. Karena saya jarang bisa fokus membaca satu buku, jadi loncat-loncat begitulah dari satu buku ke buku lain, jadi tidak mungkin mengingat halaman. Dan karena saya tidak suka ‘merusak’ buku dengan melipatnya, jadi pasti cari pembatas buku, walau sekedar secarik kertas atau…uang kertas *gaya* qiqiqiqi.

10. Bookmarks atau bungkus chiki?
Ini teh apa maksudnya? *ga mudeng* :P

Pertanyaan tambahan dari mbakyu Carra:
1. Nulis fiksi atau nonfiksi?
Sedang senang menulis fiksi, ceritanya sih sedang bermimpi kelak bisa jadi novelis getoh hohohoho.

2. Buat nemenin nulis: minuman atau cemilan?
Jarang ditemenin minuman atau cemilan, mereka adalah distraksi yang membahayakan *tsaaaah*

3. Nulis di laptop atau gadget lain?
Di laptop, ga punya gadget soalnya :P

4. Nulis siang atau malam?
Sesempatnya, sering juga kok nulis pas lagi meeting *ups* hihihihi.

5. Aku cantik atau engga?
Kasih tau ngga eaa…. *kabur sebelum disambit konde* hahahaha.

Konon katanya, PR ini harus dilanjutkan ke-5 teman lain dengan 5 pertanyaan tambahan. Tapi berhubung saya sedang tidak punya pertanyaan dan sepertinya bingung juga memilih 5 teman yang harus diserahi PR, yuk mari kita skip sajah hihihihi.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 612 other followers