Aku Akan Menunggu

Aku mengerjap. Silau. Ruangan putih benderang yang terlampau luas ini membuatku segera tahu, aku sudah mati. Tapi, sejak kapan?

“Baru saja,” jawab sesosok makhluk putih yang berdiri di samping kananku, seolah menjawab pertanyaan yang aku yakin betul hanya berdengung di kepalaku. Pasti makhluk ini malaikat, gumamku sendiri.

“Bisa dibilang begitu,” katanya lagi seraya tersenyum, membuatku salah tingkah. Tentu saja, dia bisa tahu apa yang aku pikirkan. Aku tidak akan bisa menyembunyikan apapun darinya. Baiklah, aku akan berkata jujur dan berterus terang saja padanya.

“A-apakah kau yakin aku sudah harus betul-betul mati?” tanyaku kurang ajar. Makhluk itu, ralat, malaikat itu menatapku kaget.

“Kau tidak akan berada di sini dan bisa melihatku seperti ini jika belum benar-benar mati.” Sudah kuduga, pertanyaan kurang ajarku pasti membuatnya kesal. Atau, jika sesosok malaikat tidak bisa merasa kesal, malaikat di depanku ini sekarang terlihat sedikit tersinggung.

Aku berdeham, mencoba menenangkan diri. “Maksudku, a-aku sebetulnya tidak bermaksud untuk mati.”

“Kau ingat kan apa yang terakhir kali kau lakukan sebelum berada di sini?” tanyanya tak sabar. Aku mengangguk cepat.

Aku ingat betul apa yang kulakukan. Sebetulnya bukan sesuatu yang bisa aku banggakan, bukan tindakan heroik sama sekali. Aku hanya meminum semua pil dan tablet dan kapsul dan obat sirup yang ada di kotak obat. Awalnya ingin kuminum juga betadine dan boorwater dan minyak telon yang ada di sana, tapi urung karena kepalaku terlanjur pusing. Itu saja. Aku tidak menyangka hal sesederhana itu bisa mengantarkanku menuju kematian.

“Obat-obatan itu memang belum membunuhmu. Kau juga terjatuh dari tangga karena kepalamu yang terlanjur pusing itu. Begitu sampai di bawah, otakmu mengalami pendarahan karena selain terjatuh juga membentur guci keramik besar yang akhirnya hancur berkeping. Tapi terlepas dari semua penyebab yang memungkinkan kematianmu, memang sudah ditentukan hidupmu berakhir saat itu, kau tak bisa berlari atau bersembunyi.”

Aku mengangguk cepat, lantas tertunduk, malu. Tapi malaikat itu rupanya belum selesai, “Dan tidak perlu protes segala!”

Ah, kepalaku semakin dalam tertunduk. Padahal aku tidak bermaksud protes, hanya bertanya. Aku tahu kok, aku sendiri yang salah, bermain-main dengan kehidupan hanya karena aku merasa kehidupan telah sering mempermainkanku lebih dulu. Aku hanya ingin perhatian orang tuaku kembali tertuju pada diriku, anak semata wayang yang dulu pernah menjadi gadis kecil kesayangan mereka. Aku hanya ingin rumah kami damai dan bahagia seperti sebelumnya. Aku hanya ingin keluargaku baik-baik saja.

Sepertinya aku terlalu kecil untuk berharap bisa melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan itu. Toh hingga detik ini pun aku tidak mengerti apa masalah kedua orang tuaku, apa penyebab pertengkaran-pertengkaran di antara mereka, menjadi orang dewasa seperti mereka rupanya jauh lebih sulit daripada menyelesaikan persamaan integral. Mungkin seharusnya aku hanya perlu menangis keras-keras seperti remaja lainnya. Atau kabur dari rumah menginap di rumah teman berhari-hari. Atau bolos sekolah dan bermain di jalanan. Atau apalah. Tapi bukan meminum banyak obat yang berujung pada kematian semacam ini.

Aku menghela napas panjang. Penyesalanku tidak berguna lagi. Aku terlanjur mati.

“Maaf…” kataku akhirnya, lirih, nyaris tak terdengar telingaku sendiri, bahkan tak lagi berani menatap sesosok putih di samping kananku itu. Permintaan maafku itu pun rasanya tidak tepat jika aku tujukan pada Sang Malaikat. Ah, entahlah. Aku mencoba berhenti berpikir. Aku harus bisa menerima keadaan, bahwa ruang putih luas tanpa dinding inilah rumahku sekarang.

“Aku bisa membawamu turun sebentar kalau kau mau.”

“Eh?” Aku mendongak, dan sang malaikat tengah tersenyum padaku, lantas mengangguk.

“Kedua orang tuamu mengerti pesan yang ingin kau sampaikan.”

“Benarkah?” Aku sumringah. Membayangkan Ayah yang akan pulang lebih cepat, tanpa bau alkohol di pakaiannya, dan tersenyum lebar merentangkan tangannya menunggu untuk kupeluk seperti saat aku kecil dulu, lantas mengecup kening Ibu malu-malu. Membayangkan Ibu dengan apron putih yang bersenandung ceria di dapur, mencipta masakan dan kue yang membuatku mendeguk ludah, tidak lagi melempar piring dan mengirim caci dan berteriak murka pada Ayah.

Benarkah kehidupan bahagia itu akan kembali lagi di rumahku?

Entah bagaimana, aku tidak lagi berada di ruangan putih luas tak berdinding itu. Aku berada di kamarku, keadaannya masih persis seperti yang kuingat. Berantakan sepert biasanya. Dan di sana, di ambang pintu, kulihat Ayah dan Ibu yang saling menggenggam tangan, memandang kamarku dengan senyum samar di bibir, juga isak tertahan dan air mata yang mengaliri pipi.

“Aku minta maaf, Mas.”

“Tidak, aku yang minta maaf, Dik.”

“…”

“…”

Aku tidak bisa lagi menangkap obrolan Ayah dan Ibu, tapi aku tahu, keduanya akan kembali mencoba bergembira dalam kebahagiaan yang damai. Syukurlah, rencanaku berhasil. Tak ada kata terlambat bagi Ayah dan Ibu untuk memulai kembali saling menyayangi seperti dulu. Yahh…walaupun harus tanpa aku di sana.

Seandainya saja kematianku bisa…

“Tidak bisa. Kematianmu tidak bisa dibatalkan.” Ha ha, aku tersenyum masam pada Sang Malaikat di sampingku yang lagi-lagi memotong pikiran di kepalaku. Kami sudah kembali di ruangan putih luas tak berdinding ini lagi. Imaji Ayah dan Ibu di kamarku tadi sudah terpatri jelas di kepalaku. Ah, belum apa-apa aku sudah merindukan keduanya. Tapi tak apa, aku akan bersabar menunggu Ayah dan Ibu di surga.

***

Note: 801 kata. Ditulis khusus untuk GA-nya Bang Riga “AttarAndHisMind First Giveaway”

Cotton Drops: Minuman Unyu untuk Bernostalgia Ke Masa Lalu

Tsaaaahhh….lebay surabay pisan ngga sih judulnya? hahahaha. Tapi tak apalah ya temans :P.

Saya dan Akang Suami yang memang cuma terpaut satu tahun, adalah anak generasi 90an, yang masih tidak memiliki ponsel saat sekolah dulu, nonton Power Rangers saat kecil, dan sampai sekarang jadi Klanis garis keras *halah* hihihihi. Jadi ya pastilah, di sela-sela obrolan tiap harinya, kita berdua sok-sokan bernastalgila gitu lah ya :D.

Nah, saat ada info di Mal Kelapa Gading (di Gading Walknya) dibuka sebuah kedai fancy drink bernama Cotton Drops yang konon bisa membangkitkan nostalgia masa kecil itu, saya pun tertarik. Cotton candy itu kan nama keren dari arumanis yang warna pink-putih-biru itu kan ya? *Siapa tau saya salah, yes? qiqiqi*. Tapi setelah saya cari-cari di instagram cotton_drops, ternyata betuuuul, jadi mereka menyajikan berbagai tiga jenis minuman yaitu Latte, Milky Fruity dan Flavour Tea yang diberi bonus si candy cotton di atasnya. Aih…unyu bin luthu deh kalau menurut saya mah.

Felix dan Jojo, owner si kedai minuman unyu yang masih turun langsung melayani pelanggan ini bercerita, bahwa ide membuka kedai ini adalah setelah perjalanan mereka ke Korea. Di sana, banyak coffeshop yang didesain dengan Korean Style White Garden, lengkap dengan rumput-pagar bercat putih-bunga yang sering kita lihat di K-drama itu lho. Pecinta Lee Min Ho pasti tahulan ya kedai yang dimaksud hihihihi. Dan ya, Cotton Drops mengadaptasi desain tersebut, mereka menangkap minat pasar yang sedang menggandrungi segala hal yang ‘kekorea-koreaan’ itu. Fashion Felix-Jojo dan timnya juga Korean Style lho, serasa di Seoul saya hihihihi.

Mas MC, Felix dan Jojo

Mas MC, Felix dan Jojo

Lantas kenapa cotton candy? Selain untuk membuat ciri khas tersendiri dari kedai minuman yang sudah ada, Felix menjelaskan, bahwa ide tersebut muncul saat dia baru membeli si arumanis, dan serang anak kecil merengek (dan hampir menangis) meminta ibunya untuk dibelikan arumanis yang dimiliki Felix! Jadi ya begitulah, mereka pun menambahkan cotton drops (si arumanisnya itu betul-betul ‘berjatuhan’ beberapa menit kemudian seperti butiran salju lho) yang mengembang di setiap menu minuman yang disajikan dalam gelas berbentuk botol yang unik. Melihat si cotton drops ini jadi inget, dulu saya juga suka mewek minta dibelikan si arumanis kalau ke pasar malam di kampung *nyengir*.

Di foto paling atas itu, si pot kecil itu dessert cake yang ada di Cotton Drops, Sweet Pot, ‘tanah’nya itu coklat yang menjadi topping cake di bawahnya, ada batu-batu koral yang juga bisa dimakan, bunganya sih jangan dimakan ya, plastik itu! hihihihi. Si Pot tanah liat imut-imutnya itu bisa dibawa pulang dan dijadikan pot betulan untuk di rumah. Jojo menjelaskan, bahwa ide itu karena mereka berharap bisa mendukung go green campaign, keren dong ya, memang seharusnya begitu, anak muda pun harus cinta lingkungan. Iya kan iya kan? :)

Tim Cotton Drops yang sedang perform a la boy (atw girl?) band Korea hehehe

Tim Cotton Drops yang sedang perform a la boy (atw girl?) band Korea hehehe

Jadi kalau ke Mal Kelapa Gading, jangan lupa mampir ke Cotton Drops ya temans, lokasinya di Gading Walk, gampang dicarilah pokonya mah. Sejak resmi dibuka awal November lalu, pengunjung sampai antri panjang demi mencicipi minuman bercotton candy ini. Dan menurut saya pribadi -sesuai judul yang lebay ituh- minuman unyu ini memang bisa mengajak kita bernostalgia ke masa lalu :)

foto pinjam punyanya Cotton Drops

foto pinjam punyanya Cotton Drops

Reward yang Menyenangkan

Iyaa…masih tentang resensi buku saya yang dimuat di Tribun Kaltim tempo hari yang tanpa honor itu *teteuuup ya, dibahas :P* hahahaha.

Jadi, setelah diberitahu oleh mbak Yanti yang baik hati dan tidak sombong, saya melaporkan hasil resensi itu ke pihak penerbit. Terkirimlah email ke promosi@gagasmedia.net (catet tuh ya emailnya temans, siapa tau kapan-kapan resensinya dimuat kan :)). Tidak berapa lama, email saya tersebut dijawab oleh seseorang bernama -katakanlah- M, yang rupanya -entah bagaimana- membaca postingan si Tentang Resensi Buku itu di blog ini, M bilang ikutan terharu dengan usaha saya, dan sebagai hadiah, M memperbolehkan saya memilih 3 buku yang ingin saya baca!!

Huwaaah…serasa mau pingsan rasanya *mulai lebay* hihihi. Bukannya apa-apa temans, menurut mbak Yanti, reward dari Gagas biasanya cuma satu buah buku, wajar dong ya kalau saya jadi super senang karena dihadiahi 3 buku? Terlebih lagi, tidak ada hadiah yang lebih menyenangkan daripada buku-buku baru bagi seorang saya yang suka baca buku ini, iya kan? iya kan? :)

Sayangnya, saya salah pilih buku nih, karena ternyata cuma Tommodachi saja yang terbitan tahun ini. Dua buku lainnya jadi nggak bisa saya resensi deh nanti :P. Tapi ya tetep aja, Alhamdulillah jadi ada bacaan baru, mudah-mudahan saja resensi berikutnya bisa dimuat lagi jadi bisa dapet reward lagi #eeaaa.

Ya sudah, cuma mau ‘pamer’ aja sih hihihi. Saya mau balik baca buku lagi yaa :D

Di Ujung Perjalanan

“Kita mau kemana, Hans?”

Hans geming. Matanya tetap fokus menatap ke depan, tangannya tetap mencengkeram kemudi.

“Hans?” Setelah hening beberapa jenak, Si Perempuan menuntut jawab, meski Hans seolah tak mendengar perempuannya mengajukan tanya.

“Jalanan ini menuju kemana, Hans? Tujuan kita kemana?”

“Bisakah kau diam saja dan menikmati perjalanan ini, Liz?!” bentak Hans.

Giliran Liz yang tertunduk bisu. Dia hanya ingin tahu kemana mereka akan menuju, kenapa lelakinya tak suka sedemikian rupa? Detik berlarian dalam senyap. Hans diam, Liz sunyi, hanya derung mobil yang meluncur pelan di jalanan lurus seolah tak berujung.

“Apakah kau ingin mengakhiri hubungan kita?” Akhirnya Liz bertanya, membuat kening Hans mengernyit, apa hubungannya dengan perjalanan ini?

“Maksudmu?”

“Seperti perjalanan ini, kau tidak merencanakannya, juga tidak tahu hendak kemana. Mirip sama hubungan kita, iya kan?”

Sekali lagi Hans diam, dia tidak berani membantah, meski mengiyakan pernyataan Liz barusan hanya akan menjatuhkan harga dirinya.

“Bagimu, bertemu denganku hanya ketidaksengajaan yang menyenangkan, bahkan hubungan kita sekadar petualangan singkat belaka. Benar ‘kan?”

Hans semakin bungkam. Dia tak pernah menyangka Liz bisa membaca dirinya seperti itu. Apakah Liz juga tahu, bahwa Hans sudah merasa bosan dan ingin terlepas darinya?

“Tapi sayangnya, Hans, aku terlampau mencintaimu,” lanjut Liz seperti bermonolog dengan dirinya sendiri. “Aku tidak bisa, dan tidak mau, melepasmu pergi.”

“Tapi Liz…”

“Aku mencintaimu, Hans,” potong Liz cepat. “Jika kau tak mau hidup bersamaku, izinkan aku mati bersamamu, Hans.”

“A-apa, Liz?”

“Maafkan aku karena sudah memotong kabel rem mobilmu, Hans,” ujar Liz seraya menunjukkan sebuah gunting dan seutas kabel. “Bawalah aku kemanapun kau suka. Tapi setahuku, di ujung jalan ini ada sebuah jurang yang akan sangat sulit kauhindari. Dan pada akhirnya, cintaku padamu akan abadi.”

“Gi-gila kamu, Liz!”

Liz hanya tersenyum, terus tersenyum, tetap tersenyum bahkan saat Hans berteriak panik ketika jalanan aspal lurus itu habis, dan mobil mereka mulai tergelincir jatuh.

***

Note: 300 kata, untuk Monday Flash Fiction, Prompt #71: This Journey with You

Tentang Resensi Buku

Maafkan nih kalau pada bosan dengan cerita saya soal resensi/review buku hihihihi.

Saya ini memang tipenya suka penasaran, kalau belum berhasil terus weeeeeh dicobain meskipun babak belur dan super capek dan kesel sendiri. Salah satu contohnya mengirimkan cerpen ke media. Per hari ini, saya sudah (dan sedang) mengirimkan naskah sekitar 30-an cerpen saya sebanyak sekitar 60-an kali ke media-media cetak di Indonesia. Iya, saya membuat semacam tabel gitulah, yang merangkum data cerpen mana saya kirim ke siapa di tanggal berapa. Alhamdulillah, dari sekian banyak cerpen dan sekian banyak percobaan, belum ada yang berhasil satu pun *ups* hahahahaha.

Kapok? Nggak tuh, ya mungkin karena saya si tukang penasaran tadi itu ya :P Nah, kalau bosan sih kadang-kadang iya. Jadi kan biasanya saya tunggu selama 3 bulan ya si naskah yang saya kirimkan itu. Kalau tidak ada kabar berita ya sudahlah legowo saja berarti cerpen saya belum layak muat. Maka selain menulis cerpen baru, cerpen rijek tersebut saya revisi sana sini untuk nantinya saya kirimkan ke media lain. Saat bosan melanda, saya mencoba juga mengirimkan naskah resensi buku.

Beberapa kali saya mengirimkan resensi ke media lokal (sebutlah Koran Jakarta *halah* hahahaha), dimana redakturnya sempat menguji kesabaran saya beberapa kali dalam email-email yang mampu membuat kerutan di kening saya bertambah banyak. Intinya sih, 7 kali saya mengirimkan 7 resensi buku yang berbeda, rupanya belum ada satu resensi pun yang masuk kualifikasi mereka.

Niat awal saya mungkin yang harus diperbaharui ya, karena saya mengharapkan komisi-fee-kompensasi-honor dan sejenisnya dari penulisan resensi ini, berbeda dengan menulis cerpen yang memang saya lakukan hanya karena saya ingin melakukannya. Meskipun tentu saja akan menyenangkan jika cerpen saya dimuat dan kemudian saya dibayar ya hahahaha, tapi mengertilah kan maksud saya? Karena saya sukkka menulis fiksi, enjoy melakukannya, bahkan bahagia saat berhasil menyelesaikan sebuah cerita, maka uang dari kegiatan itu menjadi bonus belaka bagi saya. Sementara menulis resensi sangat berat bagi saya, dan saya berharap saya bisa menerima ‘sesuatu’ dari kegiatan yang tidak terlalu saya sukai itu.

Terlepas dari persoalan di atas, saya percaya, resensi buku yang saya tulis cukup bagus, yah setidaknya sejajar lah dengan resensi-resensi yang selama ini saya baca di media. Jadi saya pun mengirimkan resensi-resensi -yang dirijek KorJak itu- ke media lain, yang saya tahu mereka tidak memberikan honor apapun untuk resensi yang dimuat. Demi membuktikan (pada diri saya sendiri sebetulnya), bahwa resensi yang saya tulis itu cukup layak kok untuk dikonsumsi.

Mungkin Tuhan kasihan sama saya ya, karena resensi yang saya kirimkan ke Tribun KalTim (coba….jauh aja itu resensi terbang dari Bekasi ke KalTim! ha ha) langsung diterima dalam percobaan pertama hihihihi. Tulisan saya tidak banyak diedit (malah sepintas saya rasa ngga diedit sama sekali deh, susah cari perbedaannya dengan tulisan asli saya hehe), kecuali untuk judulnya, dimana saya pasrah sajalah ya, wong saya memang tidak pintar membuat judul kok :P. Dan ya, tidak ada honor jika temans mengirimkan resensi ke sana hehehe.

Resensi Interlude

Tapi Alhamdulillah, rasa penasaran saya terobati sudah dengan resensi Interlude di atas, setidaknya tulisan saya nggak jelek-jelek amat kan ya menurut redaksi Tribun KalTim? :D. Semoga saja nanti ada cerpen saya juga yang layak muat di media ya, Aamiin :)

PS : Terima kasih untuk mbak Hairi Yanti yang sudah memotretkan sang koran dan mencolek saya di facebook *ketjup*

JYSK di Pluit Village

Sudah tahu dong ya Jysk yang di Mal Taman Anggrek? Nah, bulan November ini mereka juga bisa temans jumpai di Pluit Village. Yuk mari yang di Pluit dan sekitarnya sila merapat.

Kebetulan, hari ini saya berkesempatan menghadiri Grand Opening Ceremony Jysk di Pluit Village. Namapun emak-emak yaa, langsung mupeng berat nih melihat furniture, houseware dan segala macamnya ituh. Ngebetahin banget, coba bisa dibawa ke rumah semua ya #eh? qiqiqiqi. Dan jangan khawatir untuk buibu yang hendak berkunjung Karena Ada Kids Area yang menyediakan berbagai permainan.

Bicara tentang produk Jysk, retail furniture asli Denmark ini telah diakui dan dipercaya oleh Danish Royal Court, banyak dipakai oleh keluarga kerajaan di sana.

Misi utama Jysk antara lain, good offer (furniture kualitas international dalam harga yang terjangkau), perfectly matched with Indonesian character (style furniture yang sesuai dengan selera dan budaya masyarakat Indonesia), serta easy to reach (mudah dijangkau).

Misalnya saja nih, si meja kecil yang saya beli di sana berikut. Modelnya memang built up  gitu lah ya, tinggal kita rakit sendiri di rumah. Dan benar-benar mudah lhoooo, bahkan tanpa perlu obeng atau palu atau apalah itu, tingga diputer-puter doang gituh pake tangan *takjub saya* hihihihi. Dan mejanya kokoh, nggak akan khawatir meletakkan sesuatu yang berat di atasnya, lha wong iseng saya duduki kok *ups* hahahah.

Jadi sudah cukup kan ya alasan belanja di Jysk? Apalagi katanya nanti akan segera dibuka store-store berikutnya di Jabodetabek lho ;).