Basa Basi Busuk

February 22nd, 2012 § 27 Comments

Maafkan kemarahan yang secara eksplisit tergambar dalam judul postingan kali ini temans. Tapi saya hanyalah manusia biasa yang terkadang sulit (bahkan tidak bisa) menahan emosi negatif. Salah satunya adalah saat seseorang yang tidak terlalu mengenal saya -bertemu pun mungkin hanya bisa dihitung jari, jarang berkomunikasi satu sama lain, dan sebagainya dan sebagainya- tapi kemudian bertanya ini itu sok perhatian yang hanya sekedar basa basi dan tersampaikan dengan rasa busuk di sisi saya. blah!

Astagfirulloh… *tarik nafas panjang*

Well, seperti yang sering diingatkan sang matahari pada saya saat saya uring-uringan seperti ini, bahwa “seseorang terkadang diperankan sebagai ujian bagi seseorang yang lainnya”, maka saya -mau tidak mau- harus memaafkan ya, bahkan mungkin berterima kasih pada si Bapak yang baru saja membuat saya senewen itu, karena sudah ‘menguji’ kesabaran saya. Walaupun sepertinya kali ini saya tidak lulus ujian! ha ha :p

Setidaknya, peristiwa tersebut bisa menjadi peringatan bagi saya, untuk menghindarkan diri dari kekejaman berbasa basi busuk pada sesama.

Sekian.

Memilih Takdir

February 21st, 2012 § 25 Comments

Temans, mari kita bicara cinta (lagi).

Pertanyaan untuk hari ini adalah sebagai berikut :

“Cinta itu takdir atau pilihan?”

Wuidiiihhh…. menurut saya mah itu pertanyaan yang sulit. Ralat, pertanyaannya mudah, menjawabnya yang sulit ya hihihi… Dan membuat saya berpikir, kenapa ya kadang kita (saya lebih tepatnya) seringkali mempertanyakan sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan? Haiyaahhh…malah mbulet :P

Tapi berbincang mengenai takdir selalu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Sehingga membahasnya di postingan ini pun seperti tidak mungkin adanya. Maka izinkan saya ‘melihatnya’ dari sudut pandang yang lain, bahwa saya -dan juga para pecinta di dunia ini- diberi kewenangan untuk memilih, tidak terkecuali memilih takdir dalam cinta.

Kemudian pertanyaan lain pun muncul, bukankah takdir itu definisinya adalah ketetapan Sang Maha Segala yang tidak akan pernah memungkinkan kita ketahui? Dan akan saya coba jawab dengan : justru karena saya tidak tahu takdir saya seperti apa, maka saya bisa memilih, yang semoga saja pilihan saya tersebut adalah ketetapan baik (baca : takdir) yang diridloiNYA.  Saat ternyata saya salah memilih (karena bukan itu takdir terbaik bagi saya), maka Tuhan tidak akan mengizinkan pilihan itu mewujud.

Pusing? Sama dunk hahahaha… Ehem, mungkin memang tidak perlu menjawab sebuah pertanyaan yang tidak perlu dipertanyakan ya? *tambah pening* qiqiqiqi.

Tapi pembelajaran bagi saya nih, untuk lebih berlatih menulis dengan tema ‘serius’. Kali ini disudahi saja dulu ya :)

Happy Tuesday, Pals ;)

Ingin Bernostalgia

February 20th, 2012 § 22 Comments

“Kamu ingin ke mana?” Una bertanya padaku. Pertanyaan sederhana, tapi tetap saja aku bingung menjawabnya. Karena rasanya aku ingin pergi ke banyak tempat.

“Maksudmu?” aku malah bertanya padanya. Una memperbaiki letak kacamatanya yang baik-baik saja. Mungkin dia heran akan kebodohanku, yang tidak juga mengerti pertanyaan sederhananya.

“Gini lho mba, aku tuh tanya, kamu kepingin pergi ke mana. Ke Paris kah, ke New York, apa ke Kyoto ngono loh mba. Piye sih gitu aja kok ga dhong.” Ugh, sepertinya Una mulai bete. Tapi aku masih bingung. Paris memang manis, New York juga pastinya seru, Kyoto pun aku yakin cantik.

Tapi keindahan dalam negeri pun baru secuil aku jelajahi. Aku ingin menjejakkan kaki di Bangka Belitung negeri para laskar Pelangi itu. Aku juga ingin sekali menikmati senja di Senggigi, pantai yang sering sekali menginspirasiku. Aku juga ingin mengecap keindahan Karimun Jawa yang katanya eksotis. Aku juga ingin suatu saat bisa bagai Ariel si putri duyung menatap takjub dunia bawah laut di Bunaken. Aku juga ingin…

“Jadi piye mba? Mau ke mana?” Lagi-lagi Una bertanya. Rupanya dia sudah tak sabar ingin tahu aku ingin ke mana.

“Harus sekarang ya Na?”

“Apanya?”

“Jawabnya…”

“Wis ga mau njawab juga ya gapapa toh mba.” Una sudah bete kuadrat hihihi…

“Hmmm…”

“Kalo ngga, mba pengen pergi ke suatu masa ga? masa kecil dulu misalnya, atau malah masa depan gitu?”

“Oh. boleh juga Na?”

“Sakarepmu mba, mau pilih yang mana?” Tiba-tiba jawaban Una memberiku inspirasi.

“Kalo dua-duanya boleh Na?”

“Boleeeehhh.”

“Kalo gitu aku pengen ke kampusku dulu Na, ke zaman aku kuliah dulu. Pengen nostalgia.”

“Hoh?”

“Iya, gara-gara kemarin aku nulis surat buat diri sendiri itu, aku kok ya jadi keingetan masa lalu. Salah satunya ya pas kuliah D3 di sana itu.”

“Emangnya kenapa toh mba sampe pengen ke sana segala?”

“Wahhh…kalo diceritain ya mesti dua hari dua malam toh Na.”

“Lha ya diperpendek aja gitu lho mba.”

“Coba kamu lihat foto ini deh Na, jadul banget kan ya?”

“Walaaahhh…ini mesti masih pake kamera analog ya mba?”

“Persis! Yang ga bisa di delete kalo salah motret ituuuuh.” hahahaha…akhirnya Una berhasil aku buat tertawa. Dan hatiku menghangat, mengingat individu-individu yang tertangkap kamera ini.

“Itu temen-temenmu tah mba?”

“Iya, temen sekelas. Kelas C angkatan 2000.”

“Waduh…aku tahun 2000 masih unyu-unyu mba.”

“Tapi rambutmu udah kriwil kriwil kek gitu toh?” hahahaha… kami kembali tergelak.

“Hayooo…kamu masih inget ga nama-nama yang ada di foto mba?”

“Walaahhh…ngetes kamu? ya hapal lah… nih ya, dari kiri ke kanan yang cewek-cewek itu Indri, Deby, Dina, aku, Iqoh, Dedeh, Nur, Ikhie, Lusy.”

“Eh? kamu masih kurus waktu itu ya mba?”

“Wis toh ga usah diungkit-ungkit soal berat badan.” hahaha… Una menertawakanku :P

“Beuh ngambek. Trus yang cowok-cowok siapa?”

“Itu Faisal,  Asep, Ridwan, Yunan, Yusuf, Budi. Paling depan kaos item itu Lutfi, nah yang ga pake kaos Rangga.”

“Seksi tenan temenmu itu mba, ada yang telanjang dada gitu.”

“Itu anak-anak cowok baru pada maen basket Na, di lapangan depan gedung dekanat. Jadi ya gitu deh.”

“Trus kenapa kok pengen ke sana mba?”

“Sejak lulus aku belom pernah ke sana lagi Na.”

“Walaaahhh… kok bisa?”

“Iyaa, makanya kangen banget aku. Pasti sekarang banyak banget yang berubah. Aku kangen PSBJ, genkan, shokudo, student center, mushola, toshokan, kansas, lab bahasa, tanjakan cinta di sebelah FISIP itu, sampe gerbang UNPAD yang dulu mah dipenuhi tukang martabak mini atau lumpiah basah. Ih…kangen aku.”

“Trus… trus…kenapa pengen ke masa itu mba?”

“Menyenangkan Na. Saat itu hidup selalu terasa menyenangkan. Iya, memang harus tetap bekerja keras sih, banyak PR, kuis, ujian, tapi ya tetap aja ga ada beban. Hidup saat itu hanya untuk dijalani dan dinikmati. Kamu juga ngerasa gitu toh?”

“Ish… ga mau jawab aku mba.” hahaha… kini aku yang menertawakan Una. “Banyak kenangan indah pastinya di sana ya mba.”

“Pastinya Na. Kamu lihat di foto itu, ada 8 orang cewek yang berjilbab kan? Entah siapa yang pertama kali bilang, tapi kita ber-delapan terkenal dengan nama ‘geng thaliban’.” hahaha…aku tertawa mengenangnya.

“Wuihh…serem juga nama gengnya hihihi… ngapain aja sama mereka mba?”

“Wahh…ga terhitung saking banyaknya Na. Kita belajar bareng, makan bareng, tapi ga nyontek bareng lho ya he he. Sering banget bikin keributan, berisik gitu maksutnyah sampe ditegor atawa diomelin dosen. Ah, jadi inget Nani Sensei yang langsung sensi kalo ada kita-kita hihihi.”

“Seru ya mba?”

“Persahabatannya seru banget Na. Makanya ngangenin.”

“Kalo kisah cinta mba?”

“Wis tah, anak kecil jangan nanya cinta-cintaan.”

“Laahhh, ga laku tah?” hahaha…Una menertawakanku, tapi kubiarkan saja. Biarkan ku kenang sendiri pernah menyukai seseorang yang malah jadian sama orang lain, atau para pengagum yang selalu mengejar-ngejarku ituh ha ha. Lucu sekali masa-masa itu.

“Jadi gitu Na, pokonya kalo memungkinkan nih, aku pengen ke kampus Jatinangor lagi, trus ketemu sahabat-sahabatku lagi kek waktu itu. Wuiihhh itu mah pasti membahagiakan banget buatku Na.”

“Oh ngono tah. Jadi kalo aku mau kasih tiket ke Bali ga mau tah?” Canda Una sambil kabur berlari.

“Unaaaa…” Akan aku tangkap dirimu *sigh*

Weekly Photo Challenge : Down

February 20th, 2012 § 11 Comments

Kangeeeeen deh ikutan weekly photo challenge. Tapi ya begitulah, kok tema-temanya susah sangat. Hope? Ready? Regret? Hedeeeehhh….

Nah, kali ini sebetulnya susah juga, karena saya ingin menampilkan foto lain setelah 3 minggu absen, karena foto yang saya tampilkan persis sama dengan contoh di sana. Tapi apa boleh buat, sejak laptop saya rusak tempo hari, back up file foto ada di rumah. Tapi (lagi), terkadang meng-aplod foto di rumah tidak selalu berhasil dengan internet unlimited murah meriah ituh. Jadi dengan sangat terpaksa foto ’standar’ yang ditampilkan untuk tema “down” kali ini.

Ish…biasanya silent post, kali ini ‘cerewet’ banget hihihihi… (Pssttt…ada yang kangen sama si sepatu sobek saya ini ngga sih? :P )

Hadiah Istimewa Untuk Budhe

February 20th, 2012 § 19 Comments

“Kenapa Beib? Sepertinya ada yang dipikirkan.”

“Hari ini Budhe ulang tahun.”

“Oh ya? Biasanya kalian makan nasi tumpeng untuk makan malam ‘kan?”

“Iya.”

“Budhemu itu hebat ya. Merawatmu sejak kau kecil sekali.”

“Iya, Budhe seperti ibu sekaligus ayah buatku, bisa dibilang Budhe adalah segalanya, sudah pernah ku bilang Budhe tidak mau menikah karena aku ‘kan?”

“Alasan yang tidak bisa aku mengerti.”

“Aku juga, tapi aku pikir karena Budhe juga mencintai ayahku.”

“Ah… yang benar saja.”

“Konon anak kembar cenderung begitu.”

“Oh ya, mana hadiahmu untuk Budhe.”

“Ada, tapi bukan yang Budhe inginkan.

“Maksudnya?”

“Aku belum bisa memberikan yang Budhe minta kali ini.”

“Memangnya apa itu?”

“Budhe ingin… ah, nanti kau tanya sendiri lah ke Budhe ya.”

Dan Budhe memang sudah berdiri di depan pintu menyambut kami. Rupanya suara mobil mas Fajar sudah mulai terdengar khas bagi Budhe,

“Selamat ulang tahun Budhe, semoga panjang umur, sehat dan bahagia selalu.” Ucap mas Fajar tulus, aku pun mengucapkan hal yang sama, seraya berdoa pashmina yang sudah aku masukkan ke dalam kotak berpita cantik itu bisa menggantikan keinginan Budhe untuk melihatku segera menikah.

“Budhe, sebelum kita makan tumpeng, boleh saya mengatakan sesuatu?” tanya kekasihku itu lagi saat kami memasuki ruang tamu.”

“Monggo, kalau begitu kita duduk di sini dulu.” Jawab Budhe untuk menunggu apa yang ingin diucapkan mas Fajar. Apa ya yang akan mas Fajar sampaikan ke Budhe? Aku sendiri tidak tahu.

“Budhe…izinkan saya menikahi Rani, Budhe.” Suara mas Fajar terdengar entah di telingaku, benarkah? Bahagiaku tak terkira.

“Nak Fajar, Rani, ini adalah hadiah teristimewa yang pernah Budhe terima.” Ucap Budhe, tak kalah bahagia memelukku erat, yang sedang menatap mas Fajar dengan hati membuncah.

*Note : 271 kata

Artikel ini dikutsertakan dalam Kontes Menulis Cerita Mini

I’m Proud of You

February 17th, 2012 § 31 Comments

Dearest me,

Ini aku, dirimu di 8 (atau 9 ?) tahun kemudian, yang baik-baik saja setelah yang kita alami saat itu, dan bahagia. Dan surat ini aku buat untukmu, sebagai rasa terima kasihku, karena telah begitu kuat, karena telah begitu tegar, karena telah begitu tabah saat itu. Terima kasih banyak ya.

Oh iya, surat ini akan sedikit panjang, luangkan waktumu untuk membacanya ya. Please?

Ah, mungkin kamu akan bertanya-tanya kenapa aku harus berterima kasih padamu sedemikian rupa. Maka mari aku ceritakan sebuah kisah, tentang kita -kamu yang adalah aku- di masa itu. Sebuah episode kehidupan yang membuat kita -aku yang dulunya kamu- seperti sekarang ini.

Saat itu Agustus 2003, bulan kelulusanmu. Setelah berupaya keras selama 3 tahun kurang sedikit, akhirnya kamu berhasil menyandang Sarjana Muda dengan IPK 3,85. Saat itu -dengan idealisme mudamu yang sampai saat ini pun tidak bisa kumengerti- kamu sempat tidak ingin mengikuti prosesi wisuda di aula Dipati Ukur itu, untunglah kamu tidak menuruti kata hatimu itu. Kenapa? Karena Bapak begitu terharu saat seutas tali yang bertengger di topi togamu itu di alih-posisikan oleh Pak Rektor langsung, karena kamu cukup pintar untuk duduk di ruangan khusus bagi lulusan terbaik, karena kamu telah membuatnya bangga. Iya, Bapak memang tidak mengucapkannya padamu, bahkan tidak juga diucapkannya padaku sekarang atau nanti. Tapi tak mengapa, terkadang tak perlu kata untuk mengucap cinta, bukan?

Sebagian sahabat-sahabatmu segera melanjutkan S1, dan kau tidak punya pilihan lain selain mencari sebuah pekerjaan untuk melepaskan diri dari beban orang tua kita. Padahal aku sangat tahu, saat itu kamu masih begitu ingin belajar. Tapi hidup memang tak selalu memberi yang kita inginkan, seperti kamu si anak sulung dengan 3 orang adik yang masih sekolah, dan Bapak yang seorang pensiunan PNS. Maka perjuanganmu yang sebenarnya pun dimulai.

Kamu tentunya ingat, sejak semester akhir kuliah kamu ‘menumpang’ hidup di rumah adiknya Bapak, karena kamu hanya mampu membayar kamar kost-an untuk 6 bulan pertama. Tekanan untuk segera mandiri pun bertambah, dengan status ‘sudah lulus’ tidak mungkin lagi menumpang hidup seperti ini, begitu pikirmu. Walaupun Mamang sangatlah baik, Bibi pun sangat baik, ke-tiga adik sepupumu itu juga sangat baik. Tapi aku mengerti, berada di sana pastilah tetap terasa sangat asing.

Beberapa panggilan interview datang padamu karena sebelum lulus pun kamu rajin mengirimkan surat lamaran. Dengan IPK yang sedemikian tinggi, kamu cukup percaya diri untuk bisa segera mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus. Tapi terkadang Tuhan menyayangi kita dengan caraNYA sendiri, karena justru penolakan demi penolakan yang kamu terima.

Aku masih ingat perusahaan Garment di Cileunyi itu, seorang interviewer bertanya apakah kamu bersedia melepaskan jilbabmu jika bekerja di sana? Kenapa, tanyamu saat itu, seberapa mengganggu kah selembar kain penutup kepala saat seorang wanita bekerja? Dan jawaban mereka tak memuaskanmu, hingga kamu pun menolak mengikuti ujian berikutnya.

Lebaran tahun itu jatuh di bulan Desember. Kamu pulang ke rumah orang tua kita, dengan pikiran kalut karena masih saja menjadi pengangguran. Kamu menjadi penyendiri, menghindar bertemu orang-orang karena takut ditanya sudah bekerja atau belum. Aku ingat, kamu mulai merasa hidup tak adil padamu saat itu, bahkan menyangka Tuhan tak menyayangimu. Kamu tahu? Saat itu mungkin kamu hanya merasa malu lho. Tapi sudah lah ya, kita lanjutkan saja ceritanya.

Seorang sahabat SMPmu, yang meneruskan kuliah di Jakarta, berkunjung ke rumah bersilaturahim Lebaran. Dan dia ‘menantangmu’ untuk berpetualang di Jakarta. Jakarta? Sebuah tempat yang sama sekali tidak ada di bayanganmu sebelumnya. Sebuah tempat yang tidak ingin kamu datangi kecuali untuk perjalanan sesaat. Sebuah tempat yang terasa tidak mungkin. Tapi kamu ingin berlari, dan kamu memberanikan diri melawan semua perasaan takutmu sendiri. Kamu menyetujui tantangan itu.

Mamah sangat khawatir tentu saja. Kamu memang terbiasa tak pernah ada di rumah. SMU di Cirebon, kuliah di Jatinangor, sudah biasa. Tapi Jakarta? Bukankah konon kota ini lebih kejam daripada ibu tiri?  Tapi seperti biasa, kekeraskepalaanmu saat telah memutuskan sesuatu -baiklah, aku akui sekarang pun masih begitu :P – tidak bisa diganggu gugat, walaupun oleh larangan Mamah. Syukurlah Bapak menghormati keputusanmu itu (seperti biasanya ya :) ), percaya sepenuhnya bahwa kamu adalah wanita dewasa yang tahu apa yang diinginkannya.

Berangkatlah kamu ke Jakarta bersama sang sahabat. Menginjak terminal Pulo Gadung untuk pertama kalinya, menumpang metromini 45 jurusan Pondok Gede, menuju kostan sang teman di daerah kampus Unkris. Menghirup polusi Jakarta yang pekat, bersentuhan dengan auranya yang entah kenapa selalu terasa kompetitif, merasakan panasnya yang tidak pernah tidak menyengat. Aku begitu ingat rasamu saat itu. Takut, sekaligus bersemangat. Khawatir tetapi optimis. Jalan di depanmu seperti lapangan luas yang kosong, tapi karena begitu terang, kamu tak bisa melihat apapun.

Tapi kamu tidak akan tinggal di kamar kostan sang sahabat, karena salah satu adik Mamah -yang pernah tinggal dan disekolahkan keluarga kita- memintamu tinggal bersamanya. Berhijrah lagilah kamu ke Bekasi, ke rumah petak Mamang yang betul-betul hanya satu petak. Berbagi oksigen dengan istrinya dan seorang bayi keponakan yang baru berusia beberapa bulan. Kamar tidur hanya satu, maka lantai di depan TV adalah tempatmu berbaring. Kamar mandi pun di luar yang dipakai bersama-sama. Rumah kita di kampung memang jauh dari kata mewah, tapi rumah petak itu dengan segera membangkitkan rindumu untuk pulang ke sana.

Bulan-bulan awal 2004 mungkin bisa dibilang salah satu episode terberat kita. Entah sudah berapa ratus surat lamaran yang kamu kirimkan, entah sudah berapa puluh kali juga kamu menjalani test ini dan wawancara itu, tapi entah kenapa belum juga membuahkan hasil. Lagi-lagi, beberapa alasan penolakan itu adalah jilbabmu. Aku ingat, kamu pernah marah pada Tuhan karena hal itu. “Aku patuh pada perintahMU untuk menutup auratku, kenapa KAU tidak memudahkan pintu rezeki padaku?” Kamu ingat pernah menuliskan itu di buku kecilmu?

Memang kamu tidak perlu memikirkan uang makan dan bayar kostan karena beruntung bisa ikut di rumah Mamang, tapi tetap saja uang sakumu pemberian Bapak yang tak seberapa itu segera habis. Untuk mengeprint CV dan surat lamaran itu. Untuk ongkos bus menuju Sudirman-Thamrin-Cikarang itu. Untuk sekedar membeli pulsa agar hapemu tetap hidup. Tapi tetap saja uang itu habis, dan kamu harus pulang kembali ke rumah untuk meminta uang tambahan. Aku bisa mengerti jika kamu sering menangis di dalam bus karena hal itu. Malu, karena kamu merasa telah menjadi anak yang gagal. Aku ingat, saat bus dari terminal Bekasi itu melintasi rumah makan Ampera sebelum masuk tol, kamu bergumam dalam hati, “Sekembalinya aku ke sini besok, aku akan pergi ke sana, menawarkan diri menjadi pelayan, atau tukang cuci piring, atau apapun selama bisa menghasilkan uang, tidak meminta uang seperti ini lagi”, ah…aku mengerti sakit hatimu saat itu.

Kemudian, entah berapa hari setelah kau kembali datang ke Bekasi, seorang teman Mamang memberitahumu ada lowongan kasir yang harus bisa berbahasa Jepang di restoran Robata Komachi, di mal Kepala Gading. Kamu segera ke sana pagi-pagi, tersesat karena salah naik angkot dari Pulo Gadung (malah ke Senen :p), tapi masih harus menunggu beberapa jam karena konon sang manager sedang meeting.

Setelah bertemu pun, lagi-lagi mereka memintamu melepas jilbab, karena itu adalah restoran Jepang dengan sebagian besar pengunjung expatriate Jepang. Saat kamu menolak, mereka bilang itu biasa, ada beberapa karyawan mereka yang berjilbab juga, tapi saat bekerja yang mereka melepasnya. Sakit hati tapi putus asa, kamu mengajukan diri untuk menjadi tukang cuci piring di sana. Sang manager menertawakanmu, bahasa Jepangmu tidak terpakai kalau jadi tukang cuci piring. Dan kamu pun berlalu dari sana dengan rasa yang entah.

Kamu tahu, bertahun-tahun kemudian, aku -yang adalah kamu- seringkali bersantap di sana? Well, sebetulnya menemani para bos itu meeting dinner, dan harus hati-hati sekali memilih menu, terkadang hanya ngemil takoyaki ditemani ocha (haha). Tapi saat berada di sana, aku mengingatmu, untuk kemudian berterima kasih padamu. Karena dengan keteguhan hatimu, aku tak menemukanmu di sana sebagai seorang kasir dengan rambut terurai.

Ada kalanya, Mamang dan atau orang-orang di sekelilingmu menyarankan untuk menggunakan konsep ‘memancing’. Dimana kamu harus mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan uang. Hei, kalau aku punya uang, untuk apa aku mencari uang? Teriakmu lantang. Aku mengagumi keberanianmu itu, karena tentu saja sikapmu mengundang cibiran, sok suci lah, idealis lah, apa lah. Dan biasanya berakhir dengan penghakiman kamu tak akan pernah mendapatkan sebuah pekerjaan dengan cara sejujur itu.

Tapi kemudian di April 2004, kemenangan kecil itu terraih olehmu. Kamu melamar sebagai staf administrasi di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris. Mengerjakan soal-soal keuangan sederhana, tapi sang manager rupanya tertarik pada sosokmu yang (sepertinya) terlihat sabar. Dia memintamu ikut micro teaching bersama para calon teacher. Mengejutkan tentu saja, bahasa inggrismu sekedar praktis, manalah kamu mengerti tentang teori dan semacamnya yang diperlukan untuk menjadi seorang guru untuk mengajar bahasa Inggris?

Mungkin kesempatan tak selalu datang dua kali, maka kamu pun mengiyakan tawaran itu. Tanpa persiapan apapun, kamu mencoba menjelaskan dengan gemetar -di depan para calon ‘teacher’ sungguhan, bahkan di antaranya dosen di universitas- perbedaan I-me-my-mine-myself yang kamu tidak tahu apa itu istilahnya dalam tata bahasa Inggris. Aku ingat, salah satu kandidat mencecarmu dengan sangat, membuatmu mati kutu karena memang tidak tahu. Walaupun tetap saja, kamu lah yang terpilih di antara mereka. Kenapa? Tak perlu dipertanyakan, itu hanya kasihNYA padamu.

Dimulai lah episode menjadi seorang freelance teacher di lembaga itu. Kamu menerima dua belas ribu rupiah untuk mengajar 1,5 jam untuk satu kelas. Satu kelas itu hanya 2 kali pertemuan satu minggu. Dan awal-awal kamu di sana, kamu hanya dipercayakan mengajar untuk 2 kelas saja. Hahaha, ya, aku -kita maksudku- bisa menertawakan kepedihan itu sekarang. Air mata dan tawa pun berputar seperti roda kehidupan :)

Tetapi menjadi seorang guru lepas yang mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak kecil bukanlah impianmu. Sehingga itu bukanlah akhir dari perjalanan, kamu tetap menebarkan banyak CV dan surat lamaran ke sana ke sini. Walaupun demikian, tetap saja orang-orang terdekatmu mengajukan pertanyaan yang sama, “Sudah kerja belum?” seolah menjadi freelance teacher tidak layak dianggap sebagai sebuah pekerjaan, dan seolah kamu merencanakan hidup berhenti di sana.

Abaikan kenangan yang itu. Seiring dengan kelasmu yang sedikit bertambah, Bibi -istri dari Mamangmu yang tadinya baik itu- entah kenapa menjadi sedikit ‘kejam’. Mulai menyindirmu, membiarkan jemuran pakaianmu kehujanan, dan sebagainya dan sebagainya. Padahal kamu selalu mencuci-setrika pakaian mereka sekeluarga, memasak sebelum berangkat kerja, mengepel membereskan rumah dan semuanya. Tapi mungkin itu belum cukup. Membuatmu sadar keberadaanmu di rumah petak itu sudah kadaluarsa, kamu mengusir dirimu sendiri dari sana.

Lantas kamu kembali ke kamar kostan sahabat kecilmu itu. Uang sewa kamar dibayar berdua, biaya-biaya lain pun ditanggung bersama. Tapi entah kenapa, sang sahabat pun rupanya tidak lagi nyaman dengan kamu di sekitarnya. Sinyal-sinyal itu kamu mengerti dengan jelas. Walaupun itu tidak pernah melukai persahabatan kalian, aku mengerti kamu terluka oleh keadaan, karena penghasilan bulananmu yang tak seberapa itu belumlah memungkinkan untuk hidup mandiri seutuhnya.

Maka, puasa senin kamis menjadi salah satu pilihan. Sarapan hanya dengan teh manis, makan siang sekaligus malam antara jam 3 sore, hingga berjalan kaki demi menghemat seribu dua ribu rupiah pun kamu lakukan. Tentu saja kamu pun jadi harus berhutang, karena apalah yang bisa dihemat jika sebetulnya si uang itu tak ada?

Sekitar Oktober (atau November? aku lupa), kamu menerima tawaran dari lembaga kursus lain untuk juga mengajar di tempat mereka. Kabar yang menggembirakan, karena itu berarti kamu bisa sesekali membeli telur bahkan ayam untuk menu makan, tak melulu tumis kangkung-tempe-tahu seperti sebelumnya. Kamu tak lagi harus gali lubang tutup lubang meminjam uang. Bahkan kemudian kamu pun mengajar private, yang memungkinkanmu bisa membeli baju baru walaupun yang 25.000an itu. Hahaha…aku masih mengingat saat kita belanja di pasar Pondok Gede itu :D

Rupanya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena keberuntunganmu itu tidak menyenangkan sang manager yang dulu memintamu untuk ikut test menjadi teacher. Saat itu dia memintamu memilih, tetap bekerja di situ, atau keluar jika masih tetap ingin bekerja di sana. Kenapa? protesmu, toh kamu hanyalah freelance teacher, yang tidak terikat kesepakatan apapun. Tapi sang manager mengatakan teacher adalah aset bagi lembaga, dan kamu dianggap tidak bermoral karena tidak memiliki loyalitas. Harga dirimu terusik, kamu yang merasa tidak melakukan kesalahan apapun detik itu juga mengudurkan diri. Padahal, rasio penghasilan di lembaga itu dengan yang di sana adalah 70 : 30. Kamu kembali ke titik harus berhemat habis-habisan dan menderita.

Tapi itu adalah keputusan yang tepat, dan -sekali lagi- aku berterima kasih padamu untuk itu. Setelah tidak lagi bekerja pada lembaga yang telah ‘memecatmu’, si tempat kursus yang baru ini memberikanmu tanggung jawab lebih. Kamu dipercaya menjadi staf akademik, yang bertugas membuat jadwal mengajar para guru, membuat kurikulum bahan ajar, hingga menghitung jam kerja semua guru.

Tugas ini membuatmu menerima sejumlah gaji tetap -yang tetap saja jumlahnya seuprit hihihihi- di luar fee mengajarmu.  Bahkan, karena di lembaga ini para guru yang harus mendatangi murid (bekerja sama dengan SD-SD, sebagai les tambahan setelah pulang sekolah) kamu diberikan sebuah motor operasional selama jam kerja untuk pergi ke sana sini sehingga bisa menghilangkan sejumlah biaya transportasi.

Episode itu cukup menyenangkan juga buatku. Walaupun tetap saja kamu keukeuh menebar CV dan surat lamaran di setiap kesempatan. Hingga akhirnya kamu berhasil bekerja di kantorku sekarang ini 8 tahun lalu. Memang sudah terlalu lama aku di sini, tapi kamu harus tahu, ini pun bukanlah titik terakhir kita. Karena aku -seperti juga kamu dulu- selalu bermimpi untuk bisa menggapai bintang yang lebih tinggi.

Setidaknya, aku bisa memberitahumu episode kelabu itu sudah berlalu detik ini. Kita sudah cukup ‘berhasil’. Kamu sudah menjadikanku mandiri secara finansial, kamu sudah berhasil membalas budi kepada orang tua kita (walaupun tentunya tidak akan pernah cukup), kamu sudah memberiku jalan mewujudkan apa-apa yang dulu hanya mampu kamu angankan.

Dearest me,

Terima kasih ya, tanpamu, tanpa semua sikapmu itu, tanpa segala keputusanmu itu, tanpa ketegaran-keteguhan-ketabahanmu itu, aku tidak akan pernah seperti ini. I am so proud of you.

Dari aku -yang dulu adalah kamu- yang selalu mencintaimu

Cinta = Happy

February 16th, 2012 § 34 Comments

Mari kita berbicara tentang cinta temans ;) Saya percaya, cinta seharusnya memberikan efek bahagia bagi para pelakunya. Nah, jika salah satu -atau keduanya- merasa tersakiti, masih pantas kah itu disebut cinta? Uhuk, ngomongin apa sih ini Rin? qiqiqiqi.

Jadi begini temans, ada sebuah pertanyaan yang harus dijawab seperti berikut :

Maka saya ingin menjawabnya dengan => seharusnya tak ada sakit hati dalam cinta, kecuali memang orang-orang Masochist ya, yang merasa bahagia saat disakiti *halah* hihihi… Tapi saya pun mengerti, justru orang-orang yang saya cintai-lah yang sangat berpotensi melukai dan menyakiti. Lho? kenapa jadi kontradiktif begini ya? :P

Ada sahabat saya, yang seringkali menangis saat bercerita tentang kekasihnya. Dia yang (sepertinya) berselingkuh lah, dia yang tidak perhatian lah, dia yang suka kasar lah, dan sebagainya dan seterusnya. Saya bertanya pada sang sahabat, “kenapa cinta yang menyakitimu seperti itu dipertahankan?”, kurang lebih seperti itu lah kalimatnya ya.

Karena menurut saya, cinta seharusnya membuat kita lebih bahagia, lebih bergembira, lebih sering tertawa, lebih banyak bersyukur, lebih segalanya. Maka jika cinta lebih sering membuatmu menangis, kecewa, terluka, apalagi sakit hati, bukankah itu artinya ada sesuatu yang ‘salah’ dari cinta tersebut?

Karena menurut saya, saat kita marah, atau tidak setuju, atau merasa kecewa pada seseorang yang kita cinta, maka cara-cara yang dilakukan untuk menunjukkan perasaan ‘negatif’ itu pastilah akan tetap santun, memperbaiki bukan menghakimi, mengingatkan bukan melemahkan.

Karena menurut saya, walaupun untuk berbahagia tak perlu syarat apapun termasuk cinta, tapi bersentuhan dengan cinta sepantasnya membuat seseorang bahagia, bukankah demikian tujuan Sang Maha Cinta menciptakan sebentuk cinta?

Hadeuuuh, membaca kembali barisan kalimat di atas berhasil membuat saya tertawa sendiri ha ha. Sudahlah ya, sepertinya saya memang tidak terlalu berbakat bicara tentang cinta :D

My Heart is Afraid to Suffer

February 15th, 2012 § 29 Comments

Seringkali, banyak yang ingin diceritakan justru menghasilkan tak satu pun cerita. Setidaknya itu terjadi pada seorang saya, berkali-kali, dan terkadang memang menyebalkan, seperti sekarang.

Tapi ya sudahlah ya, dinikmati saja. Dan untuk postingan kali ini, saya hanya ingin menuliskan kembali, salah satu penggalan dalam buku the Alchemist yang saya ambil dari sini. Membacanya kembali membuat saya ‘nyengir’ berulang kali, malu hati ceritanya, karena masih saja merasa takut-kecewa-gagal-sedih-sakit hati bla bla bla. Padahal itu mah cuma perasaan saja, yang memang selalu lebay berlebihan.

Ah, kebanyakan basa basi, maafkan ya temans ;) Sok silahkan dinikmati saja tulisannya om Coelho ini :D

“Why do we have to listen to our hearts?” the boy asked, when they had made camp that day.

“Because, wherever your heart is, that is where you’ll find your treasure.”

“But my heart is agitated,” the boy said. “It has its dreams, it gets emotional, and it’s become passionate over a woman of the desert. It asks things of me, and it keeps me from sleeping many nights, when I’m thinking about her.”

“Well, that’s good. Your heart is alive. Keep listening to what it has to say.”

“My heart is a traitor,” the boy said to the alchemist, when they had paused to rest the horses. “It doesn’t want me to go on.”

“That makes sense. Naturally it’s afraid that, in pursuing your dream, you might lose everything you’ve won.”

“Well, then, why should I listen to my heart?”

“Because you will never again be able to keep it quiet. ”

“You mean I should listen, even if it’s treasonous?”

“Treason is a blow that comes unexpectedly. If you know your heart well, it will never be able to do that to you. Because you’ll know its dreams and wishes, and will know how to deal with them.

“My heart is afraid that it will have to suffer,” the boy told the alchemist one night as they looked up at the moonless sky.

“Tell your heart that the fear of suffering is worse than the suffering itself. And that no heart has ever suffered when it goes in search of its dreams, because every second of the search is a second’s encounter with God and with eternity.”

Got the point on the bold one?  Have a brave life then, Pals ^^

 

Amerta

February 14th, 2012 § 23 Comments

Namaku Amerta. Aku tidak tahu siapa atau kenapa aku dinamai demikian. Tapi nama itu lah yang semua orang serukan saat memanggilku, tanpa ada satu pun yang bertanya padaku, apakah aku menyukai nama itu atau tidak. Dan aku tidak pernah merasa namaku itu luar biasa, hingga saat aku bertemu dengannya. Dia, lelaki malaikat yang memberitahukanku tentang surga.

“Kau pernah berpikir tidak, kenapa Tuhan menciptakan Hawa?”

“Untuk menemani Adam di surga, bukan?”

“Hmm… Mungkin saja.”

“Mungkin saja? Menurutmu tidak begitu?”

“Menurutku sedikit berbeda.”

“Bagaimana?”

“Karena surga tak bermakna tanpa kehadiran Hawa.”

“Wow.”

“Iya, seperti aku yang tak ingin berada di surga, jika di sana tak ada dirimu.”

“Ah, itu gombal.”

“Terserah apa katamu. Tapi bagiku dirimu abadi.”

“Maksudnya?”

“Seperti arti namamu. Amerta.”

“Memangnya apa arti namaku?”

“Kau tak pernah tahu arti namamu?”

“Tak ada yang memberitahuku.”

“Dan kau tidak mencari tahu?”

“Untuk apa? Toh aku bukan siapa-siapa.”

“Hei, kau adalah segalanya bagiku.”

“Benarkah?”

“Ya. Amerta-ku. Amerta yang tidak dapat mati. Amerta yang abadi. Amerta yang tidak terlupakan.”

“Itukah arti namaku?”

“Benar sekali. Indah bukan?”

“Entahlah…”

“Kenapa? Kau tidak menyukainya?”

“Tapi untuk apa hidup selamanya? Kenapa harus tidak terlupakan? Bagaimana aku bisa menikmati hidup jika aku tidak bisa mati?”

“Ah…kau telah melupakan surga, rumah kelahiranmu. Tempat di mana semuanya tak pernah mati, abadi dan tak terlupakan.”

“Surga? Tempat yang sama saat Adam dan Hawa diciptakan itu?”

“Tempat semua berasal dan kembali.”

“Maukah kau mengajakku kesana?”

“Ke surga?”

“Iya.”

Lantas kau hanya tersenyum dan sesaat kemudian menghilang. Meninggalkanku yang tak dapat mati, abadi, dan tidak terlupakan. Untuk apa amerta-ku itu jika tanpamu?

Sekali lagi aku tatap dirimu yang kini hanyalah sebentuk abu pengisi botol kecil dalam genggamanku. Wahai lelakiku, izinkan aku menjadi debu sepertimu, dan segera kita akan berjumpa disana. Di surga. Tempat semua berasal dan kembali. Dan aku pun menari bersama api yang memelukku, hangat.

*Note : 301 kata

***

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka. Ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

In Love

February 6th, 2012 § 51 Comments

Bukaan…saya tidak ingin menceritakan saya sedang in love (lagi) dengan sang matahari atau semacamnya kok. Saya hanya sedang mumet dan galau, antara meneruskan report yang harus dipresentasikan dan keinginan bernarsis ria di blog hahahaha.

Well, saya betul-betul harus membuat report, tapi boleh lah ya memajang foto makan-makan kemarin sebentar, ini pun fotonya minjem di facebooknya teman :P . Nama resto-nya In love, lokasinya di pinggir sungai…errr…maafkan, susah mengingat namanya, pokonya mah sungai gede di Bangkok lah ya. Bukan malas browsing, tapi saya gaptek mengubah setingan si tulisan cacing itu ke english, berkali-kali tanya mbah gugel tetap saja dijawab dengan tulisan cacing, teu ngartos ah abdi mah, lieuuuurrr sodara-sodara hihihihi.

Buat yang berencana honey moon ke Bangkok, sok mampir ke sini, romantis bow *kedip-kedip*, dan berhasil dengan sempurna membuat saya kangen sama itu tuuuuh heuheuheu.

pas mau pulang

Yang ini baru dateng, senjanya mantabh
 
Sudah ah, sekian laporan hari ini ya. See you around Pals ;)
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 66 other followers