#fikmin50kata

Fikmin itu maksudnya fiksi mini ya temans. Jadi di facebook ada keseruan membuat fiksi mini sebanyak 50 kata ini, masih berlangsung hingga tanggal 30 Juli nanti, jadi kalau ada yang mau ikut seru-seruan, sila cek infonya di sini yaa.  Baiklaaaah, mumpung saya lagi baik, nih saya copas-kan juga infonya :D

Dearest Writers,

Ikuti event ‪#‎FikMin50Kata‬ dengan hadiah paket buku senilai Rp 250.000 dari Woman Script & Co masing2 untuk 2 pemenang.

Ketentuannya:

1. Tema boleh pilih salah satu: korupsi, kampanye, ramadhan.
2. Tulis pada status Facebook masing-masing.
3. Kasih nomor pada sebelum judul di setiap fiksimini yang diikutkan. Maksimal boleh setor 5 fiksimini dlm 1 periode. Silakan setor fiksimini terbaiknya.
4. Panjang fiksimini/flashfiction maksimal 50 kata, termasuk judul.
5. Hashtag wajib: #fikmin50kata
6. Silakan tag panitia Deka Amalia Ridwan Uni Dian Iskandar Mbak Tanti Neng Amelia Juri Carolina Ratri
7. Periode event: 2 – 30 Juli 2014 pukul 23.59 WIB.

Selamat berimajinasi.

Sudah jelas kan ya? Jika ada pertanyaan sila hubungi para panitia dan atau ibu juri hihihi.

Saya jelas sudah ikutan dong, jatah saya masih sisa 2 lagi, mau baca? Mau yah…yah… *maksa*. Ini dia ketiga #fikmin50kata saya.

(1) Ngabuburit

“Dul, asyik ya ngabuburit begini.”
“Iya, Mad, jadi ga bete.”
“Apalagi kalau sambil ngemil gorengan.”
“Nih, aku bawa tempe mendoan.”
“Mantap! Nih, aku bawa es cincau.”
“Maknyus! Sambil nunggu maghrib oke lah ya.”
Dul sumringah, Mad gembira. Keduanya khusyuk menyantap perbekalan ngabuburit sore ini.

___

(2) GolPut

“Dung, lo kemarin milih yang mana? Fuchsia atau magenta?”
“Mmm…”
“Apa? Lo golput?”
“Bukannya gitu, Jon, tapi gue…”
“Ya ampun, Dung, padahal sebagai warga negara yang baik, lo harusnya ikut milih, ngasih suara lo!”
“Ngerti, masalahnya gue…”
“Apa? Apa masalah lo sampe golput segala?”
“Gue…gue buta warna, Jon.”

___

(3) 22 Juli

“Positif kan? 22 Juli?”
“Semoga saja begitu.”
“Gawat kalau mundur, bisa runyam nih Lebaran.”
“Iya, pokoknya siapapun presidennya, mesti kita dukung, dan Indonesia tetap damai.”
“Hah? Presiden?”
“Hlo? Kita lagi ngobrolin hasil penghitungan suara Pilpres kemarin kan?”
“Haiyyahh… Terserah aja presidennya siapa, yang penting THR ditransfer tanggal 22!”

Gimana? Mari ikut seru-seruan, temans ;)

Jam Penunjuk Sholat

Di setiap masjid atau musala, biasanya ada jam penunjuk waktu sholat. Tidak terkecuali di Mesjid Sultan, yang terletak di Kampong Glam, Singapore ini. Masjid ini dibangun oleh Sultan Hussein pada tahun 1824, dan mengalami renovasi di tahun 1925. Berada di kawasan North Bridge Road, Kandahar Street, Baghdad Street dan Arab Street, Masjid Sultan tidak hanya dikunjungi oleh mereka yang ingin mendirikan sholat, tapi juga oleh wisatawan yang sekadar ingin memotret atau ingin tahu sejarah masjid. Disediakan (semacam) rukuh bagi wisatawan untuk menutup aurat saat ingin melihat ke dalam masjid.

@Sultan Mosque - Singapore

@Sultan Mosque – Singapore

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

Berkah Ramadhan

Sore itu di pelataran masjid.

“Kenapa, Kak? Kok sedih begitu? Tidak suka mengajariku membaca ya?”

“Tidak, Dik. Kakak malah senang kamu bisa membaca dengan cepat, kamu pintar, tidak seperti Kakak dulu.”

Si Adik sumringah, gembira dianggap pintar membaca. Si Kakak ikut tersenyum, senang sudah bisa mengajari adiknya membaca.

“Lantas? Kenapa Kakak terlihat sedih?” tanya si Adik lagi. Menutup buku lusuh yang sedang dipelajarinya.

Jeda yang senyap, si Kakak diam beberapa saat. Lantas mengajak adiknya mendekati jendela, mengintip ke dalam.

“Kakak ingin seperti mereka, Dik.”

Si Adik mengikuti arah pandang kakaknya, di dalam sana ada sekelompok anak-anak seusia mereka sedang membaca sebuah buku tebal yang berisi tulisan aneh, bukan seperti huruf-huruf yang sudah bisa dibacanya.

“Memangnya mereka lagi ngapain, Kak? Itu buku apa?”

Si Kakak tersenyum, lantas menunduk menatap rok kumalnya yang berdebu. Si Adik terdiam menunggu, tidak mengerti.

“Mereka sedang mengaji, Dik. Membaca Al Quran,” jawab si Kakak akhirnya.

Si Adik mengangguk-angguk, meskipun dia masih belum mengerti, apa istimewanya mengaji? Apa itu Al Quran? Tapi dia tak berani lagi bertanya, karena Kakaknya terlihat begitu sendu. Si Adik menatap anak-anak itu, yang berpeci dan berkerudung, yang berpakaian indah dan bersih, yang wajahnya gembira dan ceria. Alangkah bahagianya hidup mereka.

“Seandainya kita bisa belajar membacanya,” bisik si Kakak lirih, seperti berkata pada dirinya sendiri.

Sekali lagi jeda yang senyap menyapa. Kali ini si Kakak dan si Adik sama-sama menatap bisu anak-anak di dalam masjid. Hingga kemudian seorang perempuan berkerudung biru menyapa.

“Assalamu’alaikum, adik-adik,” katanya seraya tersenyum ramah. Si Kakak tergeragap menjawab salam itu, kaget bercampur takut, khawatir mereka diusir dari sana oleh sang Kakak berkerudung biru. Biasanya tak ada yang menyapa mereka, biasanya mereka dianggap seolah tak ada.

“Mau ikut belajar mengaji?” Ajakan sang Kakak berkerudung biru membuat si Kakak terkejut gembira, tidakkah telinganya salah mendengar?

“Bo…boleh, Kak?” tanyanya gugup, si Adik hanya ikut menatap Kakak berkerudung biru takjub.

“Tentu saja boleh,” jawab sang Kakak berkerudung biru, tetap tersenyum. “Tapi, kalian mandi dulu. Sini ikut Kakak,” ajaknya seraya menuju sebuah ruangan di belakang masjid. Di sana banyak kotak kardus yang rupanya berisi baju-baju bekas sumbangan dari warga. Si Adik tertawa lebar, dia tahu dia akan segera mendapatkan baju baru. Si Kakak terharu, karena sebentar lagi dia bisa belajar mengaji.

“Nah, ini baju bersih untuk kalian.” Kakak dan Adik menerimanya dengan suka cita. Padahal Lebaran masih lama, tapi mereka akan segera memakai baju baru!

“Setelah mandi, nanti kalian Kakak ajari  belajar membaca, Iqro dulu saja, kalau sudah lancar, nanti melanjutkan ke Al Quran,” jelasnya panjang lebar. “Seperti ini,” lanjutnya lagi seraya menunjukkan sebuah buku tebal yang tadi mereka lihat sedang dibaca anak-anak di dalam masjid. ‘Syaamil Quran’ demikian si Adik membaca huruf-huruf yang tercetak di depan buku tebal itu.

Keduanya mengangguk tanda mengerti, dan bersemangat berlarian kecil pergi ke kamar mandi, alangkah menyenangkannya bisa belajar mengaji.

“Alhamdulillah ya, Dik, berkah Ramadhan.”

“Iya, Kak. Tapi nanti bajunya jangan kita pakai untuk ngamen, sayang, nanti cepat kotor.”

Si Kakak tertawa, si Adik ikut terbahak. Sore itu menjingga lebih ceria untuk keduanya.

***

Note : 496 Kata, ditulis khusus untuk Lomba Menulis Cinta Al-Quran

Memilih untuk Ikut Memilih

Waktu SMP dulu, ada semacam kutipan atau quote yang terpasang di salah satu kelas di sekolah saya, bunyinya (kurang lebih) begini “Jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan pada bangsamu”, kalau tidak salah kalimat tersebut diucapkan Pak Soekarno dalam salah satu pidatonya. Tapi ternyata quote ini awalnya diucapkan oleh Presiden Amerika John. F Kennedy, terima kasih mas Arman infonya ya.

Hal-hal yang terpikirkan untuk ‘memberikan sesuatu’ pada Indonesia saat itu tentu saja adalah yang muluk-muluk, ingin menjadi seperti Susi Susanti yang juara bulutangkis dunia misalnya, atau menjadi juara olimpiade fisika yang mewakili Indonesia, atau menemukan rumus matematika baru entah apa seperti Pythagoras mungkin? he he. Saya cukup tahu diri untuk berhenti berusaha mewujudkan impian semacam itu, meskipun saya sangat mencintai Indonesia dan bangga menjadi rakyat Indonesia. Tapi kemudian saya tahu, ada hal yang cukup mudah yang bisa saya lakukan untuk Indonesia, yaitu dengan ikut memilih alias nyoblos dalam pilpres tanggal 9 Juli mendatang.

*Semoga tulisan ini tidak dianggap menyalahi aturan masa tenang kampanye :D*

Tidak, saya bukan relawan atau pendukung pasangan manapun. Bagi saya, kedua pasangan kandidat memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Toh keempatnya memang manusia biasa yang tidak mungkin 100% benar ataupun 100% salah. Seperti juga saya, si rakyat biasa yang adalah manusia biasa yang biasa-biasa saja ini. Saya hanya ingin ikut serta berkontribusi memberikan ‘sesuatu’ untuk negara tercinta ini, meski itu sekadar satu ‘suara’.

Saya mengerti, tidak memilih pun sebetulnya adalah pilihan, sebuah sikap yang wajar dengan semua aura pilpres beberapa minggu belakangan ini yang cenderung negatif dan membuat pusing. Tadinya pun saya ingin bergolput ria, terserah sajalah, siapapun Presidennya toh saya masih harus bekerja untuk mencari makan ‘kan? he he. Tapi kemudian saya sadar, bahwa suara saya, bagaimanapun, kelak akan ikut menentukan masa depan Indonesia.

Masih bingung menentukan pilihan? Di zaman secanggih ini alasan tersebut rasanya terlalu mengada-ada. Banyak sekali media yang bisa gunakan untuk menghilangkan kebingungan tadi. Sudah nonton debat terbuka? Saya tidak terlalu mengikuti, tidak sampai mantengin  dari awal hingga acara berakhir, tapi tetap saya perhatikan bagaimana beliau-beliau itu menjelaskan visi dan misi ataupun menjawab pertanyaan dan harapan. Sudah membaca jejak rekam masing-masing kandidat? Perhatikan sumbernya, jangan hanya membaca judul artikel saja, dan jangan langsung percaya. Seringkali banyak berita bohong yang bahkan adalah fitnah belaka, memotong-motong kisah sebenarnya untuk menjatuhkan. Tidak perlu ikut-ikutan memilih kandidat tertentu. Suami pilih A tidak harus ikut A juga, artis idola pilih B jangan langsung ikut memilih B, tanyalah hati nurani siapa yang mampu dan pantas menjadi pemimpin terbaik.

Jika belum yakin juga, masih ada waktu untuk sholat istikhoroh, meminta petunjukNya untuk Indonesia yang lebih baik, karena pada akhirnya siapapun Presiden kita nantinya adalah atas izinNya semata. Apalagi tanggung jawab Presiden (dan Wakil Presiden) bagi pasangan terpilih kelak sangatlah besar, siapapun nantinya yang memperoleh suara terbanyak harus sama-sama kita doakan, untuk selalu bisa amanah menerima kepercayaan rakyat Indonesia.

Saya yakin teman-teman sudah taat membayar pajak, tidak buang sampah sembarangan, berhenti saat lampu merah menyala, sering menggunakan batik di berbagai acara, berkarya sebaik mungkin di bidang masing-masing, mengenalkan Indonesia pada dunia dengan bermacam media, dan sebagainya dan seterusnya. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk Indonesia tercinta ini. Dan menggunakan hak pilih adalah satu dari sekian cara mencintai Indonesia, setidaknya bagi saya.

Jadi? Kenapa saya akan ikut memilih tanggal 9 Juli besok? Karena impian menjadi Susi Susanti berikutnya terlampau muluk bagi seorang Orin :).

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia

Tentang Catatan Hati Seorang Istri

Postingan ini saya tulis setelah membaca postingan Mak Nurul yang ini, postingan tersebut menyinggung tentang sebuah sinetron yang diangkat dari novel Asma Nadia berjudul sama : Catatan Hati Seorang Istri (untuk selanjutnya kita singkat menjadi CHSI) yang rupanya sedang happening saat ini.

Jadi ceritanya begini temans.

Saya memang rasanya belum layak lah ya menyebut diri saya sebagai seorang penulis (atau semacamnya) hanya karena sudah berhasil menerbitkan sebuah buku -itupun antologi tentu saja- di penerbit mayor yang bukunya mungkin bisa ditemui di hampir seluruh toko buku, maka saya tidak pernah menceritakan hal ini ke keluarga besar saya. Adik-adik saya tahu setelah saya pasang foto launching di facebook, dan dari sana tentu saja Mamah saya  pun jadi tahu kalau saya ini -katakanlah- seorang penulis.

Lantas apa hubungannya dengan sinetron CHSI?

Alkisah, di suatu hari yang biasa-biasa saja, saya menelepon Mamah. Biasalah menanyakan kabar, dan mendengarkan beliau bercerita ini itu dan sebagainya dan sebagainya. Mamah saya, seperti juga ibu-ibu pada umumnya *halah* tentu saja pencinta sinetron, dan rupanya CHSI adalah sinetron berikutnya yang menjadi sinetron terfavorit beliau. Maka terlibatlah perbincangan kami yang (kurang lebih) seperti ini.

Mamah (M) : Teteh katanya nulis buku?

Saya (S) : Iya.

M : Sok atuh dibikin sinetron, kayak CHSI tuh, kan dari novel cenah?

S : Iya, yang nulis Asma Nadia, dia mah penulis terkenal atuh Mah, bukunya juga baaaaanyak

M : Nulis yang kayak gituh atuh, ih Mamah suka banget da sinetronnya, apalagi Hana tuh meni sabaaar pisan. Tonton gih, bagus kok, banyak hikmahnya bla… bla… bla…

Dan percakapan berlanjut hingga pulsa saya hampir habis untuk bertelepon ria selama setengah jam lebih hihihihi.

Terus, apa hubungannya perbincangan dengan Mamah di atas, dengan postingan kali ini?

Meskipun terlihat tidak masuk akal saya bisa menyamai seorang Asma Nadia yang tulisan-tulisannya sudah saya baca bahkan sejak saya masih kuliah, tapi harapan -jika saya bisa menyebutnya demikian- Mamah itu entah bagaimana seolah mampu menjadi semacam pecut bagi saya, untuk berupaya menjadi penulis ‘betulan’, karena rasanya begitu mengharukan saat Mamah menganggap saya bisa melakukan hal tersebut. Padahal kan tulisan saya masih geje bin teu pararuguh begitu ya hihihihi.

Ya sudah, begitu saja dulu curcol saya hari ini temans, jadi kalau nanti ada sinetron/filem dengan keterangan ‘based on Rinrin Indrianie’s book’ tidak perlu terlalu kaget yaa :D

Hahahaha *menghayal dot com*