Malia

April 16, 2014 § 12 Comments

“Hai,” sapaku ragu. Gadis kurus berambut panjang itu seperti tidak mendengar sapaanku. Matanya yang selalu terlihat sedih tetap lurus menatap lautan luas di depan kami, rambutnya menari lembut berdansa dengan angin senja.

“Kenapa kau selalu mengikutiku?” Hatiku mencelos. Jadi selama ini dia tahu?

“Maaf, aku tidak bermaksud….”

“Pergilah!” potongnya cepat, masih tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Aku bergeming. Aku tidak akan pergi, meski dia meneriakiku sebagai pencopet atau apapun, tidak setelah apa yang kulihat hendak dilakukannya kemarin malam.

“Tidak, aku tidak akan pergi.”

“Kenapa?”

“Apakah pistol kecil itu masih ada di dalam tasmu?”

“Memangnya siapa kamu? Apa pedulimu?” cecarnya bertubi-tubi, terusik. Kali ini matanya menantang mataku, kedua bola mata bening itu menatapku beberapa detik tanpa berkedip, berkali-kali kulihat mata itu menangis tanpa ratapan, padahal matanya begitu indah, seharusnya pelangi yang ada di sana, bukan air mata. Tangan kirinya menggenggam tas selempang bermotif batik bali kecil di pinggangnya erat-erat. Pistol itu masih ada di sana rupanya.

“Kau bisa memanggilku Gun.”

“Aku tidak peduli namamu siapa?!” bentak gadis itu kasar, kakiku reflek melangkah mundur saat mendengarnya. Matanya menyipit menatapku penuh kebencian, rahangnya mengeras, napasnya cepat dan tangan kanannya terkepal. Gadis cantik di depanku ini sepertinya menjelang gila.

“Oke, tenang dulu, Nona.”

“Namaku Malia, dan aku tidak gila.” Oh? Gadis kurus bermata bening ini semakin menarik saja di mataku. Apakah dia bisa membaca pikiranku?

“Kau pernah datang ke The Bay Bali sebelumnya, Malia?” tanyaku santai. Maksudku, aku berupaya sekuat tenaga untuk terlihat santai. Bagaimanapun, di tasnya ada sebuah pistol berpeluru. Jika kemarin malam gadis itu batal menembak dirinya sendiri, siapa yang bisa menjamin sore ini peluru itu akan bersarang di tubuhku atau tidak?

“Kenapa kau ingin tahu?” jawabnya ketus, lantas duduk di atas pasir, mencopot sandal jepitnya, lalu menyelonjorkan kakinya yang panjang. Tangan kirinya masih memegang si tas selempang –berisi pistol- yang kini berada di pangkuannya, sementara tangan kanannya diletakkan begitu saja di atas pasir. Saat itulah aku melihat sebuah cincin bermata berlian di jari manisnya. Ternyata Malia adalah seorang perempuan, di mana lelakinya?

Ragu, aku ikut duduk di sampingnya diam-diam.

“Aku cukup sering ke sini.”

So?” Gadis itu, ralat, perempuan itu menanggapiku ogah-ogahan, tak peduli.

“Nusa Dua memiliki pantai yang indah, dan The Bay Bali melengkapi keindahan itu dengan nyaris sempurna, membuatku ingin datang lagi dan lagi,” kataku panjang lebar, entah Malia menyimak perkataanku atau tidak.

Aku melanjutkan ocehanku meski dia diam saja.

“Aku mencintai Ocean Walk dengan dinding-dinding batu menakjubkan itu, tak mungkin bosan berjalan kaki menikmatinya. Kau juga suka berjalan di lorong itu, kan? Aku pernah melihatmu berjalan di sana berlama-lama.”

Malia tetap geming.

“Kau pernah mencoba bebek bengil dengan sambal matahnya yang maknyus, Malia? Atau seafood super yummy di Pirates Bay? Aku juga suka sekali makan di Hong Xing dengan panorama pantai yang bisa langsung terlihat saat kita makan di sana.” Malia menoleh ke arahku, mata beningnya berkata apa-yang-sedang-kau-bicarakan itu menatapku dalam diam.

Ya, apa yang sedang aku bicarakan? Sudah jelas kehadiranku tidak dia harapkan, Malia sudah mengusirku sejak tadi, dan aku malah mengajaknya mengobrol tentang kuliner? Aku merasa konyol. Sedikit salah tingkah dan akhirnya ikut terdiam.

“Kau pernah mencintai seseorang, Gun?” Nah, aku terselamatkan oleh pertanyaan Malia yang tak terduga.

“Mmm…well…” aku enggan menjawab, aku menyukai perempuan tentu saja, tapi aku merasa tidak perlu berkomitmen terlalu jauh untuk hanya mencintai satu perempuan dan menjadikannya sebagai kekasih, apalagi istri. Tak perlulah hal semacam itu aku ceritakan pada Malia. Maka sepertinya aku belum punya kapasitas menjawab pertanyaan Malia.

Dan jeda yang canggung datang. Tak ada yang berkata-kata di antara kami berdua, hanya deburan lembut ombak dan suara senja semata.

Malia memang perempuan yang menarik, di detik pertama aku melihatnya, dia seperti memiliki magnet rahasia yang membuatku terus tertarik ke arahnya. Mungkin rambut hitam lurusnya, mungkin kaki indahnya yang jenjang, mungkin karena mata bening sendunya yang seringkali kulihat menangis, entahlah. Apapun itu, sesuatu dalam diri Malia sanggup membuatku nekat mengikuti semua gerak geraknya dari jauh sejak dia datang tiga hari lalu, bahkan memberanikan diri menyapanya sore ini hanya karena penasaran kenapa dia ingin mengakhiri hidupnya sendiri.

“Kau benar, Gun, kemarin malam aku ingin mati,” katanya lagi, lantas mengeluarkan pistol kecil itu dari dalam tasnya. Membuatku menelan ludah dengan susah payah, apalagi saat Malia memasukkan moncong pistol ke dalam mulutnya, jari telunjuknya sudah siap menarik pelatuk, membuatku begidik ngeri. Semua manusia di muka bumi pasti mati, kenapa harus membuatnya terjadi lebih cepat segala? Sangat tidak masuk akal.

Untunglah Malia mengeluarkannya lagi, dan kini menatap si pistol yang dia letakkan di telapak tangan kanannya yang berpasir, mengamati setiap detilnya dengan cermat, seolah pistol itu adalah benda asing yang baru saja menarik minatnya.

Aku menunggu Malia melanjutkan kalimatnya dalam diam. Meski aku ragu Malia akan bercerita lebih jauh, bagaimana pun, aku adalah orang yang sangat asing baginya, dia tidak mengenalku sama seperti aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Tapi mungkin itu justru bagus, orang-orang terdekat kita terkadang terlalu menghakimi karena merasa sudah mengenal kita selama hidupnya. Pada seseorang asing yang baru kau temui, kau bisa bercerita apapun tanpa khawatir dihakimi ini itu, toh kau mungkin saja tak akan pernah bertemu dengannya lagi.

“Apakah kau bahagia, Gun?” Ah, kenapa dia bertanya padaku lagi? Seharusnya dia bercerita saja, tentang seseorang yang dicintainya, atau tentang kenapa dia ingin mengakhiri hidup, atau tentang cincin yang melingkar di jari manisnya, mungkin?

“Aku pikir aku bahagia saat lelaki itu berkata dia mencintaiku dan ingin menikahiku, Gun.” Malia menjawab pertanyaannya sendiri. “Tapi rupanya mencintai, dan kemudian dicintai orang yang mencintaimu, tidak selalu bisa membuatmu bahagia.”

Selingkuh? Apakah lelaki Malia memilih perempuan lain selain dirinya dan membatalkan pernikahan mereka? Kurang ajar! Sebentar, kenapa aku harus merasa begitu marah?

“Aku seperti bukan Malia, bukan diriku yang dulu, bukan Malia yang aku hormati dan aku cintai, saat bersamanya, Gun.”

“Maksudmu?” Aku tidak mengerti. Perselingkuhan atau cinta yang terbagi masih lebih mudah aku pahami. Tapi yang barusan dikatakan Malia, terdengar absurd bagi telingaku. Bagaimana seseorang bisa mengubah seseorang yang lain menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri atas nama cinta? Bah!

“Aku mencintainya, Gun. Tapi sepertinya dia mencintai Malia yang bukan aku.” Errrr…membingungkan.

“Tapi aku juga ingin bahagia, aku ingin lebih mencintai diriku sendiri.”

“Jadi?” tanyaku masih tak mengerti. Bisa disimpulkan Malia kecewa terhadap kekasihnya, atau suaminya? (Aku harus mengkonfirmasi soal kekasih versus suami ini padanya nanti). Lantas dia memilih pergi dari lelaki itu, yang walaupun mencintai Malia dan Malia mencintainya, tidak membuat Malia bahagia karena dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri saat bersamanya. Tapi kenapa Malia ingin mengakhiri hidup?

“Aku tahu, Gun, ini adalah kesalahan bodoh,” ujarnya seraya menunjuk si pistol yang masih betah berada di telapak tangan kanannya. “Buanglah pistol ini untukku, dan ini juga,” pintanya seraya menarik tangan kiriku dan meletakkan pistol itu tanpa persetujuanku. Lantas mengeluarkan cincin dari jari manisnya dan meletakkan benda itu juga di tanganku, bersebelahan dengan si pistol yang sudah ada di sana lebih dulu.

Aku belum pernah memegang pistol semacam ini, benda kecil dingin itu membuatku merasa entah. Antara lega sekaligus khawatir si pistol bisa meletus sendiri. Tapi ternyata cincin itu yang membuatku lebih takut, seolah semua gadis yang pernah aku pacari bersatu berkumpul pada benda kecil berkilau itu, menuntutku untuk memilih satu di antara mereka dan bersumpah mencintainya hingga penghujung usia. Haha, paranoid yang konyol. Aku meletakkan pistol dan cincin di atas pasir dengan hati-hati. Lantas menatap Malia yang kini terlihat damai, memandang senja yang perlahan menjingga dengan senyuman.

 “Jadi? Kau tidak akan membunuh dirimu sendiri?”

 “Tidak, Gun. Tidak hari ini, atau kapanpun. Aku akan mati sendiri, dengan cara apapun yang sudah Tuhan putuskan untukku.” Jawaban yang sangat memuaskan, begitulah seharusnya, perempuan secantik Malia seharusnya mati dalam damai.

“Apakah kau masih akan mencintai seseorang?”

“Nanti, mungkin suatu hari nanti, Gun. Mencintai dan dicintai itu rumit, kau tahu? Tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik dan benar.” Aku tertawa tanpa suara mendengarnya. Aneh sekali menerima petuah semacam itu dari seorang perempuan yang nyaris menghabisi nyawanya sendiri karena cinta. Tapi mungkin aku pantas dinasehati demikian, karena selama ini aku tidak –atau belum (?)- bisa mencintai dan dicintai dengan baik dan benar.

“Bagaimana dengan bahagia? Apakah kau bahagia, Malia?” tanyaku lagi.

“Ya, aku bahagia, Gun. Walaupun apapun, seharusnya memang tidak diperlukan syarat apapun untuk bahagia, bukan? Maka aku bahagia, Gun. Period.” Malia tersenyum, manis sekali, seolah semesta ikut merayakan kebahagiaan yang baru saja diputuskannya. Seseorang yang bahagia menjadi dirinya sendiri akan selalu bahagia dalam keadaan apapun. Pertanyaanku tentang kekasih atau suami itu rasanya tidak penting lagi. Aku ikut tersenyum bersamanya.

Tapi, ada perasaan asing yang aneh menyelusup ke dalam hatiku, menjalar hangat ke setiap sel di seluruh tubuhku saat kulihat senyum Malia yang masih sehangat matahari senja di sampingku.

Hei, apakah aku jatuh cinta pada seorang Malia?

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku

April 15, 2014 § 19 Comments

Sebagai penulis (walaupun masih abal-abal) dan blogger (meskipun suka angin-anginan :P), tentu saja saya membutuhkan sebuah notebook alias laptop untuk beraktivitas sehari-hari. Apalagi setelah resmi tidak bekerja kantoran dimana saya tidak bisa lagi ‘meminjam’ notebook di kantor untuk ngeblog ataupun menulis, memiliki sebuah laptop yang mumpuni adalah keharusan.

Notebook ASUS seri X201E milik saya masih kinyis-kinyis, setelah notebook sebelumnya almarhum termakan usia, akhirnya September 2013 lalu saya -dan akang suami- memutuskan memang sudah waktunya membeli notebook baru. Pertimbangannya banyak tentu saja, selain budget yang harus disesuaikan dengan keuangan kami, juga spek notebook yang tidak harus terlalu ‘canggih’, tapi memenuhi kebutuhan kami berdua.

Kenapa ASUS Notebook X201E yang kami pilih?

Karena spec-nya yang sangat mencukupi keperluan kami untuk sebuah notebook, dan juga (ini sebetulnya yang paling penting) tidak terlalu mahal dibandingkan notebook sejenis dengan merk lain. Dan yang paling menyenangkan bagi saya, seri ini ada yang berwarna putih! hohohoho. Alhamdulillah yaa, ci Akang Matahari oke-oke saja saya memilih warna ini :D.

Nah, berikut saya tampilkan spesifikasi yang saya ambil dari website resmi ASUS, barangkali ada temans yang sedang mencari notebook juga.

ASUS X210E

Bagaimana performa Notebook ASUS X201E?

Tidak berlebihan rasanya jika saya mengatakan performanya sangat memuaskan. Keyboardnya tidak keras dan cukup sensitif, membuat prosesi mengetik lancar jaya hingga berjam-jam tanpa membuat jari pegal berlebihan. Kecuali kalau ide mentok yang mengharuskan acara ketak-ketik terpaksa dihentikan ya, itu mah kesalahan ada di kepala saya bukan di notebook hihihihi.

Storage-nya yang cukup besar juga sangat menguntungkan. Sudah ada beberapa (calon) naskah novel, berpuluh cerpen dan flash fiction, dan berfolder-folder foto hasil jeprat jepret hore di notebook ini.

Baterai juga cukup awet, saya biasanya menyengajakan diri nongkrong di resto/cafe dekat rumah untuk numpang ngetik tanpa membawa adaptor, dan bisa bertahan 4-5 jam meskipun sebelumnya kondisi baterai tidak sampai 100%.

Notebook ini juga sangat ramah lingkungan, karena jika beberapa menit tidak ada aktivitas, dia akan otomatis sleep mode. Sangat berguna bagi saya yang seorang emak-emak, yang kadang harus multitasking ngetik sambil mencuci baju, atau mendadak berlari ke depan belanja sayuran, atau harus membaca beberapa halaman buku dulu untuk referensi, atau tiba-tiba nonton How I Met Your Mother dulu di TV selagi bekerja he he.

Kelebihan lain notebook ASUS X201E adalah ringan untuk dibawa. Jika sebelumnya saya dipastikan harus membawa backpack jika ingin membawa laptop, maka dengan notebook ini saya masih bisa memakai ‘tas cantik’ yang agak besar saja. Di dalam tas ini, saya bisa membawa laptop, dompet, mukena, pouch kecil berisi alat tulis-modem-sedikit kosmetik, dan bahkan botol air minum.

_DSC0584

Tas kece serbaguna, hadiah teman-teman saat resign :)

 

Dengan kelebihan-kelebihan di atas, bagi saya, ASUS -khususnya seri X201E- adalah notebook terbaik. Meskipun ‘murah’ tapi tidak murahan karena sudah terbukti kualitasnya. Bukti lain keistimewaan ASUS adalah, sebagai top 2 produsen notebook dan motherboard terbaik di dunia, bahkan di tahun 2013 ASUS berhasil memenangkan 4.256 penghargaan! Top banget lah ya.

Notebook ini betul-betul membuat saya semangat menulis. Dan saya berpengharapan baik, Notebook terbaik ASUS X201E, akan setia menemani saya mencapai impian (menjadi penulis dan blogger) hingga beberapa tahun ke depan. Bagaimana dengan notebookmu, temans?

Say Something

April 11, 2014 § 21 Comments

Hai haaaaai, masih ada yang ingat saya? hihihi.

Ternyata memiliki banyak waktu luang tidak menjadikan saya rajin ngeblog (apalagi BW :( ), padahal sih tiap harinya ya pasti anteng di depan laptop hingga berjam-jam. Maafkan ya kalo ada yang ke sini dan belum ada postingan baru, juga karena saya belum sempat sowan ke rumah teman-teman semua.

Anyway, judul postingan kali ini memang judul sebuah lagu, yang sedang saya gemari, hingga tidak bosan saya dengarkan berkali-kali setiap harinya. Tapi, saya menulis postingan ini adalah karena sedang merasa sedikit ‘terganggu’ oleh seorang sahabat, yang -entah kenapa- begitu betah di-PHP-in sama pacarnya. Diputusin ngga, diajakin nikah juga ngga, dan sahabat saya ini mungkin karena sudah terlanjur cinta *tsaaaah* tidak juga mengakhiri hubungan si lelaki yang -buat saya- ngga jelas maunya apa.

Iya sih mengerti, keputusan untuk menikah itu bukan sembarangan. Tidak bisa tidak, harus dipertimbangkan masak-masak, tapi kalau kelamaan juga malah busuk ngga sih? *ini kenapa saya esmosi ya? ha ha :P*. Kecuali tujuannya memang cuma pacaran hore yang tidak menuju kemana pun, dan itu pun rasanya terlampau aneh mengingat usia keduanya yang jauh dari kata remaja.

Baiklah, saya tidak berhak ikut campur tentu saja. Itulah kenapa saya hanya bisa menuliskan ketidaksukaan saya ini di blog #lho? hihihi. Saya hanya berharap sahabat saya itu bahagia atas setiap keputusan yang dipilihnya, apapun itu. Meski sejujurnya kalau saya sih berharapnya ya mereka putus ajalah ya, ga jelas gitu kok.  Jadi seorang single yang happy rasanya lebih worthed dibandingkan punya pacar yang you-know-what seperti itu *provokator banget :D*.

Ya sudahlah yaa, mari kita nikmati saja lagunya. Saya suka yang ada Christina Aguilerranya, video klipnya keren soalnya he he.

Happy day, Pals ;)

Dear Angela

April 4, 2014 § 27 Comments

Dear Angela,

Aku tahu kau akan menertawakanku karena menulis surat -dengan tulisan tanganku yang kecil dan miring di atas kertas surat berwarna biru- seperti ini, tapi tentu kau pun tahu aku lebih bisa ‘berbicara’ dengan pena daripada lidahku. Maka bacalah surat ini hingga selesai, meski setelahnya kau mungkin akan membenciku, atau mengasihaniku, atau keduanya.

Sejujurnya aku tidak tahu aku harus memulainya dari mana. Terdengar klise ya? Tapi demikianlah adanya, aku betul-betul tidak tahu harus mulai bercerita dari titik mana, karena setiap sudut dalam kisah yang ingin kusampaikan ini tetaplah salah. Tapi bukahkah cinta tak pernah salah? Begitu kan para pujangga bilang? Iya, yang ingin aku sampaikan -melalui surat ini- adalah tentang cinta.

Angelaku sayang,

Setelah kupikirkan lagi beberapa saat, mungkin aku akan mengawalinya dengan mengatakan kalimat berikut padamu:

Aku mencintaimu.

Aku mencintaimu.

Aku mencintaimu.

Sengaja aku menuliskannya tiga kali berturut-turut. Aku bisa -dan ingin- menuliskannya seratus kali, atau bahkan seribu kali, tapi kau akan lelah membacanya, dan aku pun akan letih menuliskannya, dan akan diperlukan banyak kertas dan (mungkin) beberapa bolpoin karenanya. Maka semoga tiga kali sudah cukup jelas bagimu, bahwa aku mencintaimu. Ya, aku mencintaimu.

Sesederhana, dan kemudian, serumit itu.

Sederhana, karena cinta adalah cinta. Kau bisa mendefinisikannya menjadi ribuan kalimat yang berbeda, menunjukkannya dengan berjuta cara, hingga mengekspresikannya dengan sekian macam puisi-lagu-lukisan-istana atau apapun. Tapi cinta tetaplah cinta. Sejak dulu hingga kehidupan ini mati suatu saat nanti, cinta akan selalu cukup dengan menjadi dirinya sendiri.

Sesederhana itulah aku mencintaimu. Kau adalah aku, aku adalah kau. Lagi-lagi, ini klise. Tapi aku harus mengatakannya padamu di surat ini, bahwa kita -kau dan aku- memang satu. Atau, aku berharap kita adalah satu.

Rumit? Ah, rasanya aku tidak perlu menjelaskan lagi betapa rumitnya cinta itu. Terlebih cinta kita, atau lebih tepatnya, rasa cintaku padamu. Untuk kerumitan yang ini, aku bisa mengerti jika kau membenci sekaligus mengasihaniku detik ini.

Aku tahu, di luar sana banyak perempuan-perempuan yang bisa –dan mau- menjadi kekasihku. Aku juga tahu, tidak seharusnya cinta yang aku miliki kutujukan padamu, tapi sekali lagi aku katakan padamu, cinta tak pernah salah. Kau setuju, bukan?

Angela,

Suratku ini mendekati akhirnya. Sekali lagi, aku mencintaimu. Itulah yang ingin aku sampaikan. Aku ingin bersamamu selamanya, sebagai sepasang kekasih, bukan sekadar saudara kembar seperti sekarang ini. Ah, seandainya saja kita tak pernah mendekam di rahim hangat dari ibu yang sama, mungkin ceritanya akan sedikit berbeda. Mungkinkah kau juga mencintaiku seperti aku mencintaimu jika keadaannya tidak seperti sekarang, Angela?

Aku sepertinya sudah gila, Angela. Tapi tetap saja, aku mencintaimu.

-dari aku, lelaki yang terlanjur mencintaimu dengan sangat-

***

Note : 422 kata, ditulis untuk Monday Flash Fiction prompt #45: Ada Apa dengan Cinta?

Weekly Photo Challenge : Street Life

April 1, 2014 § 21 Comments

Another silent post.

All these street life pictures taken at Yogyakarta-Indonesia.

_DSC0322

2

3

Happy day, Pals ;)

Saatnya Peduli

March 31, 2014 § 14 Comments

Minggu lalu, ceritanya saya pergi berlibur ke Pattaya, Thailand. Salah satu destinasi adalah Nongnooch Village, yang lokasinya memang dekat dari pantai Pattaya. Namapun taman bunga yaa, tentu saja membuat mata adem karena begitu banyak tanaman hijau dan juga aneka bunga warna warni yang indah.

Menurut tour guide kami, taman ini konon dibuat oleh seorang wanita yang ingin membuat semacam taman bunga -justru- setelah beliau berkunjung ke Indonesia. Meskipun ibu Nongnooch tidak sempat menikmati taman yang dimimpikannya itu karena keburu meninggal, taman ini telah menjadi semacam warisan dari dedikasi dan kecintaannya terhadap lingkungan, khususnya bunga. Sekarang taman ini dikelola oleh putranya yang (konon lagi) memilih tidak menikah agar serius mengurus Nongnooch Village, di taman ini kita tidak saja dimanjakan oleh taman bunga dari beraneka spesies, tapi juga atraksi gajah dan banyak pertunjukan khas Thailand lainnya.

Tapi saya tidak sedang membuat ‘laporan’ perjalanan ke sana, ataupun ngerumpi hore tentang Mr. Kampon Tansacha di atas. Saya ingin menuliskan (semacam) ketakjuban saya betapa para caleg begitu tidak peduli pada lingkungan dengan menempelkan poster (bergambar foto-foto narsis mereka) di pohon! Sepintas jadi tidak relevan dengan prolognya ya he he :D

Maksud saya begini, mungkin meneladani Ibu Nongnooch -yang ingin memiliki taman bunga sendiri dengan semua kesulitannya- terlalu ketinggian bagi kita yang hanya warga biasa-biasa saja. Bahkan, mencontoh putranya -yang memilih tidak menikah untuk mengelola taman- itupun rasanya terlalu jauh. Tapi paling tidak, mencoba ikut menjaga dan berpartisipasi dalam kelestarian lingkungan, dengan cara (yang sangat mudah) tidak mengotori pohon sangat bisa dilakukan. Karena menjaga lingkungan bukan hanyalah tugas WWF semata, tapi juga tugas kita sebagai individu dan warga alam semesta. Dan harusnya itu termasuk para caleg yang sedang mengkampanyekan dirinya itu.

Sayangnya saya tidak punya satupun foto si poster yang merusak pemandangan itu, tapi pasti Anda pun banyak menemukan ‘sampah’ ini di dekat tempat tinggal Anda, bukan? *Errrr…kenapa jadi esmosi begini ya saya? hihihihi*

Masa kecil saya dihabiskan dengan memanjat pohon mangga dan jambu, bermain di kebun dan sawah, untuk kemudian menjelajah hutan dan gunung saat beranjak remaja. Tidak bisa saya bayangkan jika hal-hal sepele seperti itu tidak bisa lagi dilakukan di masa depan oleh anak cucu kita karena segelintir orang yang tidak bertanggung jawab.

Iya, saya mengerti, postingan di blog seperti ini mungkin tidak bisa membuat para bapak dan ibu caleg terhormat untuk taubatan nasuha tidak lagi menyakiti pohon hanya untuk ambisi politik belaka. Tapi saya berpengharapan baik, teman-teman yang tidak sengaja membaca tulisan sederhana ini, akan berpikir ulang untuk tidak memilih bapak ibu caleg (dan capres di masa mendatang) yang tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan seperti demikian.

Yuk, lebih peduli pada bumi dan lingkungan, karena tak ada kata terlambat untuk memulai kebaikan.

Weekly Photo Challenge : Reflections

March 22, 2014 § 17 Comments

Another silent post.

Here my reflections :)

@Kepulauan Seribu

@Kepulauan Seribu

@Mongolian Camp-Bogor

@Mongolian Camp-Bogor

2

Happy weekend, Pals ;)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,145 other followers