Kisah Seorang Lelaki dan Bayangan di Belakangnya

Sambil bersiul-siul, lelaki itu terlihat gembira saat kayu-kayu -yang sengaja dia gergaji dari tangga di sebelahnya- itu akhirnya bisa menjelma api.

“Bodoh. Kamu lelaki paling dungu yang kukenal!” Bayangan yang sejak tadi berdiri di belakang Si Lelaki mengumpat kesal.

Si Lelaki hanya tertawa, seolah tak peduli umpatan yang dia tahu ditujukan untuknya. Dia mulai mendekatkan kedua telapak tangannya yang hampir membeku pada api unggun yang di matanya meliuk indah seolah mempersembahkan tarian surga.

“Semua orang yang lain menggunakan tangga itu untuk keluar dari sini! Kenapa…”

“Dan tak ada seorang pun dari mereka yang kembali,” tukas Si Lelaki cepat. Mulai tidak suka pada bayangan di belakangnya yang terasa begitu mengganggu kesenangannya menikmati sedikit kehangatan.

“Karena mereka sudah hidup lebih bahagia di luar sana daripada hidup kedinginan di negeri gelap membeku ini!”

“Atau mereka terlanjur mati di tempat baru karena tidak bisa beradaptasi.”

“Blah! Itu hanya ucapan para pesimis yang penakut.”

“Kata siapa aku penakut?” Si lelaki muntab, tak sudi dia menerima hinaan bayangan di belakangnya sedemikan rupa. “Kau pikir orang-orang nekat itu pemberani, ha?”

“Kalau kau bukan penakut pasti kau pengecut!”

Jeda yang menegangkan. Si Lelaki mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, napasnya memburu satu-satu. Lantas dia kembali duduk, bersiul serta mendekatkan tangannya ke arah api seperti sebelumnya, merasa tidak perlu menanggapi kekesalan bayangan di belakangnya. “Sudahlah, diam saja kamu!”

Tapi Si Bayangan ingin sekali melompat keluar tembok pembatas, meskipun bisa apa dia tanpa Si Lelaki dungu ini? Kesal, dia pun nekat. Mengendap pelan dan nyaris tanpa suara, dicekiknya Si Lelaki sekuat tenaga.

***

Note: 250 kata. Fiksi absurd, cuma karena saya kangen ngefiksi di blog ini hihihihi.

Hello Kitty di Dufan

Pssst…sudah tahu kan, Dunia Fantasi per tanggal 12 Desember lalu punya satu wahana baru? Betooool sodara-sodara, wahana Hello Kitty adventure kini bisa dinikmati di Dufan!

Terakhir kali saya pergi ke Dufan itu kalau tidak salah… sampai lupa saking lamanya hihihi. Jadi saya cukup takjub saat membaca harga tiket masuknya, 270.000 ternyata yaa, tapi ya wajar saja sih, harga cabe aja mihil buibu *aposeh* *abaikan*. Tapi tentu saja harga tersebut worthed, apalagi dengan adanya si wahana baru yang imut kiyut ngegemesin si Hello Kitty ini, yang merupakan wahana ke-29. Wahana baru ini luasnya 1.150 m2, mampu menampung seribu pengunjung tiap jamnya, durasi main shownya sendiri adalah selama 12 menit per show.

Kebetulan saya hadir saat grand launchingnya jumat lalu. Diawali dengan pertunjukan marching band, dance, dan sambutan-sambutan dari Bapak Menteri Pariwisata Arief Yahya, Bapak Gatot Setyo Waluyo sang Direktur Utama PT. Pembangunan Jaya Ancol, Tbk, juga Mister-saya-lupa-namanya-siapa perwakilan dari Sanrio Jepang, acara gunting pita yang menunjukan wahana baru ini resmi dibuka.

Wahana Hello Kitty Adventure ini terdiri tiga bagian. Di arena Pre show, kita bisa menemui banyak permainan interaktif, di antaranya Mechanical Toggle, Wheel Bubble Up, dan Hole View.

Puas bermain di area Pre-show, bisa langsung masuk ke Main Show-nya, melalui layar besar, kita diajak berpetualang bersama Kitty dengan kapsul apel ajaibnya. Setting berawal di Jakarta lho, si Kitty keliling Monas naik delman hihihihi, lantas dia pun menjelajahi Jepang, Mesir, Inggris, bahkan Kutub Utara. Di setiap negara, Kitty mengenalkan budaya unik khas masing-masing. Misalnya saja di mesir, si Kitty jadi mummi! ha ha :P.

Kalau sudah puas berkeliling dunia, saatnya berfoto-foto ria, karena ada area photo-taking. Di sana kita bisa bebas berfoto bersama Hello Kitty atau karakter Sanrio lainnya seperti DR. Kitty, DR. Mimi, Tippy, Tracy, dan Monkichi. Meskipun kemarin lumayan sulit putu-putu di sini, secara yaa…banyak orang cyiiin, jadi eike melipir sajalah >_<

Gimana? Seru, yess? Wahana ini cocok bagi anak-anak karena memacu daya imajinasi berfuturistik ria, dan tentu saja menambah pengetahuan umum saat menonton Kitty berpetualang keliling dunia itu. Meskipun nih ya, ada satu hal yang sejak kecil dulu membuat saya penasaran dengan si kucing imut berpita pink ini. Dia kan tidak bermulut ya? Terus ngomongnya bijimane? Err…telepati yah? *ups* hihihihi.

*Abaikan saja kalimat-kalimat terakhir dalam paragraf di atas!*

Nah, mumpung sudah libur sekolah, berkunjung ke Dufan dan mencoba wahana baru ini mungkin bisa dijadikan pilihan menarik bagi keluarga.

Well, happy holiday, Pals ;)

Satu ‘Bintang’

Cukup lama saya memilah milih, padahal postingan di tahun ini tidak seberapa banyak, ternyata memutuskan satu postingan yang berkategori ‘self reflection’ ini susah juga ya hihihihi. Akhirnya, pilihan jatuh pada Tentang Launching Little Stories yang saya buat tanggal 24 Februari 2014 lalu. Kenapa? Ah, tentulah bisa ditebak jawaban saya ya. Tulisan tersebut sangat berkesan bagi saya, karena semacam ejawantah dari ‘bintang’ yang telah berhasil saya raih. Sebuah achievement yang luar biasa bagi saya yang bukanlah siapa-siapa ini.

Postingan itu pendek saja, hanya terdiri dari beberapa paragraf singkat, dan juga diselipi beberapa foto dari acara launching. Seperti juga jumlah ‘like’ yang tak seberapa, teman-teman yang berkomentar pun cenderung sedikit jika dibandingkan dengan postingan saya yang lain. Tapi efek dari launching buku antologi  itu-sekali lagi, bagi saya- sungguhlah luar biasa.

Ceritanya begini temans.

Sesaat setelah launching berakhir, dua orang mbak dan mas dari Yahoo! Indonesia menghampiri kami, lantas ngobrol ini itu, lantas diputuskanlah kami akan menjadi (semacam) mentor dari workshop menulis yang akan mereka selenggarakan. Apalah saya ini ya, menulis pun sekadar suka saja, maka ketika diminta menjadi mentor begitu, saya langsung hendak menolak. Tapi kemudian saya -dan kami- berpikir, mungkin istilah mentor itulah yang menyeramkan, toh nanti kami hanya akan berbagi pengalaman saja. Dan siapa yang menentukan standard seseorang membagi pengalamannya sendiri pada orang lain? Tidak ada. Semua orang bisa melakukannya, bukan?

 

Setelah worksop yang sempat membuat saya dan teman-teman saya nervous itu -Alhamdulillah- berhasil, kejutan lain datang. Kali ini melalui sebuah email dari adik imut kelas 9 seperti berikut, yang nyaris membuat saya pingsan *mulai deh lebay hihihihi*.

tugas analisis cerpen

 

Ya ampun, cerpen saya dibedah! Maafkan kenorakan saya yang tidak mudah memercayainya temans. Cerpen Dewi Lestari, Agus Noor, atau Seno Gumira Ajidarma, mungkin wajar saja ya, tapi ini cerpen Rinrin Indrianie lho! :P. Terlepas dari adik imut ini memang  baru kelas 3 SMP (zaman saya rasanya belum ada tugas membedah cerpen semacam ini) sehingga wajar saja jika mencari cerpen yang cenderung mudah. Tapi -menurut saya- cerpen Sang Ilalang itu bentuknya tidak seperti cerpen pada umumnya. Plotnya aneh, tokohnya tersembunyi, saya malah pusing sendiri lho bagaimana Si Adik ini mencari unsur instrinsik-ekstrinsiknya hahaha. Tapi saat saya baca hasilnya (17 halaman banyaknya!), sungguh sangat menakjubkan, bahkan ada beberapa hal yang baru saya pelajari dari cerpen saya sendiri setelah membaca tugas analisis tersebut.

Begitulah, kenapa postingan tersebut saya pilih, karena saya bisa ‘melihat’ diri saya sendiri dengan perspektif yang berbeda, melakukan hal-hal yang -sebelumnya- saya pikir tidak mungkin saya lakukan, hingga tersadar bahwa saya memiliki sesuatu dalam diri saya yang membuat keberadaan saya -mungkin- lebih bermakna bagi sesama.

Little Stories mungkin hanyalah bintang kecil dalam kehidupan saya. Karena saya masih tetap ingin menerbitkan novel yang seluruhnya saya tulis sendiri, atau buku kumpulan cerpen yang kesemua cerpennya adalah cerpen saya sendiri. Bintang besar yang itu sudah ada dan menunggu untuk saya raih. Tapi kecil ataupun besar, bintang tetaplah bintang, bukan? Dan saya sungguh mensyukurinya satu bintang ini berhasil saya peluk di tahun 2014 ini.

***

“Postingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer”

Ngebolang ke Cianjur

Hai…haaaaai, adakah yang kangen sama saya? hihihihi. Ternyata postingan terakhir bertanggal 30 November, kesian blog ini saya cuekin lama *pukpukblog*. Seharusnya sih saya punya alasan yang cukup keren perihal si blog yang tampak terabaikan ini. Tapi mau bagaimana lagi, alasan saya memang hanya satu: malas! *ups* hihihihihi.

Ya sudahlah ya, izinkan saja saya bercerita tentang episode ngebolang saya bersama Akang Matahari hari Sabtu lalu. Kali ini Neng Iqoh, my bolang-mate ikut juga bersama adik perempuannya. Kami ikut EO yuk_trips, berangkat dari Semanggi dengan 2 elf, lumayan seru, meski saya sedikit kecewa sama Pak supir, seureudeug kalau kata orang Sunda mah, yahhh…bisa diartikan sedikit ugal-ugalan lah ya.

Stasiun Lampegan

Destinasi pertama adalah Stasiun Lampegan. Stasiun ini termasuk salah satu dari stasiun tua, sepupuan kayaknya sama Stasiun Toentang di Ambarawa itu *halah*. Tapi tidak seperti Stasiun Toentang yang hanya dipakai oleh kereta uap yang murni untuk kepentingan wisata, Stasiun Lampegan ini kembali difungsikan sejak tahun 2010 setelah sebelumnya ditutup karena terowongannya tertutup longsor.

Ada sebuah kisah yang diceritakan AM pada saya perihal asal muasal nama stasiun ini. Saat Pak Suami kecil dulu, ayahnya bercerita, bahwa para penduduk yang bekerja membangun terowongan ini, berteriak-teriak “Gan…lampu…Gan…” pada para Belanda ‘juragan’ mereka saat malam tiba. Itulah kenapa stasiun tersebut kemudian dikenal dengan ‘Lampegan’, benar atau tidaknya kisah ini silakan dipilih sendiri saja ya hihihihi.

Gunung Padang

Dari Stasiun Lampegan ini, hanya 8 km saja menuju Gunung Padang. Tapi saya rasanya saya tidak percaya deh, karena faktanya (saya pikir) lebih jauh karena waktu yang dibutuhkan pun cukup lama, terlepas dari jalanan berkelok khas pegunungan ya. Makanya saya takjub saat ada serombongan bolanger *halah* yang nekat ber-hiking ria, entahlah mereka sampai atau tidak ke Gunung Padang itu heuheu.

Tapi, di depan stasiun banyak abang-abang ojek yang stand by kok, jadi kalau temans ‘ngeteng’ pergi ke Cianjur atau naik kereta yang melewati stasiun Lampegan, bisa naik ojek ini menuju ke Gunung Padang, maaf saya tidak tahu tarifnya berapa, tidak sempat bertanya *nyengir*.

Di kalangan arkeolog, situs Gunung Padang ini konon cukup kontroversial. Kenapa? Karena berdasarkan banyak penelitian, batu-batu andesit yang dulunya berbentuk piramid itu, usianya lebih tua daripada Piramida Giza di Mesir sana. Jika Piramida Giza berumur sekitar 2500 SM, situs megalith di Gunung Padang ini usianya 4000-10.000 SM! Kalau ternyata benar itu artinya peradaban kita lebih dulu maju lho di semesta raya *tsaaah*. Penasaran? Sila tanya Mbah Google saja lah ya, supaya infonya lebih detail hehehe.

Menurut Aa-Aa yang menjadi guide, penduduk setempat memang percaya kalau situs ini keraat, karena dianggap sebagai sebuah tempat dimana Prabu Siliwangi sering berkumpul dengan tetinggi Tanah Sunda.

Situs ini memang baru dibuka untuk umum sebagai tujuan wisata arkeolog 2011 lalu, jadi masih dalam pembangunan di sana sini. Menuju ke atas, disediakan dua pilihan tangga. Tangga dari batu yang cukup terjal tapi jaraknya cenderung pendek, atau undakan tangga (semen) yang relatif nyaman tapi lebih panjang karena melingkari gunung. Sudah bisa ditebak kan kami pilih naik menggunakan tangga yang mana? Terjal tapi pendek! Beuuh, itu mah yaaa, perjuangan banget lah pokoknya mah hahahaha. Iya sih, memang jadinya cepat sampai, tapi lutut gemeteran jantung hampir copot rasanya :P. Turunnya baru pakai tangga yang panjang itu. Sama aja sih capeknya #eh? qiqiqiqi.

Jadi kalau ada yang bertanya di Gunung Padang ada apa? Ya tidak ada apa-apa selain si batu-batu berserakan itu. Terus ngapain di sana? Nggak ngapa-ngapain selain foto-foto doang terus turun lagi hahahaha. Tapi saya sih tidak menyesal, meskipun kalau diajak ke sana lagi sepertinya skip aja *ups*.

Curug Cikondang

Tempat terakhir yang kami datangi di one day trip kali ini adalah Curug Cikondang. Tidak seberapa jauh dari situs Gunung Padang tadi. Tapi karena jalan yang cenderung tidak beraspal dan berliku-liku, terasa sangat jauuuuuh. Meskipun setelah sampai, keindahan air terjun yang tunduk pada gravitasi dikelilingi perkebunan teh itu memang sangat layak untuk didatangi.

Sudah deh, acara ngebolang hari itu di Cianjur selesai dengan cukup memuaskan. Saya dan AM tidak ikut rombongan pulang kembali ke Jakarta, tapi naik bus menuju Bandung. Sampai Bandung pukul 10 malam, super capek tapi super hepi juga hehehe.

Sebentar lagi wiken nih temans, ada rencana mau ngebolang ke mana kah? :)

***

PS : foto-foto yang bertitimangsa saya pinjam dari Yuk Trip.

Mimpi yang (Tak) Sempurna

“Bu?”

“Iya, Nak?”

“Aku ingiiiiin sekali seperti Maddie Ziegler, Bu.”

“Hah? Medi Zi… Duh. Siapa dia, Nak?”

“Penari, Bu.”

“Penari?”

“Iya, lihat, lihatlah itu, Bu!”

Seorang gadis kecil berambut pirang menari sendiri di dalam kotak televisi. Seolah bercerita dengan setiap gerakan yang ditarikannya. Si Ibu ikut terpukau melihatnya, Si Anak diam terpaku menontonnya. Si Gadis berambut pirang yang menari seperti menghipnotis keduanya, tariannya mungkin memiliki keajaiban sihir atau semacamnya.

“Tariannya begitu indah, bukan? Meliuk. Berputar. Melompat. Seperti memiliki sayap.”

“Ya. Menakjubkan sekali, Nak”

“Aku ingin menari seperti dia, Bu.”

“T-tapi kenapa, Nak?”

“Sepertinya, sepertinya aku akan merasa benar-benar hidup saat menari, Bu. Seperti dia.”

“Oh…”

“Tak apa kan, Bu? Aku punya mimpi semacam itu?”

Si Ibu hanya mengangguk pelan, lantas menelan ludah susah payah, kemudian memaksakan diri tersenyum, pahit. Si Anak bahagia, bibirnya merekah tersenyum begitu lebar. Sambil bersenandung lagu yang baru saja mengiringi Si Gadis Berambut Pirang menari,  dia menyeret kaki kirinya yang layuh mengecil dengan susah payah, menuju kamarnya yang mungil.

***

Note: 164 kata, untuk Monday Flash Fiction Prompt #72: Chandelier

Aku Akan Menunggu

Aku mengerjap. Silau. Ruangan putih benderang yang terlampau luas ini membuatku segera tahu, aku sudah mati. Tapi, sejak kapan?

“Baru saja,” jawab sesosok makhluk putih yang berdiri di samping kananku, seolah menjawab pertanyaan yang aku yakin betul hanya berdengung di kepalaku. Pasti makhluk ini malaikat, gumamku sendiri.

“Bisa dibilang begitu,” katanya lagi seraya tersenyum, membuatku salah tingkah. Tentu saja, dia bisa tahu apa yang aku pikirkan. Aku tidak akan bisa menyembunyikan apapun darinya. Baiklah, aku akan berkata jujur dan berterus terang saja padanya.

“A-apakah kau yakin aku sudah harus betul-betul mati?” tanyaku kurang ajar. Makhluk itu, ralat, malaikat itu menatapku kaget.

“Kau tidak akan berada di sini dan bisa melihatku seperti ini jika belum benar-benar mati.” Sudah kuduga, pertanyaan kurang ajarku pasti membuatnya kesal. Atau, jika sesosok malaikat tidak bisa merasa kesal, malaikat di depanku ini sekarang terlihat sedikit tersinggung.

Aku berdeham, mencoba menenangkan diri. “Maksudku, a-aku sebetulnya tidak bermaksud untuk mati.”

“Kau ingat kan apa yang terakhir kali kau lakukan sebelum berada di sini?” tanyanya tak sabar. Aku mengangguk cepat.

Aku ingat betul apa yang kulakukan. Sebetulnya bukan sesuatu yang bisa aku banggakan, bukan tindakan heroik sama sekali. Aku hanya meminum semua pil dan tablet dan kapsul dan obat sirup yang ada di kotak obat. Awalnya ingin kuminum juga betadine dan boorwater dan minyak telon yang ada di sana, tapi urung karena kepalaku terlanjur pusing. Itu saja. Aku tidak menyangka hal sesederhana itu bisa mengantarkanku menuju kematian.

“Obat-obatan itu memang belum membunuhmu. Kau juga terjatuh dari tangga karena kepalamu yang terlanjur pusing itu. Begitu sampai di bawah, otakmu mengalami pendarahan karena selain terjatuh juga membentur guci keramik besar yang akhirnya hancur berkeping. Tapi terlepas dari semua penyebab yang memungkinkan kematianmu, memang sudah ditentukan hidupmu berakhir saat itu, kau tak bisa berlari atau bersembunyi.”

Aku mengangguk cepat, lantas tertunduk, malu. Tapi malaikat itu rupanya belum selesai, “Dan tidak perlu protes segala!”

Ah, kepalaku semakin dalam tertunduk. Padahal aku tidak bermaksud protes, hanya bertanya. Aku tahu kok, aku sendiri yang salah, bermain-main dengan kehidupan hanya karena aku merasa kehidupan telah sering mempermainkanku lebih dulu. Aku hanya ingin perhatian orang tuaku kembali tertuju pada diriku, anak semata wayang yang dulu pernah menjadi gadis kecil kesayangan mereka. Aku hanya ingin rumah kami damai dan bahagia seperti sebelumnya. Aku hanya ingin keluargaku baik-baik saja.

Sepertinya aku terlalu kecil untuk berharap bisa melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan itu. Toh hingga detik ini pun aku tidak mengerti apa masalah kedua orang tuaku, apa penyebab pertengkaran-pertengkaran di antara mereka, menjadi orang dewasa seperti mereka rupanya jauh lebih sulit daripada menyelesaikan persamaan integral. Mungkin seharusnya aku hanya perlu menangis keras-keras seperti remaja lainnya. Atau kabur dari rumah menginap di rumah teman berhari-hari. Atau bolos sekolah dan bermain di jalanan. Atau apalah. Tapi bukan meminum banyak obat yang berujung pada kematian semacam ini.

Aku menghela napas panjang. Penyesalanku tidak berguna lagi. Aku terlanjur mati.

“Maaf…” kataku akhirnya, lirih, nyaris tak terdengar telingaku sendiri, bahkan tak lagi berani menatap sesosok putih di samping kananku itu. Permintaan maafku itu pun rasanya tidak tepat jika aku tujukan pada Sang Malaikat. Ah, entahlah. Aku mencoba berhenti berpikir. Aku harus bisa menerima keadaan, bahwa ruang putih luas tanpa dinding inilah rumahku sekarang.

“Aku bisa membawamu turun sebentar kalau kau mau.”

“Eh?” Aku mendongak, dan sang malaikat tengah tersenyum padaku, lantas mengangguk.

“Kedua orang tuamu mengerti pesan yang ingin kau sampaikan.”

“Benarkah?” Aku sumringah. Membayangkan Ayah yang akan pulang lebih cepat, tanpa bau alkohol di pakaiannya, dan tersenyum lebar merentangkan tangannya menunggu untuk kupeluk seperti saat aku kecil dulu, lantas mengecup kening Ibu malu-malu. Membayangkan Ibu dengan apron putih yang bersenandung ceria di dapur, mencipta masakan dan kue yang membuatku mendeguk ludah, tidak lagi melempar piring dan mengirim caci dan berteriak murka pada Ayah.

Benarkah kehidupan bahagia itu akan kembali lagi di rumahku?

Entah bagaimana, aku tidak lagi berada di ruangan putih luas tak berdinding itu. Aku berada di kamarku, keadaannya masih persis seperti yang kuingat. Berantakan sepert biasanya. Dan di sana, di ambang pintu, kulihat Ayah dan Ibu yang saling menggenggam tangan, memandang kamarku dengan senyum samar di bibir, juga isak tertahan dan air mata yang mengaliri pipi.

“Aku minta maaf, Mas.”

“Tidak, aku yang minta maaf, Dik.”

“…”

“…”

Aku tidak bisa lagi menangkap obrolan Ayah dan Ibu, tapi aku tahu, keduanya akan kembali mencoba bergembira dalam kebahagiaan yang damai. Syukurlah, rencanaku berhasil. Tak ada kata terlambat bagi Ayah dan Ibu untuk memulai kembali saling menyayangi seperti dulu. Yahh…walaupun harus tanpa aku di sana.

Seandainya saja kematianku bisa…

“Tidak bisa. Kematianmu tidak bisa dibatalkan.” Ha ha, aku tersenyum masam pada Sang Malaikat di sampingku yang lagi-lagi memotong pikiran di kepalaku. Kami sudah kembali di ruangan putih luas tak berdinding ini lagi. Imaji Ayah dan Ibu di kamarku tadi sudah terpatri jelas di kepalaku. Ah, belum apa-apa aku sudah merindukan keduanya. Tapi tak apa, aku akan bersabar menunggu Ayah dan Ibu di surga.

***

Note: 801 kata. Ditulis khusus untuk GA-nya Bang Riga “AttarAndHisMind First Giveaway”

Cotton Drops: Minuman Unyu untuk Bernostalgia Ke Masa Lalu

Tsaaaahhh….lebay surabay pisan ngga sih judulnya? hahahaha. Tapi tak apalah ya temans :P.

Saya dan Akang Suami yang memang cuma terpaut satu tahun, adalah anak generasi 90an, yang masih tidak memiliki ponsel saat sekolah dulu, nonton Power Rangers saat kecil, dan sampai sekarang jadi Klanis garis keras *halah* hihihihi. Jadi ya pastilah, di sela-sela obrolan tiap harinya, kita berdua sok-sokan bernastalgila gitu lah ya :D.

Nah, saat ada info di Mal Kelapa Gading (di Gading Walknya) dibuka sebuah kedai fancy drink bernama Cotton Drops yang konon bisa membangkitkan nostalgia masa kecil itu, saya pun tertarik. Cotton candy itu kan nama keren dari arumanis yang warna pink-putih-biru itu kan ya? *Siapa tau saya salah, yes? qiqiqi*. Tapi setelah saya cari-cari di instagram cotton_drops, ternyata betuuuul, jadi mereka menyajikan berbagai tiga jenis minuman yaitu Latte, Milky Fruity dan Flavour Tea yang diberi bonus si candy cotton di atasnya. Aih…unyu bin luthu deh kalau menurut saya mah.

Felix dan Jojo, owner si kedai minuman unyu yang masih turun langsung melayani pelanggan ini bercerita, bahwa ide membuka kedai ini adalah setelah perjalanan mereka ke Korea. Di sana, banyak coffeshop yang didesain dengan Korean Style White Garden, lengkap dengan rumput-pagar bercat putih-bunga yang sering kita lihat di K-drama itu lho. Pecinta Lee Min Ho pasti tahulan ya kedai yang dimaksud hihihihi. Dan ya, Cotton Drops mengadaptasi desain tersebut, mereka menangkap minat pasar yang sedang menggandrungi segala hal yang ‘kekorea-koreaan’ itu. Fashion Felix-Jojo dan timnya juga Korean Style lho, serasa di Seoul saya hihihihi.

Mas MC, Felix dan Jojo

Mas MC, Felix dan Jojo

Lantas kenapa cotton candy? Selain untuk membuat ciri khas tersendiri dari kedai minuman yang sudah ada, Felix menjelaskan, bahwa ide tersebut muncul saat dia baru membeli si arumanis, dan serang anak kecil merengek (dan hampir menangis) meminta ibunya untuk dibelikan arumanis yang dimiliki Felix! Jadi ya begitulah, mereka pun menambahkan cotton drops (si arumanisnya itu betul-betul ‘berjatuhan’ beberapa menit kemudian seperti butiran salju lho) yang mengembang di setiap menu minuman yang disajikan dalam gelas berbentuk botol yang unik. Melihat si cotton drops ini jadi inget, dulu saya juga suka mewek minta dibelikan si arumanis kalau ke pasar malam di kampung *nyengir*.

Di foto paling atas itu, si pot kecil itu dessert cake yang ada di Cotton Drops, Sweet Pot, ‘tanah’nya itu coklat yang menjadi topping cake di bawahnya, ada batu-batu koral yang juga bisa dimakan, bunganya sih jangan dimakan ya, plastik itu! hihihihi. Si Pot tanah liat imut-imutnya itu bisa dibawa pulang dan dijadikan pot betulan untuk di rumah. Jojo menjelaskan, bahwa ide itu karena mereka berharap bisa mendukung go green campaign, keren dong ya, memang seharusnya begitu, anak muda pun harus cinta lingkungan. Iya kan iya kan? :)

Tim Cotton Drops yang sedang perform a la boy (atw girl?) band Korea hehehe

Tim Cotton Drops yang sedang perform a la boy (atw girl?) band Korea hehehe

Jadi kalau ke Mal Kelapa Gading, jangan lupa mampir ke Cotton Drops ya temans, lokasinya di Gading Walk, gampang dicarilah pokonya mah. Sejak resmi dibuka awal November lalu, pengunjung sampai antri panjang demi mencicipi minuman bercotton candy ini. Dan menurut saya pribadi -sesuai judul yang lebay ituh- minuman unyu ini memang bisa mengajak kita bernostalgia ke masa lalu :)

foto pinjam punyanya Cotton Drops

foto pinjam punyanya Cotton Drops