Bring Home The Colours of The World

Asyik ya tagline Dulux Pentalite untuk palet warna terbaru mereka ini? Jadi penasaran ‘world’ bagian mana saja nih yang bisa dibawa ke rumah hohohoho.

Alhamdulillah, rasa penasaran saya bisa terobati saat tanggal 16 September lalu, karena saya berkesempatan hadir dalam acara press conference Dulux di The Foundry 8 level II, SCBD Jakarta.

Begitu memasuki lantai 2, saya langsung melihat booth-booth kecil dengan background warna warni dengan gradasi warna senada. Dari booth ini rasa penasaran saya mulai terjawab, setiap warna mewakili negara yang menjadi inspirasi Dulux untuk warna terbaru mereka. Semuanya ada 9 palet warna, dengan masing-masing warna memiliki 6 gradasi yang indah. Warna-warna tersebut adalah sebagai berikut:

Dulux

Sudah terbayang kan ya gradasi warna-warna cantik dari tiap negara inspirasi itu? Kalau penasaran, sila segera klik situs www.coloursoftheworld.co.id untuk lebih detailnya. Sejujurnya, saya tidak bosan melihat warna-warna di sana, seraya berimajinasi bagaimana jika warna tersebut menjadi cat di dinding rumah saya. Mungkin karena saya juga bernarsis ria di beberapa booth yang sudah disediakan ya hihihihi.

Tadinya sih mau berfoto di tiap booth, tapi ya kalau begitu kok saya seperti tidak tahu malu ya hahahaha :P.

Nah, sebelum acara inti dimulai, saya beserta tamu undangan lain dipersilakan untuk makan siang terlebih dulu, ditemani live music dari band yang membawakan lagu-lagu asyik, menikmati hidangan yang ada sambil ngobrol ngalor ngidul dengan mbak Wulan dan mbak Dinda -markom dari Dulux- tentang banyak hal. Saya baru tahu, bahwa AkzoNobel (perusahaan cat dan pelapis yang salah satu produknya adalah Dulux), berkantor pusat di Amsterdam, Belanda. Beroperasi di 80 negara dengan 50.000 staff, Dulux Pentalite juga memberikan hasil pengecatan terbaik berkat ProCover Technology yang memberikan hasil akhir lebih halus, daya sebar lebih luas, dan warna tahan lama, tidak heran lah ya kalau mereka menjadi salah satu perusahaan terpercaya di dunia.

Selesai bersantap siang, para undangan diajak ke tempat press conference akan segera berlangsung. Ini semacam before-after panggung. Foto kiri waktu masih sepi, maklum, saya sengaja datang lebih cepat khawatir nyasar-nyasar dulu he he. Foto kanan adalah akhir acara, sebelum media bisa mewawacarai in personal  setiap nara sumber.

Sebelum mbak MC membuka acara, ada semacam drama singkat, yang bercerita tentang sebuah keluarga (ayah, ibu, putra dan putri) yang sedang bosan di rumah, saling cuek dan sibuk sendiri-sendiri, pokoknya nggak hepi lah ya. Lantas mereka pun (ceritanya) berlibur, main samurai di Jepang, atau sok-sokan mencoba bermatador ria di spanyol. Dan mereka pun akhirnya membawa pulang kebahagiaan saat berlibur itu ke rumah.

Dalam sebuah riset yang dilakukan Dulux di Indonesia, ternyata 1 dari 3 keluarga merasa hubungan antar individu kurang dekat, sehingga 98% responden menyatakan, liburan atau berwisata bersama keluarga bisa mendekatkan kembali hubungan yang nyaris renggang itu. Tidak bisa disangkal, liburan mampu merekatkan sebuah keluarga, mempererat kembali hubungan dari setiap individunya, dan menciptakan suasana hangat dan atmosfir penuh cinta. Tapi liburan pun tidak bisa dengan mudah dilakukan oleh setiap keluarga, bukan? Mencari waktu yang tepat bagi semua anggota keluarga, hingga biaya yang terkadang belum memungkinkan, membuat wacana liburan keluarga semacam ini pun sulit dilakukan.

Maka dari inspirasi dan hasil riset tersebut, Dulux Pentalite meluncurkan kampanye baru bertema “Dulux Pentalite Colours of The World” ini. Harapannya, dengan palet warna yang terinspirasi dari 9 negara tujuan wisata favorit yang dikeluarkan Dulux, tempat wisata impian itu bisa ‘dibawa’ ke rumah, dan bisa dinikmati seluruh keluarga. Demikian yang dijelaskan oleh Bapak Mediko Azwar, perwakilan dari Dulux. Konsep yang sangat luar biasa ya.

Sementara pasangan selebritis Adrian Maulana dan Dessy Ilsanty yang sengaja mengecat dinding rumah mereka dengan warna-warna palet Zen Jepang untuk terus mengingatkan momen kebersamaan mereka saat berlibur di sana. “Rasanya seperti berlibur setiap hari, dan kami jadi lebih betah di rumah,” ungkap mereka. Bahkan, Adrian bercanda, bahwa pasca rumah direnovasi dan menggunakan cat dinding Dulux, istrinya hamil lagi setelah putri mereka berusia 12 tahun karena mereka jadi lebih sering berada di rumah bersama-sama.

*Errr…apa saya ganti cat rumah juga ya biar bisa hamil #eh? qiqiqiqi. Abaikan!*

Dessy, yang juga merupakan seorang psikolog, menegaskan bahwa pilihan warna bisa berpengaruh secara psikologis pada setiap individu di rumah tersebut. Warna bisa menciptakan energi positif di dalam lingkungan keluarga yang pada perannya mampu membina dan menciptakan kembali hubungan erat di dalam keluarga. “Dengan hadirnya ’Dulux Pentalite Colours of the World’, suasana rumah terasa semakin nyaman dan proses bonding untuk menjaga keakraban keluarga kami jadi lebih mudah,” ungkapnya.

Lebih jauh, Dessy menjelaskan bahwa proses memilih warna itu sendiri bisa mengaktifkan kembali fungsi komunikasi dalam keluarga, bahkan untuk melatih beropini dan bertanggung jawab, anak bisa diberi kebebasan untuk memilih warna kamarnya sendiri, misalnya.

Lain lagi yang dialami Amalla Vesta Widaranti, seorang travel writer, yang selalu membayangkan betapa serunya bila suasana tempat liburan favoritnya bisa hadir di dalam rumah. “Saya sangat menyukai momen-momen saat travelling baik sebagai travel consultant, maupun saat bersama keluarga dan saya sangat ingin bisa mengulang kembali pengalaman dan spirit of adventure ini saat berada di rumah. Kini, dengan ‘Dulux Pentalite Colours of The World’, setiap kali di rumah, saya selalu memiliki mood positif yang biasanya hanya saya dapatkan saat travelling,” kata Vesta.

Duh, jadi tambah mupeng deh mengubah interior rumah saya dengan warna-warna dari Dulux Pentalite Colours of The World deh *mulai nabung*.

Oh iya, berhubung saya ke sana karena undangan KEB (Kumpulan Emak-emak Blogger), tidak sah kalau tidak saya pasang juga foto-foto heboh kami selama di sana kan ya? hehehe.

Ada yang mau ganti cat rumah juga kah? :)

4th Anniversary

Di antara banyak sekali PR menulis yang membuat saya bingung mana yang harus saya kerjakan, mari kita merayakan kebahagiaan hari ini terlebih dulu. Bukan, bukan karena hari ini sudah Jum’at, TGIF buat saya tidak terlalu berpengaruh, walaupun hari Jum’at tetap menyenangkan sih ya, secara besok kan sudah weekend he he.

Kebahagiaan yang saya maksud adalah bahwa hari ini, 19 September 2014, adalah 4th anniversary pernikahan saya dengan Akang Matahari. Alhamdulillah :)). Mohon doanya ya temans, supaya kami berdua bisa saling membaikkan satu sama lain, dan happy terus hingga ke surgaNya kelak, Aamiin.

???????????????????????????????

4 tahun lalu, sesaat setelah resmi menjadi suami istri :)

Ya sudah begitu dulu, temans, saya harus mengerjakan PR lagi hihihi. Have a great weekend, Pals ;)

Weekly Photo Challenge : Humanity

Berhubung sudah lama sekali saya melewatkan WPC, jadi untuk tema kali ini bukan silent post seperti biasanya, mohon dimaklumi :D.

Tema kali ini sangat menarik, karena saya punya hobi yang -katakanlah- sedikit aneh yang (mungkin) sedikit bersinggungan dengan hal ini. Saya tidak ingat kapan tepatnya saya memulai ‘kebiasaan’ ini, saya seringkali memerhatikan orang-orang di sekitar saya, lantas meng-capture mereka dalam sebuah frame  yang ada di kepala saya. Setelah itu, saya akan membiarkan imajinasi saya beterbangan liar karena ‘potret’ tersebut, mencari sebuah kisah yang bercerita dari sebuah gambar yang berbicara tanpa kata. Nah, kalau temans mulai berpikir saya sedikit gila yaa…tidak bisa saya salahkan sih hihihihihi.

Jadi begitulah, jauh sebelum saya memiliki ketertarikan akan fotografi, bahkan jauh sebelum saya memiliki sebuah kamera (atau ponsel berkamera), saya sudah sering sekali memerhatikan orang-orang di sekeliling saya. Seolah banyak dari mereka memang  memiliki kisah istimewa tersendiri yang menunggu untuk ditemukan *tsaaah*.

Ah, sudahlah ya, mari kita hentikan saja omong kosong itu :P. Karena ternyata foto-foto bertema humanity yang saya miliki sudah lumayan banyak yang saya tampilkan di sini, hingga (sepertinya) hanya tersisa foto berikut yang belum pernah saya pajang.

@Kasongan-Yogyakarta

@Kasongan-Yogyakarta

Monks at Grand Palace

Monks at Grand Palace

The Old Man Biker :)

The Old Man Biker :)

Tapi barangkali penasaran, berikut foto-foto bertema sama yang pernah saya tampilkan, semoga tidak bosan, dan bisa menyampaikan sebuah kisah pada teman-teman he he.

Well, happy day, Pals ;)

Gadis Pilihan

“Din, lo pilih yang mana? Gue sih suka banget sama yang paling kanan, gila kulitnya bening banget!”

“Gue suka cewek berambut panjang, gue pilih yang tengah.”

“Dilihat dari belakang aja udah cakep-cakep begitu ya.”

“He-eh, tatanan rambutnya cantik, bajunya cantik. Mereka mirip bidadari surga kali ya?”

“Seandainya kita punya pacar secakep mereka ya, Bro.”

“Ha ha, mimpi ajalah, Jon. Sekarang aja kita cuma berani ngeliat mereka dari kejauhan begini.”

Udin tergelak, Jono terbahak, menertawakan keinginan absurd yang tidak mungkin mewujud. Manalah ada gadis surga yang pantas bagi lelaki jelata seperti mereka. Hingga Iwan datang meredakan tawa keduanya.

“Ngetawain apa sih?”

“Mereka tuh,” jawab Udin seraya menunjuk tiga gadis.

“Yang kanan punya gue, yang tengah milik si Udin,” kata Jono sumringah. “Lo yang paling kiri berarti, Wan.”

“Ogah, buat kalian aja semuanya. Gue ngga doyan lady boy.”

“Hah?!?”

***

Note : 137 kata, maafkan ke-geje-an fiksi ini ya temans *nyengir*. Untuk Monday Flash Fiction prompt #62: Hey Girls!, sumber gambar dari sini.

PS : lady boy adalah istilah yang populer di Thailand untuk waria.

Reviewer of The Month

*Keren nggak sih judulnya? #eeaaa qiqiqiqi*

Jadi ceritanya begini temans. Saya nih memang sukkkkka sekali membaca buku. Sejak ditanya “hobi kamu apa?” saat bocah dulu, jawaban saya tetap tidak berubah sampai jadi buibu sekarang ini, yaitu: membaca. Membacanya buku fiksi tapi ya, bukan koran berisi artikel tentang berita ini itu, atau buku-buku text book yang berat-berat he he.

Dan (mungkin) karena hobi membaca ini jugalah, akhirnya saya juga menyukai menulis (fiksi). Meskipun hobi yang satu ini tentu saja tidak semudah hobi membaca ya, karena walau bagaimana pun, saya ingin menulis sesuatu yang baik, atau setidaknya enak untuk dibaca, dan itu sangat sulit bagi seseorang yang baru belajar menulis kemarin sore ini :P

Nah, idealnya, sebagai latihan menulis (walaupun bukan fiksi), saya bisa saja mengasahnya dengan membuat ulasan singkat dari buku-buku yang saya baca. Tapi menuliskan kembali kesan saya terhadap buku-buku tersebut dalam sebuah resensi atau review atau semacam itu, bukanlah hal yang mudah bagi saya. Mungkin karena saya membaca untuk hiburan ya, jadi rasanya kok ya menyebalkan kalau saya harus mengingat-ingat kelebihan dan kekurangannya (apalagi jika sekadar typo misalnya). Mengungkapkan alasan kenapa saya menyukai (atau tidak menyukai) sebuah buku pun rasanya kok gimanaaaa gitu ya *halah* :). Jadi yaa…begitulah, saya sangat jarang menulis review. Di blog ini saja, hanya ada beberapa review yang pernah saya tulis, kalau dibandingkan dengan buku yang saya baca, sepertinya baru sekitar 3%-nya saja yang saya tulis reviewnya *ups* qiqiqiqi.

Tapi ya tentu saja, ada juga saat-saat saya terpaksa menulis review, untuk ikut lomba misalnya, atau karena kadung janji pada seorang teman hihihi, meskipun karena masih belajar, saya sangat tidak pede terhadap review yang saya tulis. Maksud saya, sepertinya review saya tidak mengikuti pakem alias aturan yang seharusnya dimiliki sebuah review yang baik. Maka, saat review abal-abal saya tentang novel Everlasting beberapa waktu yang lalu, ternyata dipilih Stiletto sebagai pemenang review of the month untuk bulan Agustus, saya benar-benar tidak menyangka, meskipun detik berikutnya ya seneng pake banget dunk hahaha.

Sudah lihat bannernya di side bar sebelah kiri, ‘kan? Gimana? Lumayan keren kan ya? hihihihi. Selain banner kece tersebut, saya juga akan mendapat hadiah buku senilai 150.000 dan mug yang dihiasi si banner itu lho dari Stilleto. Asyik banget kan? Kalau punya buku-buku terbitan Stiletto Book, coba saja buat reviewnya, siapa tahu beruntung juga hehe. Tapi kabarnya sih review bulanan ini dihentikan dulu, tapi saya tidak tahu pasti sih, sila cek sendiri saja pantengin @Stiletto_Book di twitter ya :D.

Apakah ‘keberhasilan’ ini akan membuat saya lebih rajin menulis review buku? Mmmm….sepertinya sih tidak ya temans hihihihi.

Terbakar Rindu

Seandainya rindu bisa membunuh, maka aku sudah mati berkali-kali.

Aku gelisah, malam semakin menua, tapi kantuk tak kunjung datang. Setiap mataku mencoba terpejam, parasnya yang membayang membuatku semakin terjaga. Setiap kali kucoba mengosongkan pikiranku, namanya malah menghambur menyesakkan benak. Baru kutahu rindu bisa sedemikian menyiksa seorang pencinta semacam ini. Maka aku menyerah, kunyalakan saja lampu kamar, dan kembali membaca sehelai surat terakhir darinya untuk kali yang kesekian, hingga aku nyaris hapal setiap huruf hingga titik komanya. Kertasnya terlanjur kusut, tintanya nyaris pudar, tapi tetap saja, mataku bisa membacanya tanpa kesulitan.

Kepada kekasihku,

Apakah kau merindukanku seperti aku yang selalu merindukanmu? Betapa kejamnya cinta yang mencipta sebuah rasa bernama rindu, ya? Tapi tak apa, sebentar lagi aku akan segera berada di dekatmu, untuk tak lagi terpisahkan. Terkutuklah jarak yang selalu menjadi pihak ketiga dalam hubungan kita, sudah kurapal mantra untuk mengenyahkannya, karena aku -ataupun engkau- tak akan saling menjauh lagi.

Dariku yang selalu memujamu

Seperti anak kecil, aku menangis meraung. Putus asa karena rindu yang tak bisa lagi kubendung. Meratap pada kekasih hati yang bahkan kini tak bisa lagi kutemui. Kecuali, aku benar-benar mati.

Ya! Rinduku akan terbayar tuntas jika aku mati.

Nyalang, kuamati setiap sudut kamar. Sebotol racun serangga. Sebuah gunting kecil. Beberapa butir pil sakit kepala. Bertumpuk-tumpuk buku. Sekotak korek api. Baju-baju kotor. Aku berpikir cepat. Jika rindu tidak bisa benar-benar membunuh, aku harus mencari cara membuat diriku mati untuk menemuinya. Jangan salahkan aku karena terlampau merindunya seperti ini!

Kuminum semua pil itu dengan bantuan larutan si racun serangga. Susah payah, kupotong nadiku dengan gunting kecil yang rupanya terlanjur tumpul karena jarang kupakai. Tapi aku yakin, api kecil yang perlahan melahap buku-buku itulah yang akan segera membunuhku, persis mobil terbakar yang telah merenggut nyawa kekasihku.

Tak perlu lama, el maut datang menjemput, aku tersenyum bahagia melihatnya, tak lama lagi aku bisa segera menemui kekasih hatiku.

“Wahai, bisakah kau menempatkanku di surga -atau neraka- yang sama dengan kekasihku? Aku rindu padanya.”

***

Note : 321 kata, untuk prompt #61: Jarak yang Terkutuk. Sketsa milik Carolina Ratri. Fiksi yang terlalu ‘maksa’, sepertinya saya harus libur dulu nonton Criminal’s Mind hihihihi

Cake Pisang Abal-abal

*Apalah itu judulnya ya hihihihi*

Setelah tempo hari pernah menulis resep carang gesing yang dimodifikasi habis-habisan, maka bisa ditebak ya resep cake pisang abal-abal ini pun bukanlah resep sebenarnya *halah*. Maksud saya nih, sepertinya kue ini terbilang ‘berhasil’ hanya karena faktor keberuntungan saja he he.

Saya di rumah memang cuma berdua dengan ci Akang Matahari, jadi yaa seringkali terpaksa membuang makanan. Salah satunya pisang. Padahal saya sudah memilih sesisir pisang yang paling sedikit jumlahnya lho, tapi ya tetap saja, terkadang bosan dan sisa pisang yang terlalu matang akhirnya dibuang.

Setahu saya, cake pisang yang biasa saya temui di toko-toko kue itu dipanggang, dan karena saya belum punya oven, jadi tidak pernah kepikiran untuk mencoba membuatnya. Tapi kemarin itu, ada 3 buah pisang yang merana *mulai lebay*, sementara kami sudah bosan memakannya, tapi juga kok ya sayang kalau dibuang. Jadi saya pikir, nekat sajalah dibuat kue kukus.

Ternyata setelah berkonsultasi dengan mbah gugel, ada juga lho resep cake pisang kukus ini hihihihi, kudet saya :D. Tapi namapun chef abal-abal yaa, setiap resep yang saya baca, tetap saja sepertinya sulit dibuat, atau ada saja bahan yang tidak saya miliki di rumah, antara lain baking powder dan vanilla. Berhubung saya malas ke Alfamart atau ke warung hanya untuk membeli kedua bahan itu, saya nekat sajalah mencoba membuat cake ini tanpa baking powder dan vanilla, namanya juga kue abal-abal kan hihihihi. Akan saya tuliskan bahan dan cara pembuatannya, tapi resiko silakan tanggung sendiri kalau ingin coba ya :P

Nah, ini dia bahan-bahannya :

3 buah pisang, 2 butir telur, 100 gr tepung terigu, 100 gr gula pasir, 3 sendok makan mentega cair), 1 sendok teh garam, 1 sendok makan coklat bubuk, meses dan keju parut (ini mah saya aja sih yang iseng menambahkan bahan-bahan ini he he)

Cara membuat :

  • Lumatkan pisang (dengan garpu saja), tambahkan mentega cair (yang sudah dingin) dan garam. Sisihkan.
  • Kocok telur dan gula (dengan mixer, kecepatan sedang) sampai putih mengembang, kira-kira 5-7 menit.
  • Masukkan terigu-coklat bubuk dan adonan pisang sedikit demi sedikit pada adonan telur-gula, aduk rata (pakai spatula saja, tidak perlu menggunakan mixer).
  • Bagi adonan menjadi dua, masukan meses dan keju parut pada masing-masing adonan.
  • Masukkan pada loyang yang sudah diolesi mentega dan terigu, kukus sekitar 30-40 menit.

Cukup mudah kan ya? :) Ini dia penampakannya. Err…sisa-sisa kue sih sebetulnya ya, karena cuma beberapa potong, setelah dimakan untuk sarapan dan dibawa Akang Matahari sebagai cemilan ke kantor hehehe.

 

Bagian bawah itu meses warna warni yang secara iseng saya tambahkan, tidak terlalu kelihatan ya, kurang banyak sepertinya hihihihi. Yang bagian atas saya tambahkan keju parut (yang tidak terlihat juga :P), jadi rasanya lebih gurih. Meskipun tanpa baking powder dan vanilla, cake pisang abal-abal ini tetap lembut dan enak sih, menurut saya ya hehehehe.

Oh iya, takaran ternyata cukup penting dalam membuat kue ya. Kalau memasak mungkin bisalah cuma sekadar prinsip ‘kira-kira’ atau ‘secukup’nya, tapi prinsip demikian (sepertinya) tidak bisa diterapkan dalam membuat kue, kecuali bagi chef yang sudah sangat mahir kali ya, yang sudah hapal tanpa alat pengukur.

Saya punya gelas pengukur seperti berikut.

_DSC0579

Perhatikan deh, meskipun satuannya sama-sama gram, ternyata untuk gula dan tepung berbeda kan titiknya? Selain untuk gula dan tepung, di sisi lain gelas pengukur ini terdapat juga satuan untuk menakar beras (dalam gram) dan cairan (dalam cc/ml). Si gelas ukur ini sangat berguna bagi saya si chef abal-abal hehehe.

Ya sudah begitu dulu saja ya temans. Cuma berbagi kegembiraan, karena berhasil membuat cake pisang (meskipun tidak sesuai resep) untuk pertama kalinya :)