[Review] Letters to Aubrey

Judul Buku : Letters to Aubrey

Penulis: Grace Melia

Penerbit: Stiletto Book

Tebal Buku: 266 Halaman

No ISBN: 978-602-7572-27-0

Sinopsis

Congenital Rubella Syndrome merupakan kumpulan kelainan bawaan akibat virus rubella yang menginfeksi kehamilan seorang perempuan.

Melalui buku ini, penulis mengajak kita masuk dalam perjalanan yang penuh warna ketika dia membesarkan putrinya yang berkebutuhan khusus–akibat terinveksi virus rubella. Ada penolakan, kecewa, dan juga letih yang lambat laun menjadi rasa ikhlas dan optimis. Sebagai ketua komunitas Rumah Ramah Rubella, penulis juga membuka wawasan kita tentang TORCH pada umumnya dan rubella pada khususnya. Dia pun menyerukan pesan kepada orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk terus optimis karena mereka tidak berjuang sendirian.

Semua informasi, pesan, serta rasa cintanya pada sang anak dituangkan dalam bentuk kumpulan surat dengan kata-kata yang ringan dan penuh makna. Buku ini sarat akan cinta seorang ibu pada anaknya. Lewat kumpulan surat ini, penulis ingin putrinya mengerti bahwa ia dicintai dan dibanggakan sebagaimana adanya.

???????????????????????????????

Review

Membaca Letters to Aubrey merupakan sebuah anomali bagi saya. Kenapa? Karena sudah lamaaaaa sekali bacaan saya hanyalah buku-buku fiksi belaka heuheu. Tapi bagi seorang fiction freak semacam saya, buku ini tetap asyik dibaca, kumpulan surat-surat sederhana yang ditulis dengan sangat jujur oleh Ges (panggilan sayang sang penulis) untuk Aubrey Naym Kayacinta a.k.a. Ubii sang buah hati tercinta di dalamnya, sangat jauh dari kata membosankan. Meskipun waktu yang saya perlukan untuk menghabiskan buku ini cukup lama, itu semata adalah karena saya seringkali menangis dan memaksa saya berhenti membaca *pembaca cengeng* he he.

Banyak ketakutan yang mengangguku. Aku mau jadi ibu yang baik buat kamu, Sayang. Ibu yang selalu hadir, percaya, tapi tidak menghakimi. Ibu yang selalu mencintai namun tidak ketinggian berekspektasi. Ibu yang tidak mungkin bisa sempurna tapi bisa selalu mencoba untuk dekat dengan sempurna. (halaman 19)

Berisi 92 surat (satu surat terakhir adalah dari Aditya, Papinya Ubii), pembaca sudah dibuat terharu atas sebuah harapan dari seorang calon ibu di surat pertama. Tapi Ubii yang tidak langsung menangis saat lahir ke dunia rupanya hanyalah satu dari sekian banyak kekhawatiran lain yang harus dihadapi Ges.

Saat Ubii terlelap, Mami dan Papi meletuskan balon-balon itu tepat di atas telinga Ubii. Ubii sama sekali nggak bangun…. What’s wrong with you, Princesss?  (halaman 28)
Hasilnya, di otak Ubii ada bercak-bercak putih. Seharusnya bercak-bercak putih itu nggak ada karena otak anak yang sehat akan tampak bening dan bersih. (halaman 39)
Ternyata area yang memerah sebanyak 15 mm. Ketika Mami menunjukkan hasilnya pada Professor, beliau berkata, “Wah, 8 mm saja bagi saya sudah positif, Bu. Lha ini 15mm. Ini, sih, positif pakai banget.” (halaman 118)

Diawali dengan Profound Hearing Loss, USG otak hingga pelaksanaan Mantoux Test untuk mendeteksi kuman tuberkolosis, jelas sudah bahwa Ubii menderita Congenital Rubella Syndrome yang merupakan kumpulan kelainan bawaan akibat virus rubella (campak Jerman) yang dulu pernah dialami Ges saat mengandung Ubii.

Maka surat-surat berikutnya adalah bercerita bagaimana Ges dan Ubii sama-sama berjuang untuk mengatasi semua hal itu. Tidak pernah mudah tentu saja, tapi mereka tidak menyerah. Saya bisa merasakan saat Ges merasa putus asa saat tak ada perkembangan berarti pada Ubii setelah banyak fisioterapi yang sudah dilakukan, tapi kemudian saya juga bisa ikut tersenyum bahagia saat Ges bercerita dalam salah satu suratnya, bahwa Ubii terjatuh dari kasur, karena itu artinya Ubii sudah bisa bergerak sendiri.

Selalu ada yang bisa disyukuri dari setiap kejadian, pun kondisi Ubii yang seringkali mematahkan semangat Ges dan suami. Misalnya, mereka diundang menjadi salah satu nara sumber dalam acara Kick Andy yang inspiratif, hingga Ges mendirikan Rumah Ramah Rubella untuk menyebarluaskan bahaya TORCH sekaligus tempat berbagi support untuk ibu yang memiliki putra putri spesial seperti Ubii. Dan bahkan ujian yang dihadiahkan pada Ges yang masih sangat muda (Jeng penulis ini baru berusia 25 tahun sodara-sodara!) ini memang adalah berkah dari Tuhan.

Lewat Ubii, Tuhan menjawab pertanyaan besar yang dulu sering Mami ucapkan. Ubii pengin tahu apa pertanyaan Mami? DUlu Mami sering bertanya, “Why do I exist, God? For what reason?” Dengan adanya Ubii di hidup Mami, Mami tahu jawabannya, “Mommy exists simply because Ubii needs Mommy.”

And that’s all Mommy needs to know for now. Period. (halaman 221).

Apalagi dalam surat terakhir, Papinya Ubii juga ikut menuliskan surat, yang lagi-lagi membuat saya mrebes mili, karena walau bagaimanapun, seorang lelaki-suami-ayah adalah juga manusia biasa ya, yang tidak bisa selalu kuat-tegar-tangguh seperti kelihatannya.

“Andai saja Ubii nggak sakit, Papi bisa lebih konsen di kerjaan.”

“Andai saja Ubii nggak lahir…”

Maafkan Papi. Papi sendiri belum bisa memaafkan diri Papi gara-gara pernah berpikiran seperti itu. Sekuat-kuatnya Papi, Papi cuma manusia biasa yang butuh waktu buat ikhlas menerima keadaan. (halaman 264).

Nah, berencana ke toko buku dalam waktu dekat? Sila masukkan Letters to Aubrey ke dalam daftar ya, karena dengan membacanya kita seolah diingatkan kembali, bahwa setiap individu, setiap pasangan, setiap keluarga, memiliki ujiannya masing-masing. Dan tidak perlu memohon untuk ujian yang lebih ringan, karena seringkali Tuhan sudah menguatkan bahu kita terlebih dulu.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Review #LetterstoAubrey”

Ke Surga

sumber

“Bu, kenapa kita harus pergi?”

Si Ibu mendesah, menatap sepasang mata malaikat yang tengah menatapnya.

“Sungai ini terlampau dipenuhi sampah, Nak.”

“Lantas?”

“Agar sungai ini kelak tidak menjadi sumber banjir, rumah kita harus dihancurkan.”

Si Anak memandang ke arah rumah mereka di seberang, ke arah sampah yang berjejalan sesak. Lantas kembali menatap ibunya, tidak mengerti.

“Kita mau kemana, Bu?”

Jeda yang lengang.

“Kau tahu, Nak? Di surga, mengalir sungai-sungai jernih sewangi kesturi,” kata Si Ibu akhirnya.

“Benarkah?”

“Kau mau ke sana?”

Si Anak mengangguk cepat, “bagaimana caranya, Bu?”

“Sungai ini pasti bisa mengantar kita ke sungai di surga itu, Nak.”

***

Note, 100 kata, untuk Monday Flash Fiction Prompt #67: On The Riverside

CurCol Ah…

Sudah lama sekali rasanya saya tidak curcol geje di blog ini ya? hihihihi. Berhubung saya sedang super males menulis yang berat-berat, mari kita mulai curcol geje kita. Oh iya, berhubung ini adalah curcol belaka, sila diskip saja lho temans *nyengir*.

Ceritanya kemarin, seorang sahabat lama yang sudah lama sekali tidak saling bertukar kabar kembali menyapa. Sebetulnya ngga lama-lama juga sih ya, karena seingat saya perbincangan terakhir kami adalah di bulan Juni. Eh? udah lama juga ya itu? hahahaha *mbulet* :P.

Nah, saya lupa deh, sahabat saya ini (kita sebut saja ‘S’ ya biar ngga ribet :P) sudah sempat tahu atau tidak tentang Little Stories. Lagipula itu si Little Stories launchingnya udah Februari lalu kan ya, lupa juga deh saya siapa-siapa saja yang terkena imbas euforianya *halah*, yang jelas, S ini baru bertanya ini itu tentang si buku kemarin ini.

Pertanyaan pertama cukup mengagetkan, karena S bertanya, “berapa biayanya untuk menerbitkan sebuah buku?” Duh, saya bingung deh, apakah S menyangka semua buku yang berjajar rapi di toko buku itu adalah atas biaya si penulis seluruhnya? Kalau memang demikian, berarti kalau mau jadi penulis harus kaya raya dulu dong ya? hihihihi. Maka saya jelaskanlah, kalau menerbitkan dengan biaya sendiri itu kalau dengan self publishing, kalau di penerbit mayor mah ya ngga mengeluarkan uang sepeser pun, malah menerima royalti yang-tidak-seberapa-banyak-itu hihihihi. Awalnya S tidak percaya lho, bikin saya gemes wong dikasih tahu kok ngeyel sih? hedehhh.

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya sudah hampir mirip interview penyiar radio atau jurnalis media deh ya. Sampai kemudian S bilang, bahwa dia ingin sekali menerbitkan bukunya sendiri tapi tidak tahu harus bagaimana. Ya sudahlah saya jelaskan tinggal menulis yang baik, mengirimkan naskah itu ke penerbit, dan kemudian berdoa naskah itu disetujui untuk diterbitkan. Saya tanya sama S, “memangnya kamu mau nulis buku tentang apa?”

Pertanyaan saya dijawab dengan pertanyaan lain, yang membuat saya shock untuk kali ke sekian. Pertanyaan itu adalah : Little Stories buku tentang apa, Rin?

*Gubraks* *ketawa guling-guling sambil nangis ngeraung-raung* *mulai lebay*

Hahahaha…duh itu mah ya, antara kesel, marah, sama kepengen ketawa nyampur jadi satu. Jadi setelah puanjang sesi ngobrol ngalor ngidul membahas ini itu tentang penerbitan buku, rupanya S belum tahu Little Stories buku tentang apa sodara-sodara! qiqiqiqiqi. Kesian banget sih lo, Rin! *pukpuk diri sendiri* qiqiqiqi.

Tidak, saya juga tidak berharap S sudah beli, apalagi baca, apalagi suka dengan Little Stories sih. Toh bacaan memang konsumsi individu ya, yang tidak bisa dipaksakan hanya karena buku tersebut ditulis oleh seseorang yang kita kenal baik. Dan karena kita sudah lama sekali tidak bertemu, saya tidak tahu akhir-akhir ini S lagi suka baca buku tentang apa. Tapi balik lagi ke perbincangan kami yang diawali dengan antusiasme yang tinggi dari S untuk tahu lebih banyak tentang perbukuan dan seluk beluknya, rasanya akan lebih menyenangkan bagi saya, kalau pertanyaan itu diajukan pertama kali, iya ngga sih? Jadi kan saya ngga perlu kecewa dan bikin postingan curcol geje segala kayak gini, betul? hahahaha.

Ya sudah, begitu saja sih temans curcol geje kali ini, benar-benar ga jelas binti teu pararuguh kan? hihihhi.

Oh iya, by the way, sepertinya di beberapa toko buku Little Stories sudah tidak ada di display lagi karena penjualannya kurang bagus (huhuhuhu….sedih deh), jadi kalau teman-teman masih ingin memilikinya, bisa order ke TokBuk Online ya, pasti masih bisa. Atau, boleh kok order ke saya hehehe.

Display Little Stories di dekat meja kasir

Oh iya, Little Stories buku kumpulan cerpen lho ya by the way :P

#FKB2014 : Makanan Khas Kampung Wong Kito

Tahun lalu, Sumarecon Mal Bekasi menggelar sebuah acara kuliner bertajuk ‘Kampung Sampireun’ yang mengangkat beragam makanan khas Jawa Barat, tahun ini SMB kembali mengadakan Festival Kuliner Bekasi (untuk selanjutnya kita sebut #FKB2014 saja ya :) ) dengan tema berbeda. Sejak tanggal 26 September lalu, dan akan segera berakhir minggu 19 Oktober 2014, tema festival kuliner kali ini yaitu “melestarikan kekayaan kuliner nusantara dalam nuansa Bumi Sriwijaya”.  Masih ada waktu kalau mau datang, buka setiap hari dengan jadwal Senin-Jumat pukul 16.00-22.00, dan Sabtu-Minggu-Hari Libur nasional pukul 11.00-23.00 WIB.

Alhamdulillah, tanggal 11 Oktober lalu saya bisa kopdar dengan emak-emak blogger di acara ini. Selain menikmati kuliner, jadi bersilaturahim deh :).

Ada apa saja, Rin? Banyaaaak.

Yang pertama tentu saja kuliner khas Sumatera Selatan. Mau tekwan, pempek Pak Raden, mie celor, es kacang merah, Pindang Pondok Wong Palembang, you name it, hampir semuanya ada. Tidak hanya makanan khas Palembang, kuliner sumatera semacam Sate Padang Ajo Ramon, Nasi Kapau dan lain-lain bisa ditemukan di sini. Kemarin ini saya mencicipi Pempek Pak Raden, Sate Kikil, Es teller, dan Es campur jelly, lumayan kenyang dimakan berdua Akang suami heuheu.

Berbeda dengan tahun lalu yang menggunakan uang FKB sebagai alat transaksi, #FKB2014 tahun ini mengadaptasi sistem pembelian di area Food Temptation dan Bekasi Food City yaitu dengan menggunakan kartu Top Up. Alat transaksi ini memudahkan pengunjung yang datang, karena pengisian dan penggunaan kartu tidak hanya bisa dilakukan di area FKB, tapi juga di Food Temptation dan Bekasi Food City, kartu Top Up ini juga tidak memiliki batas waktu pemakaian dan dapat direfund kapan pun. Ish, bisa aja mereka, secara tidak langsung menyuruh saya datang dan makan-makan lagi itu mah namanya ya hihihhihi :P.

Kalau temans kurang suka makanan Palembang atau Sumatera, tidak perlu khawatir, karena banyak juga tersedia booth dan tenda makanan khas Jawa atau daerah-daerah lain. Toge goreng Bogor, Kerak telor betawi, Tahu Gejrot Cirebon pun ada. Selamat bingung deh pilih mau makan apa :D.

Melengkapi kemeriahan #FKB2014, hiburan khas Sumatera Selatan seperti tari Gending Sriwijaya, drama musikal Sejarah Pulau Kemaro dan lain-lain, akan ditampilkan di panggung yang dibuat seperti fasad rumah limas khas Palembang. Khusus akhir pekan, ada juga hiburan layar tancap (biasanya menampilkan film-film lama seperti Dono-Kasino-Indro itu hihihihi), juga kali ini digelar juga workshop layang-layang. Waktu saya ke sana, cukup terharu deh melihat anak-anak menerbangkan layangan di lapangan, jadi bernostalgia ke waktu kecil dulu, saat saya, adik dan Bapak juga bermain layangan di sawah depan rumah kami he he.

Nah, daripada membully orang Bekasi dengan meme-meme yang nggak jelas, mendingan main ke SMB gih buat kulineran dan seru-seruan! *tsaaaah* :).

IMG_396629013692058

Marugame Udon di Grand Indonesia

Psssttt, mulai tanggal 15 Oktober 2014 ini, Marugame Udon hadir juga di West Mall lantai 3A Grand Indonesia lho. Setelah sebelumnya mereka membuka gerai di Taman Anggrek, Gandaria City, KoKas, Sumarecon Serpong, Bintaro Jaya, Baywalk Pluit, Citra Grand Cibubur dan Artha Gading, restoran udon otentik Jepang dengan konsep Open Kitchen, Freshly Cooked dan Self Service ini bisa dinikmati di GI.

Menunya apa aja, Rin? Ya udon laaaaah *plaaak* hihihihi. Namanya pun Marugame Udon yaa, jadi mereka menyediakan 8 varian udon dan 10 jenis tempura. Berdasarkan penjelasan dari Ibu Riri Hasan sang Sales Manager, mereka juga menyajikan 4 varian nasi khusus bagi konsumen Indonesia, secara yaa, masih banyak kan yang bilang belum makan kalau belum makan nasi? hihihihi.

Kamage Udon, Kake UdonTori Baitang Udon dan Mentai Kamatama Udon konon adalah menu unggulan yang paling sering dipesan pelanggan. Kemarin ini saya coba Tori Baitang Udon, kenapa? karena ada baksonyaaaa hahahaha *penggemar bakso garis keras*. Basonya ini baso ayam, dengan soup kaldu putih yang gurih, betul-betul terasa kalau semangkuk udon ini freshly cooked, lha wong kita bisa lihat sendiri lho pembuatan udon-nya mulai dari dia masih berbentuk tepung, diuleni dan kemudian bisa menjelma mie berukuran jumbo yang kemudian disebut udon ini. Untuk tahu menu lengkap di Marugame Udon, sila klik websitenya www.marugameudon.co.id.

Tori baitang udon, brokoli tempura, ebi tempura, skewered tofu roll, dan ocha dingin

Tori baitang udon, brokoli tempura, ebi tempura, skewered tofu roll, dan ocha dingin

open kitchen, kita bisa melihat langsung proses memasak makanan yang tersaji

open kitchen, kita bisa melihat langsung proses memasak makanan yang tersaji

Sebetulnya saya ingin sekali mencicipi Zaru Udon, yaitu udon yang disajikan dingin, di Jepang sana biasanya memang menjadi makanan khas saat Natsu (musim panas) tiba. Lah, di Jakarta kan panas terus, yes? Tapi ya gimanaaa gitu, kok rasanya masih aneh membayangkan mie berkuah dingin, imajinasi saya terlalu liar membayangkan Ind*mie rebus berada dalam satu mangkuk yang sama dengan es campur hihihihi. Mudah-mudahan saya bisa punya keberanian untuk mencicipi udon dingin ini di kesempatan berikutnya.

Sebagai sidedish yang cocok untuk udon, ada berbagai tempura yang crunchy kriuk-kriuk masih hangat. Bahkan menurut Ibu Riri, tempura yang sudah berada di display akan segera dibuang untuk kemudian diganti dengan yang baru jika lebih dari 12 menit tidak ada yang mengambil. Jadi tempura yang kita pilih pasti masih hangat. Ada tempura yang unik, yaitu Chicken Chili Tempura, jadi cabai hijau besar, yang diisi dengan daging ayam. Kepengen nyicip juga, tapi kok khawatir pedes dan agak-agak serem karena ukurannya lumayan guede sodara-sodara :D.

Ada meja kondimen yang khusus disediakan di setiap Marugame Udon, yang berisi beragam pelengkap makanan untuk konsumen, seperti irisan cabai rawit, irisan daun bawang, wijen, jahe dan yang paling spesial yaitu tenkatsu atau remah-remah tempura yang crunchy. Di setiap meja sudah disediakan juga tempura sauce  dan bubuk cabai, jadi bagi para pecinta pedas, jangan khawatir deh ya, kalau bubuk cabe kurang nampol, tinggal ambil  irisan rawit di kondimen he he.

Buat saya, porsi udonnya cukup besar, jadi sudah sangat mengenyangkan, hampir menyerah dengan tidak memakan si tempura yang padahal kelihatannya enak-enak banget itu. Untungnya, ngerumpi ngobrol ngalor ngidul bersama sahabat a.k.a emak-emak blogger memang memerlukan energi tambahan, jadi yaa…habis juga sih si tempura ituh qiqiqiqi.

Sama Teh Ani Berta dan Neng Una. (fotonya juga punya Una nih, saya culik hihihi)

Sama Teh Ani Berta dan Neng Una. (fotonya juga punya Una nih, saya culik hihihi)

Harganya sangat sangat sangat terjangkau kok, untuk menu udon dan nasi berkisar antara 33.000-50.000 (untuk Kamage Udon yang paket family 85.000), sementara untuk tempura harganya mulai dari 7.000-14.000 saja per piece-nya. So, kalau main-main ke GI, jangan lupa mampir di Marugame Udon ya, siapa tahu setelah makan di sana kita bisa makan udon di Jepang beneran, kan? hihihihi. Aamiin.

Officially 33

Iyaa…hari minggu kemarin, saya resmi berusia 33 tahun, temans. Sudah banyak ya umur saya? hihihihi.

Alhamdulillah, banyaknya ucapan dan doa teman-teman baik di kehidupan nyata ataupun dunia maya, menyemarakkan hari lahir tersebut. Ada yang sudah mengucapkan sejak hari Sabtu, bahkan hingga postingan ini dibuat pun, ucapan (dan doa, semoga) masih mengalir. Terima kasih ya :)

Merasa tua? Bohong kalau saya bilang nggak ya hahaha. Yang jelas saya tidak merasa malu untuk mengatakan saya sudah sampai di usia ini, tidak akan menutup-nutupi, atau berbohong perihal sang usia atau semacamnya. Kalau ada yang masih menganggap saya 27 yaa…saya bisa apa, kan? *kabur sebelum dilempar sendal* :D.

Kekhawatiran saya yang paling utama dari usia (yang sudah banyak) ini adalah karena saya belum juga diberi amanah untuk memiliki keturunan. Iya, saya mengerti teknologi medis sudah sedemikian canggih untuk memungkinkan seorang wanita bisa hamil -dan kemudian melahirkan- di usia-usia yang sebelumnya dianggap berbahaya. Bahkan kalau Tuhan sudah berkehendak, apapun bisa terjadi. Tapi ya begitulah, namapun manusia yaa, adaaa aja yang hal-hal yang dipikir secara berlebihan dan pada akhirnya memang lebay hihihihi.

Kebiasaan saya saat berulang tahun adalah mengevaluasi hidup saya setahun terakhir, dan apa rencana-rencana saya untuk dilakukan di sisa usia yang entah sampai kapan ini. Akan sangat membosankan jika harus saya tuliskan di sini lah ya, toh evaluasi dan rencana itu juga memang hanya saya pikirkan di kepala, atau hanya saya curhatkan pada Sang Maha Segala saat saya berduaan denganNya, yang jelas saya berharap saya sudah menjadi manusia baik yang membaikkan dan akan tetap demikian. Aamiin.

Oh iya, kemarin saya menerima kejutan, dibuatkan kue berfondant cantik dan juga tumpeng lho, kebetulan satu orang teman saya juga berulang tahun di tanggal sama hohoho. Terima kasih untuk Pak Mario dan Ibu Linna, dan teman-teman Super Crew yaa.

Bonekanya lucu pisan yaa...sampe ngga tega saya motongnya hihihihi

Bonekanya lucu pisan yaa…sampe ngga tega saya motongnya hihihihi

10256527_10204076433982718_5928274561586786903_o

Ya sudah, begitu saja catatan hari lahir kali ini. Apa? Kado dari Akang Matahari? Ah, kesediaannya menjadi suami saya dan berkomitmen untuk menua bersama rasanya sudah menjadi hadiah terindah *tsaaaah* hihihi.

Well, happy day, Pals ;)