Bukan Cinta Biasa

“Apa? Kamu mecintainya? Apakah aku tidak salah dengar, Gus?”

“Bukankah cinta tak pernah salah?”

“Mungkin saja.”

“Lantas?”

“Tapi cintamu kali ini gila, Gus. Terlampau gila untuk seorang edan macam kamu sekalipun!”

Aku geming, menunduk menatap lantai di bawah kakiku yang gemetar keriput. Enggan menatap Pras yang tengah melotot, kedua matanya seolah hendak menyantapku sekali telan. Aku tidak bisa mengerti kenapa dia bisa semarah itu. Bukankah dirinya pun pernah jatuh cinta? Berkali-kali, bahkan. Lantas, apa salahnya jika aku jatuh cinta lagi kali ini?

“Sudahlah, lupakan saja dia. Masih ada Magda yang selalu mencuri pandang padamu saat kita makan.”

“Blah! Nenek tua mirip kuda nil itu? Tak sudi aku.”

“Atau si Nora? Kau tahu? Kemarin dulu dia bilang padaku kau mirip sekali dengan lelaki pacar pertamanya berpuluh tahun lalu.”

Aku menggeleng mantap. Nora bukan perempuan tipeku. Lagipula apa maksudnya menyamakanku dengan pacar petamanya begitu? Cih!

“Bagaimana kalau Wulan, Gus? Dia anggun sekali, kan? Mantan pemain film terkenal lho dia.”

Lagi, aku menggeleng.

“Kamu pasti menyukai Ibu Lena, Gus! Dan kalau kau jadi kekasihnya, bisa jadi kamu tidak perlu membayar hingga kamu mati di sini nanti.”

Aku mendelik tidak suka. Memangnya aku tidak mampu bayar sampai harus pacaran dengan pemilik panti segala?

“Percuma saja, Pras. Aku hanya mencintainya. Titik.”

“Tapi, Gus…”

“Sebentar lagi dia datang, Pras. Tidak mungkin setiap hari dia datang menemuiku jika tidak mencintaiku, bukan?”

Pras menggebrak meja lantas berdiri, “tambah tua tambah gila kamu, Gus!” katanya seraya melangkah pergi dengan marah.

Kuabaikan Pras yang masih saja meracau memakiku dengan kalimat-kalimat entah apa. Dia sudah datang. Gaun biru laut dengan bunga-bunga putih yang dikenakannya sore ini membuatnya semakin terlihat cantik. Senyum matahari paginya menghangatkan hatiku, membuatku sanggup segera berdiri untuk menyambutnya meskipun kaki gemetarku riuh mengutuk keinginanku. Cinta rupanya bisa membuatku melakukan hal-hal yang kupikir tak bisa lagi aku lakukan.

“Kakeeeeeeek, aku bawakan coklat kesukaan kakek,” ujarnya seraya memelukku.

“Terima kasih, Cu,” jawabku seraya balik memeluknya. Ingin sekali kucium bibir mungilnya yang merah merekah, tapi mungkin itu bisa membuatnya berhenti menemuiku lagi. Maka kukecup saja keningnya, aku bisa melakukan ciuman itu dalam mimpi nanti malam. Sore ini aku hanya akan menggenggam tangannya, membiarkannya menggelayuti lenganku manja, kemudian mendengarkan cerita-ceritanya, lantas mengelus rambut lembutnya. Seraya berharap gadis kecil di depanku ini bisa benar-benar jadi kekasihku.

Ah, sepertinya Pras memang benar. Aku sudah terlampau gila.

***

Note : 383 kata, untuk Monday Flash Fiction Prompt #68: Judul Lagu

Dikembangkan dari Fiksi mini Na Fatwaningrum : BUKAN CINTA BIASA. Hari ini, dia terlihat sangat cantik dengan baju bunga-bunga dan senyum di wajahnya. Hatiku berdesir hebat. “Kek, mau coklat dong,” katanya sambil menggelayut manja.

Sumpah Pemuda dan Ulang Tahun ELC ke-40

Hari ini tanggal 28 Oktober ya, Hari Sumpah Pemuda yang sangat fenomenal. Lantas, apa hubungannya dengan Ulang Tahun ELC (Early Learning Center) ke-40, Rin? Begini ceritanya temans.

Didirikan tahun 1974 oleh John Beale dan istrinya di Reading-UK sana, yang saat itu ingin memberikan anaknya jenis mainan yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga bisa membantu perkembangan anak, ELC hadir, dan sejak saat itu terus bertumbuh hingga sekarang sudah 40 tahun berdiri, memiliki 400 toko yang berlokasi di lebih dari 40 negara di seluruh dunia. Canggih ya. Di Indonesia sendiri, sudah ada 29 toko yang tersebar di 6 kota besar Indonesia sejak 2008 lalu, bahkan rencananya, di tahun 2025 ELC akan memiliki 150 toko di kota-kota seperti Manado, Palembang, atau Solo.

Eh? Serius belum tahu ELC? Rasanya kalau buibu (dan bapak-bapaknya tentu saja :P) pasti sudah tahu ELC ya, secara mereka kan produsen mainan unik yang membantu anak-anak bermain sambil belajar sesuai usia. Hampir di setiap mall besar ELC memiliki outlet, misalnya saja di Grand Indonesia. Nah, di GI inilah Hari Sumpah Pemuda dan Perayaan Ulang Tahun ELC yang ke-40 ini ‘berkolaborasi’ hehehehe.

Jadi, tanggal 1 November 2014 nanti, dalam rangka ulang tahun tersebut, ELC akan mengundang 40 orang anak yang lahir di tanggal 28 Oktober untuk hadir di ELC Grand Indonesia untuk merayakan ulang tahun bersama-sama. Asyik banget ya, karena pasti meriah, bahkan sudah disiapkan juga face painting dan area bermain dengan beragam koleksi mainan khas ELC di sana nanti.

Beberapa waktu lalu, saya hadir dalam acara Media & Blogger Gathering #ELCis40 yang bertempat di The Plaza. Menghadirkan narasumber Dr. Markus Danusantoso, SpA yang juga mengelola website www.drbabyku.com, sebuah situs yang lengkap dengan informasi tentang dunia anak, saya banyak belajar. Pak Dokter menjelaskan, bahwa mainan yang tepat sangat membantu tumbuh kembang seorang anak, menambah pengalaman dasar di usia dini, hingga meningkatkan kecerdasan otaknya.

Rupanya ELC mencoba menjawab tantangan tersebut, yaitu dengan menciptakan berbagai jenis mainan yang tidak melulu sebagai mainan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi si anak tanpa disadarinya. Misalnya saja mainan stacking rings yang diperuntukkan bagi bayi yang berusia lebih dari 6 bulan, mainan ini selain bisa melatih jari tangan dan konsentrasi bayi, juga sebagai ajang mengenal warna, karena si bayi yang masih kecil itupun sudah bisa menyimpan memori dengan baik. Atau Happyland, yang merupakan mainan berbentuk rumah-rumahan lengkap dengan perabotan dan orang-orangan, bisa mengenalkan anak pada konsep ruang (atas/bawah, sudut/tengah, masuk/keluar), bahkan mendorong mereka untuk berimajinasi dan bercerita.

Melihat mainan-mainan ini, saya jadi mainan zaman kecil dulu, susah ngebandinginnya ya karena nggak apple to apple, lah saya malah lebih sering main layangan sama main kelereng kok sama adik cowok saya hahahaha. Tapi banyaknya pilihan bermain dan belajar di zaman sekarang ini pastinya sangat membantu para orang tua untuk meningkatkan tumbuh kembang anak kan ya. Kenapa? Karena ELC menerapkan 4 core benefit  pada setiap produknya sebagai berikut:

1. Play value, atau nilai bermain, dimana setiap produk ELC selalu menyenangkan dan mendorong anak untuk belajar sambil bermain. Namapun mainan ya, kalau tidak menarik untuk dimainkan ya gagal dong tujuannya he he.

2. Safety, bahwa setiap mainan selalu diuji secara komprehensif baik oleh internal ELC sendiri, maupun oleh laboratorium indepened sebelum dipasarkan secara luas. Standardnya bukan hanya SNI ya, tapi sudah melampaui uji keamanan di Inggris dan Eropa, mencakup fisik, mekanik, ketahanan terhadap api, bahan kimia yang digunakan, dan lain sebagainya. Keamanan ini penting banget lah ya, karena yang akan menggunakannya adalah anak-anak (bahkan bayi).

3. Quality, ELC selalu menggunakan material (plastik, kain dan kayu) dengan kualitas terbaik, serta memastikan produk tersebut memiliki spesifikasi yang tepat bagi anak yang akan memainkannya. Seperti orangtua manapun, ELC ingin memberikan kualitas mainan yang terbaik.

4. Value for money, kalau bahasa kitanya mah ‘ada harga ada rupa’ kali yaa hihihihi. Bahwa ELC menawarkan harga yang terbaik bagi pelanggan dengan gabungan semua core benefit-nya itu. Sudah sewajarnya demikian, bukan? :)

beberapa merk internasional lainyang dibawa oleh ELC

beberapa merk internasional lainyang dibawa oleh ELC

Nah, untuk meneruskan semangat Sumpah Pemuda tahun 1928 lalu hingga tahun-tahun mendatang untuk Indonesia yang lebih baik, mungkin bisa dimulai dengan memilih mainan terbaik bagi anak-anak kita, ya? *tsaaaah*. Mudah-mudahan saja, dengan tumbuh kembang yang baik melalui mainan yang baik, anak-anak ini kelak akan menjadi generasi penerus yang cerdas dan kreatif.

Oh iya, selamat ulang tahun ke-40 untuk ELC ya, boleh tidak Giant Edwardnya dikirim ke rumah saya satu? hahahahaha *minta dikeplak*. Dan selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda, mari berkarya untuk Indonesia tercinta *uhuk* :)).

Boneka Edward ini bulusnya lembut banget, aman bahkan bagi bayi berusia 0 bulan

Boneka Edward ini bulunya lembut banget, aman bahkan bagi bayi berusia 0 bulan

Ayu-Mia-Icoel-Oline-Ririn-Saya-Echa (emak2 KEB) dan para krucils :)

Ayu-Mia-Icoel-Oline-Ririn-Saya-Echa (emak2 KEB) dan para krucils :)

Kenapa Jadi Blogger?

Jawabannya adalah: Kenapa tidak?

*halah*

Hihihihihi.

Rupanya tanggal 27 Oktober adalah Hari Blogger Nasional, dan saya merasa terpanggil untuk juga ikut memposting sesuatu di blog yang usianya -ternyata- sudah berusia 4 tahun ini. Postingan pertama Februari 2010 lho, sudah cukup lama saya menjadi blogger rupanya, meskipun sepertinya yaa tetap begini-begini saja ya, jarang menang lomba ngeblog (karena jarang ikutan juga sih :P), jarang ikutan acara-acara blogger (kecuali kopdar-kopdar hore :P), jarang menulis postingan berbayar (ini modus bukan sih? ha ha :P), dan bahkan sekarang sudah jarang sekali blogwalking (ngumpet hihihi :P). Kalau saja Blogger punya undang-undang khusus, mungkin saya sudah masuk daftar hitam dan bisa-bisa terkena sanksi sebagai seorang blogger yang kurang baik *nyengir*.

Tapi…tapi….memangnya apa definisi dari ‘blogger yang baik’ itu? Yang posting tiap hari kah? Yang rajin BW? Yang sangat lihai menulis review produk? Yang eksis di berbagai komunitas blogger? Yang bagaimana? Walaupun sebetulnya labelling dan pengkastaan *halah, istilahnya, Rin! :P* dari definisi semacam itu juga rasanya kok ya tidak penting ya. Blogger ya orang yang punya (dan menulis) di blog. Sudah. Begitu saja. Iya, kan? Setidaknya bagi saya sih begitu ya heuheu.

Setelah saya ingat-ingat kembali, kenapa 4 tahun lalu itu saya akhirnya nekat membuat blog dan lumayan rajin (?) mengisinya, adalah hanya karena saya suka menulis. Iya. Saya ngeblog karena saya suka menulis. Sesederhana itu. Period.

Awalnya, saya hanya menulis untuk saya sendiri. Sampai kemudian seorang sahabat saya (halo Yust Tamaro, where have you been?) yang secara tidak sengaja membaca tulisan-tulisan saya, bertanya pada saya kenapa saya tidak menulis di blog saja? Dari dia juga saya belajar dari nol bagaimana ‘menciptakan’ sebuah blog yang Alhamdulillah masih bertahan hingga detik ini, dan semoga tetap bisa hidup setidaknya selama saya hidup.

Kalau teman-teman membaca halaman profile si ‘Neng Orin tea..’ itu, teman-teman akan sedikit paham bahwa saya cenderung pendiam alias tidak pintar bicara, itulah (mungkin) kenapa saya jadi lebih suka menulis, dan kemudian menulis sudah menjadi semacam kebutuhan bagi saya, meskipun aktivitas itu tidak melulu dalam bentuk ngeblog ya. Intinya sih, saya akan menerima dengan hati lapang jika saya belum memenuhi standard yang berlaku untuk dianggap sebagai seorang blogger, karena saya hanya suka (dan ingin) menulis. Itu saja.

Dan ya, dalam blog ini postingan paling banyak adalah di kategori ‘fiksi’, sepertinya bisa dijadikan semacam indikator ya, kalau niat awal dan tujuan saya ngeblog ini memang melulu soal menulis (fiksi) hehehehe.

Well, selamat Hari Blogger Nasional bagi temans yang merayakannya :)

Ditulis khusus untuk memeriahkan Hari Blogger Nasional bersama angingmammiri.org

Mie Aceh Buzz

Adakah yang suka hunting kuliner baru saat berakhir pekan bersama keluarga? Cobain Mie Aceh Buzz deh, pasti deudeuieun kalau kata orang Sunda mah, alias mau lagi mau lagi hihihihi.

Jadi ceritanya, wiken lalu, saya diajak Yeye untuk mencicipi Mie Aceh Buzz di salah satu gerainya yang berlokasi di area Foodwalk Mega Bekasi. Dan ternyata, banyak juga blogger yang datang, asyik deh kalau kopdar ada sponsornya begitu ya *ups* hihihihi. Jadi dengan senang hati berangkat deh sama Akang Matahari ke Mega Bekasi, tadinya sih mau nonton dulu, tapi berhubung sudah jam 1 ya sudah langsung ke tekape ajah, nggak sabar juga ingin mencicip Mie Aceh yang konon katanya memiliki cita rasa otentik.

Waktu saya datang, sudah ada Yeye (tentu saja :P), Yani, Mia, Ayu, dan Mumut. Tak lama datang Dani yang rupanya tidak mengenali saya (hahahaha :P), lantas Pungki dan Desi yang rupanya sama-sama orang Bekasi hehehe. Beberapa di antara mereka baru kali ini saya kenal, tapi namapun blogger ya, bisa langsung nyambung-nyambung aja ngobrol, meskipun tetep ya, saya sepertinya yang paling pendiam dan pemalu *ngumpet di bawah meja* hihihhi. Semuanya datang bersama pasangan masing-masing dan para krucil, jadi kebayang dong ya ramenya itu meja di depan gerai Mie Aceh Buzz, semoga pengunjung lain yang merasa terganggu diberi hati yang lapang untuk menerima kehebohan tersebut hihihihi.

Santapan yang pertama kami cicip adalah martabaknya, dengan kuah kari yang gurih, enak banget lho ternyata. Biasanya saya tidak terlalu suka makanan setipe kari-karian begitu, tapi kemarin si martabak itu saya habis 3 potong sih hahahaha. Ada juga roti cane dengan topping coklat-keju-susu, saking enaknya, saya bungkus juga buat dimakan di rumah he he. Santapan berikutnya nasi goreng Aceh, ini terpaksa saya skip, karena saya dan AM brunch jam 10 pagi, jadi kalo jam 1 udah makan nasi lagi kok ya gimanaaaa gitu ya, meski pun tetep weeeeh makan Mie Acehnya sampai kandas :P.

Mie Acehnya memang enak, berbeda dengan mie aceh-mie aceh sebelumnya yang pernah saya cicipi. Lain kali sepertinya saya harus coba mie rebusnya nih, penasaraaaan. Rasanya spicy-spicy enak *halah*, lumayan pedes buat lidah saya, padahal saya doyan pedes juga, tapi entah kenapa kepedasan Mie Aceh Buzz terasa berbeda, sampai harus dibantu minum terus dan wajah saya memerah dengan sukses hihihi. Mungkin, rempah-rempah yang otentik khas Aceh belum berkenalan baik dengan lidah saya yang terlampau sunda ini ya :D. Untungnya, tidak lama ada Teh Tarik juga yang manis, jadi bisa menetralisir kepedasan mie goreng.

 Saya sedikit bertanya pada Baskoro, sang pemilik Mie Aceh Buzz yang hari itu juga ikut sibuk menemani kami menikmati hidangan. Dan sejarah dibalik berdirinya Mie Aceh Buzz -menurut saya- sangatlah heroic. Kenapa? Begini ceritanya temans. Sebelumnya, Bas membuka restoran Mie Aceh bersama teman-temannya di Bandung. Tapi karena satu dan lain hal, Bas memilih keluar dan merelakan sejumlah modal yang dia investasikan untuk gerai Mie Aceh tersebut. Kemudian pada suatu hari yang biasa-biasa saja (deuh, mulai lebay qiqiqiqi), salah satu koki di sana yang sudah dikenal baik oleh Bas, meminta pekerjaan pada Bas. Jadilah Bas mendirikan lagi warung Mie Aceh dengan benderanya sendiri demi membantu sang chef yang adalah temannya tadi memiliki pekerjaan. Dan sekarang, Mie Aceh Buzz sudah punya 3 lokasi, selain di Foodwalk Mega Bekasi, ada juga di Bekasi Square dan BCP, berawal dari sekadar membantu teman. Canggih banget kan itu? *mupeng* hehehehe.

Ya sudah begitu saja temans, kalau main-main ke Bekasi, mampirlah ke Mie Aceh Buzz, dijamin halal, enak mengenyangkan, dan masih bisa dikunjungi saat tanggal tua macam begini (nggak mahal maksutnyah ya hihihihi). Dengan konsep open kitchen, kita bisa melihat langsung proses pembuatan setiap pesanan, bahkan mie-nya pun bikin sendiri lho, fresh dibuat setiap harinya. Dan kalau perlu teman, boleh kok ajak-ajak saya makan di sana #eaaa hahahaha.

[Review] Letters to Aubrey

Judul Buku : Letters to Aubrey

Penulis: Grace Melia

Penerbit: Stiletto Book

Tebal Buku: 266 Halaman

No ISBN: 978-602-7572-27-0

Sinopsis

Congenital Rubella Syndrome merupakan kumpulan kelainan bawaan akibat virus rubella yang menginfeksi kehamilan seorang perempuan.

Melalui buku ini, penulis mengajak kita masuk dalam perjalanan yang penuh warna ketika dia membesarkan putrinya yang berkebutuhan khusus–akibat terinveksi virus rubella. Ada penolakan, kecewa, dan juga letih yang lambat laun menjadi rasa ikhlas dan optimis. Sebagai ketua komunitas Rumah Ramah Rubella, penulis juga membuka wawasan kita tentang TORCH pada umumnya dan rubella pada khususnya. Dia pun menyerukan pesan kepada orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus untuk terus optimis karena mereka tidak berjuang sendirian.

Semua informasi, pesan, serta rasa cintanya pada sang anak dituangkan dalam bentuk kumpulan surat dengan kata-kata yang ringan dan penuh makna. Buku ini sarat akan cinta seorang ibu pada anaknya. Lewat kumpulan surat ini, penulis ingin putrinya mengerti bahwa ia dicintai dan dibanggakan sebagaimana adanya.

???????????????????????????????

Review

Membaca Letters to Aubrey merupakan sebuah anomali bagi saya. Kenapa? Karena sudah lamaaaaa sekali bacaan saya hanyalah buku-buku fiksi belaka heuheu. Tapi bagi seorang fiction freak semacam saya, buku ini tetap asyik dibaca, kumpulan surat-surat sederhana yang ditulis dengan sangat jujur oleh Ges (panggilan sayang sang penulis) untuk Aubrey Naym Kayacinta a.k.a. Ubii sang buah hati tercinta di dalamnya, sangat jauh dari kata membosankan. Meskipun waktu yang saya perlukan untuk menghabiskan buku ini cukup lama, itu semata adalah karena saya seringkali menangis dan memaksa saya berhenti membaca *pembaca cengeng* he he.

Banyak ketakutan yang mengangguku. Aku mau jadi ibu yang baik buat kamu, Sayang. Ibu yang selalu hadir, percaya, tapi tidak menghakimi. Ibu yang selalu mencintai namun tidak ketinggian berekspektasi. Ibu yang tidak mungkin bisa sempurna tapi bisa selalu mencoba untuk dekat dengan sempurna. (halaman 19)

Berisi 92 surat (satu surat terakhir adalah dari Aditya, Papinya Ubii), pembaca sudah dibuat terharu atas sebuah harapan dari seorang calon ibu di surat pertama. Tapi Ubii yang tidak langsung menangis saat lahir ke dunia rupanya hanyalah satu dari sekian banyak kekhawatiran lain yang harus dihadapi Ges.

Saat Ubii terlelap, Mami dan Papi meletuskan balon-balon itu tepat di atas telinga Ubii. Ubii sama sekali nggak bangun…. What’s wrong with you, Princesss?  (halaman 28)
Hasilnya, di otak Ubii ada bercak-bercak putih. Seharusnya bercak-bercak putih itu nggak ada karena otak anak yang sehat akan tampak bening dan bersih. (halaman 39)
Ternyata area yang memerah sebanyak 15 mm. Ketika Mami menunjukkan hasilnya pada Professor, beliau berkata, “Wah, 8 mm saja bagi saya sudah positif, Bu. Lha ini 15mm. Ini, sih, positif pakai banget.” (halaman 118)

Diawali dengan Profound Hearing Loss, USG otak hingga pelaksanaan Mantoux Test untuk mendeteksi kuman tuberkolosis, jelas sudah bahwa Ubii menderita Congenital Rubella Syndrome yang merupakan kumpulan kelainan bawaan akibat virus rubella (campak Jerman) yang dulu pernah dialami Ges saat mengandung Ubii.

Maka surat-surat berikutnya adalah bercerita bagaimana Ges dan Ubii sama-sama berjuang untuk mengatasi semua hal itu. Tidak pernah mudah tentu saja, tapi mereka tidak menyerah. Saya bisa merasakan saat Ges merasa putus asa saat tak ada perkembangan berarti pada Ubii setelah banyak fisioterapi yang sudah dilakukan, tapi kemudian saya juga bisa ikut tersenyum bahagia saat Ges bercerita dalam salah satu suratnya, bahwa Ubii terjatuh dari kasur, karena itu artinya Ubii sudah bisa bergerak sendiri.

Selalu ada yang bisa disyukuri dari setiap kejadian, pun kondisi Ubii yang seringkali mematahkan semangat Ges dan suami. Misalnya, mereka diundang menjadi salah satu nara sumber dalam acara Kick Andy yang inspiratif, hingga Ges mendirikan Rumah Ramah Rubella untuk menyebarluaskan bahaya TORCH sekaligus tempat berbagi support untuk ibu yang memiliki putra putri spesial seperti Ubii. Dan bahkan ujian yang dihadiahkan pada Ges yang masih sangat muda (Jeng penulis ini baru berusia 25 tahun sodara-sodara!) ini memang adalah berkah dari Tuhan.

Lewat Ubii, Tuhan menjawab pertanyaan besar yang dulu sering Mami ucapkan. Ubii pengin tahu apa pertanyaan Mami? DUlu Mami sering bertanya, “Why do I exist, God? For what reason?” Dengan adanya Ubii di hidup Mami, Mami tahu jawabannya, “Mommy exists simply because Ubii needs Mommy.”

And that’s all Mommy needs to know for now. Period. (halaman 221).

Apalagi dalam surat terakhir, Papinya Ubii juga ikut menuliskan surat, yang lagi-lagi membuat saya mrebes mili, karena walau bagaimanapun, seorang lelaki-suami-ayah adalah juga manusia biasa ya, yang tidak bisa selalu kuat-tegar-tangguh seperti kelihatannya.

“Andai saja Ubii nggak sakit, Papi bisa lebih konsen di kerjaan.”

“Andai saja Ubii nggak lahir…”

Maafkan Papi. Papi sendiri belum bisa memaafkan diri Papi gara-gara pernah berpikiran seperti itu. Sekuat-kuatnya Papi, Papi cuma manusia biasa yang butuh waktu buat ikhlas menerima keadaan. (halaman 264).

Nah, berencana ke toko buku dalam waktu dekat? Sila masukkan Letters to Aubrey ke dalam daftar ya, karena dengan membacanya kita seolah diingatkan kembali, bahwa setiap individu, setiap pasangan, setiap keluarga, memiliki ujiannya masing-masing. Dan tidak perlu memohon untuk ujian yang lebih ringan, karena seringkali Tuhan sudah menguatkan bahu kita terlebih dulu.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Review #LetterstoAubrey”

Ke Surga

sumber

“Bu, kenapa kita harus pergi?”

Si Ibu mendesah, menatap sepasang mata malaikat yang tengah menatapnya.

“Sungai ini terlampau dipenuhi sampah, Nak.”

“Lantas?”

“Agar sungai ini kelak tidak menjadi sumber banjir, rumah kita harus dihancurkan.”

Si Anak memandang ke arah rumah mereka di seberang, ke arah sampah yang berjejalan sesak. Lantas kembali menatap ibunya, tidak mengerti.

“Kita mau kemana, Bu?”

Jeda yang lengang.

“Kau tahu, Nak? Di surga, mengalir sungai-sungai jernih sewangi kesturi,” kata Si Ibu akhirnya.

“Benarkah?”

“Kau mau ke sana?”

Si Anak mengangguk cepat, “bagaimana caranya, Bu?”

“Sungai ini pasti bisa mengantar kita ke sungai di surga itu, Nak.”

***

Note, 100 kata, untuk Monday Flash Fiction Prompt #67: On The Riverside

CurCol Ah…

Sudah lama sekali rasanya saya tidak curcol geje di blog ini ya? hihihihi. Berhubung saya sedang super males menulis yang berat-berat, mari kita mulai curcol geje kita. Oh iya, berhubung ini adalah curcol belaka, sila diskip saja lho temans *nyengir*.

Ceritanya kemarin, seorang sahabat lama yang sudah lama sekali tidak saling bertukar kabar kembali menyapa. Sebetulnya ngga lama-lama juga sih ya, karena seingat saya perbincangan terakhir kami adalah di bulan Juni. Eh? udah lama juga ya itu? hahahaha *mbulet* :P.

Nah, saya lupa deh, sahabat saya ini (kita sebut saja ‘S’ ya biar ngga ribet :P) sudah sempat tahu atau tidak tentang Little Stories. Lagipula itu si Little Stories launchingnya udah Februari lalu kan ya, lupa juga deh saya siapa-siapa saja yang terkena imbas euforianya *halah*, yang jelas, S ini baru bertanya ini itu tentang si buku kemarin ini.

Pertanyaan pertama cukup mengagetkan, karena S bertanya, “berapa biayanya untuk menerbitkan sebuah buku?” Duh, saya bingung deh, apakah S menyangka semua buku yang berjajar rapi di toko buku itu adalah atas biaya si penulis seluruhnya? Kalau memang demikian, berarti kalau mau jadi penulis harus kaya raya dulu dong ya? hihihihi. Maka saya jelaskanlah, kalau menerbitkan dengan biaya sendiri itu kalau dengan self publishing, kalau di penerbit mayor mah ya ngga mengeluarkan uang sepeser pun, malah menerima royalti yang-tidak-seberapa-banyak-itu hihihihi. Awalnya S tidak percaya lho, bikin saya gemes wong dikasih tahu kok ngeyel sih? hedehhh.

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya sudah hampir mirip interview penyiar radio atau jurnalis media deh ya. Sampai kemudian S bilang, bahwa dia ingin sekali menerbitkan bukunya sendiri tapi tidak tahu harus bagaimana. Ya sudahlah saya jelaskan tinggal menulis yang baik, mengirimkan naskah itu ke penerbit, dan kemudian berdoa naskah itu disetujui untuk diterbitkan. Saya tanya sama S, “memangnya kamu mau nulis buku tentang apa?”

Pertanyaan saya dijawab dengan pertanyaan lain, yang membuat saya shock untuk kali ke sekian. Pertanyaan itu adalah : Little Stories buku tentang apa, Rin?

*Gubraks* *ketawa guling-guling sambil nangis ngeraung-raung* *mulai lebay*

Hahahaha…duh itu mah ya, antara kesel, marah, sama kepengen ketawa nyampur jadi satu. Jadi setelah puanjang sesi ngobrol ngalor ngidul membahas ini itu tentang penerbitan buku, rupanya S belum tahu Little Stories buku tentang apa sodara-sodara! qiqiqiqiqi. Kesian banget sih lo, Rin! *pukpuk diri sendiri* qiqiqiqi.

Tidak, saya juga tidak berharap S sudah beli, apalagi baca, apalagi suka dengan Little Stories sih. Toh bacaan memang konsumsi individu ya, yang tidak bisa dipaksakan hanya karena buku tersebut ditulis oleh seseorang yang kita kenal baik. Dan karena kita sudah lama sekali tidak bertemu, saya tidak tahu akhir-akhir ini S lagi suka baca buku tentang apa. Tapi balik lagi ke perbincangan kami yang diawali dengan antusiasme yang tinggi dari S untuk tahu lebih banyak tentang perbukuan dan seluk beluknya, rasanya akan lebih menyenangkan bagi saya, kalau pertanyaan itu diajukan pertama kali, iya ngga sih? Jadi kan saya ngga perlu kecewa dan bikin postingan curcol geje segala kayak gini, betul? hahahaha.

Ya sudah, begitu saja sih temans curcol geje kali ini, benar-benar ga jelas binti teu pararuguh kan? hihihhi.

Oh iya, by the way, sepertinya di beberapa toko buku Little Stories sudah tidak ada di display lagi karena penjualannya kurang bagus (huhuhuhu….sedih deh), jadi kalau teman-teman masih ingin memilikinya, bisa order ke TokBuk Online ya, pasti masih bisa. Atau, boleh kok order ke saya hehehe.

Display Little Stories di dekat meja kasir

Oh iya, Little Stories buku kumpulan cerpen lho ya by the way :P